LEMBAH ini berada di kaki bukit Lamreh atau pernah dikenal dengan Bukit Soeharto. Lokasinya sekitar 15-20 menit dari pelabuhan Krueng Raya, Aceh Besar. Dulunya, kawasan ini dikenal dengan sebutan Lamuri. Penyebutan itu merujuk catatan sejarah bahwa ada Kerajaan Lamuri di puncak bukit itu.

Catatan keberadaan kerajaan itu kemudian diperkuat dengan banyaknya ditemukan nisan era Lamuri di kawasan tersebut. Nisan-nisan itu hingga kini ada yang masih tertancap di atas bukit-bukit kecil lembah Lamuri, dan juga tak sedikit yang tertutup ilalang.

Catatan lain tentang Kerajaan Lamuri juga dapat dibaca di Prasasti Tanjore dari abad ke 10, di India. Bangsa Cola saat itu menorehkan Lamuri lantaran kerajaan ini memiliki benteng pertahanan yang kuat dan pernah diserbu oleh Rajendracola I pada tahun 1030 dalam ekspedisinya di Sumatra. Kala itu, bangsa Cola menamakan wilayah ini dengan Ilamuridesam.

Lamuri dalam catatan itu disebutkan memiliki kesamaan geografis dengan India, dimana alamnya kaya dengan sumber daya, masyarakatnya hidup di tepi sungai, dan di negerinya hidup mamalia besar seperti gajah.

Tentang Lamuri juga diperkuat oleh catatan ahli geografi Tiongkok, Chau-Yu-Kwa, dalam Chen  Fan Che pada tahun 1225. Chau menyebutkan lokasi Kerajaan Ilamuridesam dengan pelafalan Lan-Wu-Li.

Ahli geografi itu bahkan menukilkan bahwa istana Lamuri memiliki dua ruang tamu. Jika bepergian, rajanya kerap ditandu atau mengendarai seekor gajah. Sementara komoditas perdagangannya adalah kayu sepang, gading gajah, dan rotan putih.

Catatan lain tentang Lamuri juga dapat dibaca dari Marcopolo, penjelajah Venesia yang pernah singgah ke Sumatra pada tahun 1292. Ma Huan, penerjemah resmi Cheng Ho juga pernah menulis tentang Lamuri yang dikunjungi pada abad ke 15. Dia mengatakan seluruh penduduk di negeri ini sudah beragama Islam.

Catatan itu ditulisnya dalam Yingya Shenglan, yang pada saat itu Lamuri ditulis berdasarkan lafal Tiongkok yaitu Lam-bo-li, yang diidentifikasi oleh Groeneveldt sebagai Lambri atau Lamuri.

Ma Huan dalam catatannya mengatakan, negeri itu terletak di sebelah barat Sumatra dan berjarak tiga hari pelayaran. Waktu itu, dari 1.000 keluarga yang mendiaminya, seluruhnya sudah memeluk Islam. Begitu pula rajanya.

Kondisi itu jelas jauh berbeda dengan saat sekarang. Lembah Lamuri kini sudah bersalin rupa setelah sekian lama terbengkalai pasca dibukanya jalur Banda Aceh-Medan via Sare atau kaki Seulawah Agam.

Rute jalan di Lembah Lamuri naik turun sesuai dengan bentang alam perbukitan di kawasan. Di sekitar banyak ditemukan padang rumput nan luas yang tumbuh di atas perbukitan karang. Hijau merupakan warna dominan lantaran perdu dan pepohonan jamblang masih dapat ditemui di sepanjang perjalanan.

Jalan di kawasan ini sudah terbilang bagus jika dibandingkan dengan kondisi 15 tahun lalu. Aspal hitam dari Krueng Raya hingga jauh menuju Laweung sudah dibangun di kawasan tersebut.

Ruas jalan itu juga sudah lebar dari kondisi sebelumnya. Di sisi kiri dan kanan jalan juga sudah dibuat sedemikian rupa, sehingga pengendara tak lagi was-was terjerumus ke jurang seperti kondisi badan jalan di 10 tahun yang lalu. Semak-semak yang tumbuh di sekitar jalan juga sudah dibersihkan.

Masyarakat sekitar pun sudah memanfaatkan jalur ini dengan mendirikan kedai-kedai sederhana di beberapa titik yang menyajikan keindahan bentang alam lembah Lamuri. Selain itu, beberapa rumah kosong yang sempat ditinggal penghuni lantaran konflik masa lalu pun kini sudah terlihat ramai kembali.

Berjarak sekitar 20-25 menit perjalanan menurun ke punggung laut Selat Malaka, kita juga akan menemukan beberapa titik kawasan pemukiman. Salah satunya Gampong Kuta Rentang yang sudah masuk dalam Kecamatan Seulimum Aceh Besar. Di kawasan itu terdapat beberapa bangunan sekolah, seperti SD, SMP hingga SMA 3 Seulimum.

Tak jauh dari sana, sedikit mundur ke belakang, juga terdapat satu pemukiman yang disebut Beureunut. Pemukiman itu berada di sepanjang batang air yang hulunya diperkirakan berada di kaki Gunung Seulawah.

Pemandangan di kawasan ini masih terbilang asri, dengan sejuta warna hijau nan memukau. Jika terus memacu kendaraan menuju matahari terbit, maka pelintas akan menemukan kawasan pemukiman Lampanah Lengah dan selanjutnya Laweung. Ada beberapa spot wisata pantai yang menarik di sepanjang rute yang masih lengang ini.

Berikut kondisi terakhir ruas jalan Krueng Raya-Laweung yang berhasil dibidik Boy Nashruddin Agus dari SumateraPost.com, Senin, 7 September 2020: