Diana salah seorang pedagang di lokasi wisata tsunami, PLTD Apung | Foto: Alfath Asmunda

DI BELAKANG Masjid Subulussalam, Punge Blang Cut, kediaman Diana bersama suami dan tiga orang anaknya berdiri terselip. Saban hari dari sana dia memulai kehidupan. Pagi-pagi selepas menyiapkan santapan untuk keluarga dan beberes rumah, ia berjalan kaki ke warung yang terletak di samping gerbang masuk PLTD Apung. Itu adalah tempat Diana mencari nafkah. Letaknya tak begitu jauh, hanya sepelemparan batu dari “istana” kecilnya.

Hari itu, Minggu, 12 Juli 2020, siang baru saja lepas kala Diana sedang duduk terpekur di warungnya. Beberapa minuman kaleng dan cemilan ringan tersusun di warung berukuran 3×4 meter itu.

Di depan pintu gerbang PLTD Apung, seorang bapak sedang tampak serius menjelaskan batu akik dagangannya kepada seorang pembeli. Tidak jauh dari situ, di sebuah pelanta kayu, beberapa orang laki-laki meriung tengah santai.

“Beginilah situasi di sini sejak Corona datang. Sepi…,” lirih Diana. 

Situs peninggalan tsunami yang telah belasan tahun disulap jadi tempat wisata ini kosong melompong. Dua mobil berdiri di halaman parkir seluas lapangan tenis. Hanya ada beberapa pengunjung hari itu yang datang. Karena pintu digembok, mereka hanya dapat melihat PLTD Apung dari luar pagar.

Minimnya wisatawan yang datang memaksa kios-kios penjual souvenir banyak yang tutup. Siang itu hanya ada dua toko yang buka. Pemandangan demikian sudah terjadi sejak Maret 2020 lalu.

Nggak tahu mau kita bilang apa lagi dengan kondisi sekarang, benar-benar susah,” ujar perempuan asal Aceh Utara itu pasrah.

Pandemi Covid-19 yang melanda dunia tak pandang bulu menghantam siapa saja. Virus ini bukan saja mematikan, tetapi juga turut merusak tatanan ekonomi dunia. Dan itu turut dirasakan Diana.

Sejak Maret lalu penghasilannya sebagai penjual minuman dan cemilan di samping pintu masuk PLTD Apung tidak seperti biasa. Kantongnya meredup seiring ditutupnya tempat wisata itu akibat pandemi.

Andai Covid-19 tidak sampai ke Aceh, dan tentu saja ke tempat Diana berdagang, sehari-hari biasanya dia bisa membawa pulang satu hingga dua juta rupiah dari pendapatan berjualan di sana. “Tapi kini tak sampai seratus lima puluh ribu per hari,” akunya getir.

Kondisi PLTD Apung menjadi sepi lantaran virus corona | Foto: Alfath Asmunda

Pandemi mengubah peruntungan orang-orang yang mengais rezeki dari keramaian. Lima bulan sudah lamanya Diana merasa kehidupan mereka terjepit. Penghasilannya menurun, tetapi kebutuhan hidup harus tetap dipenuhi.

Sekalipun dia mengaku tiap bulan mendapat bantuan sembako dari pemerintah gampong setempat, namun itu tidaklah cukup. Diana harus memikirkan biaya hidup yang lain. Diana harus menyisihkan ratusan ribu uang untuk listrik dan air PDAM setiap bulannya. “Itu belum lagi untuk keperluan mendadak. Jajan sama beli paket belajar online anak juga. Pokoknya tahun ini benar-benar berat,” ujarnya.

Diana mengumpamakan situasi sekarang laksana tsunami yang belasan tahun lalu turut menggulung rumah dan sanak familinya. Dia tak membayangkan bakal tertimpa cobaan hidup yang berat untuk dua kali.

“Saya pikir cukuplah saya susah waktu tsunami. Nggak tahunya, ada lagi cobaan sekarang yang seperti dulu beratnya,” Diana menghelas nafas.

Suami Diana berprofesi sebagai tukang becak. Sang suami biasanya mangkal di pintu gerbang PLTD Apung dan kerap mendapat orderan membawa wisatawan keliling kota.

Diana bercerita, sebelum pandemi merebak, penghasilan suaminya turut membantu keberlangsungan hidup mereka. Paling tidak, uang hasil keringat suaminya ini bisa ditabung. Sementara hasil berdagang dipakai untuk kebutuhan sehari-hari. 

