“JAGA wudhu” merupakan salah satu pesan Fadhil Rahmi, anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) asal Aceh, yang baru-baru ini dikabarkan terpapar virus corona untuk menghindari Covid-19. Pesan tersebut disampaikan pria yang akrab disapa Syekh Fadhil itu setelah sebulan melakukan karantina mandiri di ibukota, Rabu, 4 November 2020.

Fadhil Rahmi sebelumnya juga menceritakan kronologis dirinya terpapar virus corona hingga sembuh di media sosial pada Rabu pagi. Dalam catatan berjudul “Alhamdulillah dan cukup sekali” itu, dia menyampaikan pada awalnya badan Fadhil Rahmi terasa berbeda seperti biasanya, Jumat, 11 September 2020.

“Lemas, badan terasa seperti hendak demam, kepala agak berat,” tulis Fadhil Rahmi.

Namun pada hari itu Fadhil Rahmi harus tetap beraktivitas lantaran sudah janjian dengan koleganya ke Pati, Jawa Tengah. Selain itu pria lulusan Al-Azhar, Cairo, itu juga sudah terlebih mengagendakan main bola dan reuni kecil-kecilan dengan temannya di Jawa Tengah.

“Sabtu sore ikut main (sepakbola) satu babak, walau badan terasa kurang fit. Setelah pertandingan dan makan malam besar bersama-sama dengan masakan khas Pati dan masakan Mesir, kami lanjut ke Solo dan nginap di sana. Kondisi badan demam, panas dingin. Selama perjalanan selimutan dengan sarung. Minyak kayu putih jadi andalan,” lanjut Fadhil Rahmi.

Selama di Pati, Fadhil Rahmi juga sempat bertemu dengan kawan-kawan alumnus Mesir dari Jepara. Dia juga sempat bertemu dengan Pemred Buletin Terobosan, Ansori Abu Najma. Fadhil kemudian juga berkunjung ke Pesantren Badiusy Syam di Madiun pada hari Minggu dan bertemu dengan kyai setempat.

Perjalanan Fadhil yang dalam kondisi badan tidak sehat itu diteruskan ke Gontor untuk mengunjungi kerabat. Namun sesampai di sana, Fadhil tidak diizinkan masuk sehingga hanya bertemu dengan petugas piket di pintu gerbang. Fadhil juga sempat berkunjung ke Pesantren Babussalam pimpinan Kyai Fauzani.

Selama perjalanan itu, Fadhil mengaku tetap menjaga protokol kesehatan. Dia juga tidak pernah melepas masker, tidak bersalaman ataupun kontak fisik dengan seseorang.

Rentang waktu itu, Fadhil yang curiga telah terpapar virus corona mengurungkan niat untuk melakukan rapid test. Dia hanya melakukan isolasi mandiri di rumah, serta melakukan aktivitas seperti berolahraga, menjemur diri pada pukul 10 pagi, minum vitamin, jamu, madu, jeruk nipis dan beberapa treatmen lain.

Anggota DPD asal Aceh itu baru ke klinik kantor pada 21 September 2020 untuk rapid test. Tes tersebut dilakukan Fadhil guna kebutuhan untuk pulang ke Aceh. Namun, hasil tes menunjukkan reaktif. “Balik rumah, lanjut isolasi mandiri,” tambah Fadhil Rahmi.

Rindu akan kampung halaman membuat Fadhil kembali melakukan rapid test pada tanggal 25 September 2020. Namun lagi-lagi hasil tes menunjukkan reaktif. Fadhil kembali melakukan tes pada 28 September. Hasil tes justru menunjukkan positif.

“Mulailah isolasi mandiri ketat. Kalau sebelumnya sendirian di kamar, tapi di rumah ada teman, maka sekarang sendirian di rumah tanpa teman,” kisah Fadhil.

Beberapa kali Fadhil melakukan tes dengan harapan terbesar tidak lagi reaktif. Akan tetapi hasilnya masih saja mengecewakan. Baru pada 14 Oktober 2020 hasil tes swab Fadhil Rahmi menunjukkan hasil negatif. Hal ini membuat Fadhil akhirnya dapat mengunjungi mertuanya di Peunaron, Aceh Timur, yang sedang sakit.

Kepada sumaterapost.com, Rabu, 4 November 2020, Fadhil menceritakan sebelum dirinya mengalami gejala demam tersebut sempat bersilaturahmi dengan salah seorang koleganya. Namun dalam silaturahmi tersebut mereka tidak mengedepankan protokol kesehatan yang ketat. “Ada kontak fisik dan lain-lain, tapi dari mereka itu enggak ada yang positif setahu saya,” kata Fadhil.

Beberapa hari sebelumnya, Fadhil juga mengaku melakukan road show atas nama pimpinan Komite 3 DPD RI ke kementerian mitra. Road show itu berlangsung penuh selama sepekan.

Setelah sebulan melakukan karantina mandiri dan merasakan demam, meskipun tidak sempat drop, Fadhil berharap tidak lagi mengalami hal serupa. Pengalaman itu membuat Fadhil turut menganjurkan agar warga mengikuti dan mematuhi amaran umara dan ulama agar tidak terpapar virus corona.

“Jangan remehkan, walau juga jangan sampai takut berlebihan. Jaga iman dan imun, tetap pakai masker, jaga wudhu (sering cuci tangan), jaga jarak,” pesan Fadhil melalui sumaterapost.com.

Pemerintah siapkan kebutuhan penanganan pasien Covid-19

Informasi yang dihimpun sumaterapost.com menyebutkan Covid-19 di Indonesia hingga Rabu, 4 November 2020, telah mencapai 418.375 kasus. Jumlah orang yang sembuh dari penyakit tersebut mencapai 349.497 jiwa dengan catatan meninggal dunia mencapai 14.146 plus 102 jiwa hingga Rabu petang.

Guna menekan penyebaran Covid-19, Pemerintah Indonesia sejauh ini sudah menyiapkan berbagai kebutuhan penanganan pasien di berbagai daerah. Pemerintah bahkan telah membuka 422 laboratorium pemeriksaan Polymerase Chain Reaction (PCR) dan TCM atau tes cepat molekuler yang tersebar di seluruh Indonesia.

“Pemerintah telah menyiapkan stok reagen PCR untuk 795 ribu spesimen, dan reagen RNA sebanyak 686 ribu spesimen,” ujar Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito, Selasa, 3 November 2020 kemarin.

Selain itu, pemerintah juga telah menyediakan obat penanganan pasien Covid-19 yang mengacu pada Protokol Tata Laksana Covid-19. Sebagian besar obat tersebut telah diproduksi oleh industri farmasi nasional. Sementara bahan baku obat masuk ke Indonesia sejak April 2020 dan sudah didistribusikan ke 34 dinas kesehatan provinsi serta 779 rumah sakit di Indonesia.[]