ENAM peristiwa besar yang menentukan nasib Kesultanan Aceh dalam perang melawan Belanda terjadi pada 7 September. Ke enam peristiwa itu dicatat dengan baik oleh H Mohammad Said dalam buku Aceh Sepanjang Abad Jilid 2 yang diterbitkan pada tahun 1991.

Ke enam peristiwa itu dapat dirunut mulai pada 7 September 1881.

Seperti diketahui, Belanda sebelum menyerang Kesultanan Aceh Darussalam telah memberlakukan blokade jalur laut. Alhasil Kesultanan Aceh Darussalam tidak dapat memperbarui senjata dalam menghadapi agresi itu. Namun, pada 7 September 1881, blokade pantai Aceh dibuka oleh Belanda khusus untuk kapal dagang Inggris.

Sejak blokade tersebut dibuka, kekejaman Belanda yang dipimpin oleh van der Heijden dalam perang di Aceh mulai tersiar ke luar negeri. Pers menyindir prilaku tak manusiawi Belanda serta menyebut bahwa di Aceh ada “kayser” yang menggunakan macht boven recht” dan sebagainya.

Setelah publikasi meluas, Kejaksaan Agung Belanda di Betawi mengutus Direktur Penjara Belanda, Stibbe. Dia ditugaskan untuk menyelidiki tahanan perang yang kemudian laporannya disampaikan kepada parket.

Mendapat laporan ini, Jaksa Militer Belanda di Betawi, Mr Ter Kinderen, langsung berangkat ke Aceh untuk memastikan kebenaran laporan yang disampaikan tersebut. Mr Ter Kinderen kemudian mengajukan tuntutan pengadilan militer terhadap van der Heijden. Pun demikian, tuntutan ini tidak diteruskan di pengadilan. Akan tetapi berkat investigasi itu, van der Heijden dicopot dari jabatannya.

Masih berdasarkan catatan H Mohammad Said, pada 7 September 1897 juga terjadi peristiwa penting dalam sejarah perang Belanda di Aceh. Dia menyebutkan pada tanggal itu, Belanda yang telah menambah kekuatan baru dari Jakarta menyerang pasukan Teuku Umar. Saat itu, Teuku Umar bersama prajuritnya bertahan di Lamteh.

Serangan itu berhasil dipatahkan oleh Teuku Umar.

Blokade besar-besaran yang dilakukan oleh Belanda telah menjepit pertahanan pasukan Kesultanan Aceh Darussalam. Beberapa titik pertahanan berhasil dikuasai oleh Belanda yang terus merangsek hingga ke pedalaman.

Belanda juga turut menyerang wilayah Sisingamangaraja yang terus mempertahankan wilayahnya bersama pasukan dari Gayo. Penyerangan terhadap kekuasaan Sisingamangaraja ini dilakukan Belanda guna menjepit posisi pasukan Aceh dari wilayah Gayo. Saat itu, Belanda dipimpin oleh van Daalen.

Namun Belanda yang membunuh banyak penduduk dalam strategi mengepung Aceh itu, mendapat perlawanan di Kampung Duren-Rojo Silo, Kuto Lintang dan Kuto Blang. Serangan yang dilakukan Belanda itu membuat 166 jiwa penduduk Aceh tewas. Dari jumlah itu, 15 diantaranya merupakan perempuan dan anak-anak.

Sementara di pihak Belanda dicatat dua orang tewas dan 24 luka-luka.

Setelah berhasil merebut Kuto Lintang dan mendirikan basis militer di daerah itu, Belanda kemudian menyerang Badaq pada 4 April 1904. Dalam serangan tersebut, sebanyak 93 orang laki-laki dan 29 orang perempuan beserta anak-anak dibunuh oleh pasukan Belanda.

Selanjutnya Belanda menyerang Rikit Gaib pada 16-21 April 1904. Serangan itu menyebabkan 143 orang warga Aceh tewas dan 41 perempuan serta anak-anak meninggal dunia. Meskipun demikian, perlawanan di Rikit Gaib juga membuat 12 serdadu Belanda tewas dan 37 lainnya luka-luka.

Belanda kemudian terus mendesak pertahanan Aceh hingga Penosan, Tampeng, Kuta Reh, Likat hingga Kuta Lengah Baru. Setiba di perbatasan Aceh dengan Tapanuli, Belanda kemudian membagi pasukannya. Sebagian menuju Kuta Lengah Baru dan sisanya menyerang Tanah Karo. Ada juga sebagian pasukan yang dikirim ke Sidikalang untuk menekan perlawanan Sisingamangaraja.

Pasukan van Daalen mendapat perlawanan hebat saat hendak merebut Kampung Pearaja Dairi, markas Singamangaraja XII. Belanda tidak dapat menguasai daerah itu sehingga menyingkir ke Kampung Perbuluhan. Dari daerah tersebut, van Daalen lantas menuju Tarutung.

Belanda menghadapi perlawanan berat dari rakyat Sisingamangaraja. Beberapa kepala kampung, seperti Penghulu Sikiras, Telu Keru, Teran, Silima, Sinina, Perbesi, Kwala, Sepuluh Pitu Kota, Johar, Beras Tepu dan Guru Kinayan bergabung menghalau pasukan Belanda yang hendak masuk ke wilayah Aceh. Gabungan pasukan Sisingamangaraja itu berhasil memukul mundur Belanda yang terpaksa kembali ke Medan.

Namun Belanda kembali mengirim bala bantuan pada 7 September 1904. Bala bantuan yang terdiri dari 4 opsir dan 130 bawahan itu dipimpin oleh Kapten Wilhelm. Belanda juga mengirim de Graaf bersama tiga opsir dan 80 prajurit untuk merebut kawasan Penghulu Sikiras.

Pasukan gabungan Belanda itu kemudian dipimpin oleh Letnan Kolonel Bleckman yang dibantu Asisten Residen Wetenberg dari kalangan sipil. Dengan kekuatan besar itu, Belanda kembali menyerang Penghulu Sikiras yang dibantu oleh pejuang dari Gayo.

Perang ini dimenangkan oleh Belanda. Sementara Penghulu Sikiras mundur ke Tanah Alas.

Di sisi lain, perang terhadap Belanda terus menyeruak di daerah Kesultanan Aceh Darussalam. Padahal Belanda sebelumya telah berhasil menjebak dan menangkap Sultan Aceh Muhammad Dawood Syah dan istrinya di awal tahun 1903.

Menyerahnya Sultan Aceh lantaran Belanda berhasil menangkap dua istrinya, yaitu Teungku Putroe di Glumpang Payong dan Pocut Cot Murong. Keduanya adalah istri Sultan Aceh saat itu. Mereka ditangkap di Lam Meulo bersama putra mahkota.

Padahal saat itu Sultan Aceh bersama pasukan besarnya sedang menyusun strategi besar melawan Belanda di pedalaman Gayo.

Setelah tertangkap, Belanda mengasingkan Sultan Aceh ke Ambon.

Pasca penangkapan Sultan Aceh, Panglima Polem Sri Muda Perkasa Muhammad Daud anak dari Panglima Polem VIII Raja Kuala cucu dari Teuku Panglima Polem Sri Imam Muda Mahmud Arifin yang juga terkenal dengan Cut Banta atau Panglima Polem VII, juga ikut menyerah pada 7 September 1903.

Tokoh-tokoh Aceh yang memimpin peperangan terhadap Belanda terus berganti selepas Sultan Muhammad Dawood Syah ditawan. Para pemimpin Aceh tersebut di antaranya Teungku Di Paya Bakong dan Teungku di Barat. Selanjutnya ada juga Teungku di Tanoh Mirah, Teungku di Klibuet, Teungku di Lambada, dan Teuku Pocut Usen dari Mukim 111 Kayee Adang.

Pemimpin Aceh lainnya yang menentang Belanda seperti Teungku Mak Ali di Tiro, Teungku di Parue, Teungku di Peureumue, Teungku Silang, Haji Gantue, Teungku Haji Seuman dari Bluee Lam Kabeu, Dato Mohamad Zen, Teungku di Tapa, dan Teungku Simeulue Besar di Pulau Simeulue.

Perlawanan rakyat Aceh terhadap Belanda tidak sia-sia saat itu meski satu persatu pemimpinnya meninggal dunia karena perang. Namun, perjuangan tersebut setidaknya dapat menyulitkan Belanda seperti pada 7 September 1904 yang berhasil merebut bivak Belanda di Sinabang.

Pertempuran rakyat Aceh dalam skala kecil terus terjadi hingga tahun 1926. Hal ini dibuktikan dari catatan H Mohammad Said, yang menyebutkan perlawanan rakyat pada 7 September 1926 turut menyebabkan tewasnya Datok Nyak Nih di Gampong Panton Bili.[]