Diana mengatakan kunjungan wisatawan yang datang ke PLTD Apung selain dari lokal, juga kerap dibanjiri dari ibu kota provinsi tetangga; seperti Medan, Padang, Riau, dan beberapa daerah Sumatera lainnya.

Namun menurutnya, yang tak putus-putus selalu mengunjungi situs wisata itu adalah warga negara Malaysia. “Mau hari libur atau enggak, orang Malaysia nih pasti ada,” katanya.

Sejak lima bulan belakangan hanya satu-dua wisatawan yang tampak batang hidungnya mondar-mandir di sana. Minimnya kunjungan pelancong itu selain membuat jualan Diana tak laku, jasa angkutan suaminya pun ikut tergulung pandemi.

PLTD Apung pernah sempat dibuka selepas Lebaran Idul Fitri kemarin. Di saat pemerintah melonggarkan aktivitas masyarakat dengan bikin aturan new normal. Namun kebijakan itu tak berdampak apa-apa terhadap kunjungan wisatawan ke sana. Situasi tetap sepi seperti bulan Maret lalu.

Sebaliknya, kasus positif Covid-19 di Banda Aceh dilaporkan terus meningkat usai tiga pekan PLTD Apung dibuka. Pemerintah kembali menutup destinasi wisata itu dengan kepastian waktu yang belum diketahui. Harapan Diana untuk mengais pundi-pundi rezeki pupus lagi.

Bahkan dia menuturkan, di saat pertama Covid-19 menghantam Aceh dan seluruh aktivitas masyarakat sempat dibatasi ketat oleh pemerintah, Diana terpaksa memakai uang beasiswa anak sulungnya demi mengepulkan asap dapur.

Beruntung si sulung perempuan ini tergolong anak yang berprestasi. Kata Diana, sejak di bangku sekolah dasar hingga kini telah duduk di bangku kelas tiga sekolah menengah atas, buah hatinya itu selalu menjadi juara di kelas.

“Sekali cuma dapat peringkat 2 di SMP, karena waktu itu dia sakit. Selebihnya rangking satu terus,” katanya.

Menurut Diana, si sulung ini memang tipikal kutu buku. Dia jarang keluar rumah bahkan untuk sekadar bermain bersama teman sejawatnya. Sehari-hari dia hanya menghabiskan waktu di rumah. Dia baru keluar sewaktu pergi sekolah saja atau jika ada keperluan penting lainnya.

“Selebihnya di kamar aja, baca buku terus dia,” terangnya.

Berkat prestasi akademik yang membanggakan itu, anaknya kerap mendapat beasiswa. Di kelas tiga SMA ini si sulung memperoleh beasiswa dari salah satu anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Diana merasa bersyukur dengan prestasi anaknya itu.

Terlebih di masa sulit begini, si sulung paham dengan kondisi ekonomi kedua orang tuanya. Dia merelakan Diana memakai uang beasiswa untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Diana berkata sempat sedih juga tatkala memakai uang beasiswa itu. Tapi mau bagaimana lagi, keluarganya sudah kepepet. “Alhamdulillah dia sangat mengerti,” katanya.

Namun tak selamanya uang beasiswa cukup memenuhi kebutuhan mereka semua. Satu juta rupiah untuk dipakai selama sebulan oleh satu keluarga dengan tiga orang anak di Banda Aceh, itu terbilang mengenaskan.

Mau tak mau Diana harus membuka warung meski berhadapan dengan kenyataan kunjungan wisatawan sepi ke PLTD Apung. Baginya pandemi ini tak bisa hanya disikapi dengan ketakutan mendengar angka-angka dari pemerintah yang menyatakan kian banyak orang tertular dan meninggal.

Dia pun mengakui sudah jenuh berhadapan dengan imbauan dan peraturan-peraturan terkait Covid-19. Sementara waktu terus berjalan, kehidupan harus ditopang dengan pendapatan. Rezeki musti dikais pakai peluh sendiri.

Di satu sisi dirinya memang menyadari virus ini berbahaya. Namun di sisi lain, ketakutan melihat diri dan masa depan yang masih mengawang, membuatnya terpaksa menantang rasa takut itu.

Diana punya mimpi kelak anak-anaknya tidak bernasib sama seperti dirinya. Berpendidikan rendah dan musti bergelut pula dengan kemiskinan. Dia ingin melihat semuanya bisa mengenyam pendidikan di bangku kuliah dan memperoleh pekerjaan jauh lebih baik dari orang tua mereka.

Dan itu semua semata-mata tentu tidak jatuh dari langit.[]

Penulis adalah Alfath Asmunda, seorang jurnalis muda yang saat ini berdomisili di Banda Aceh.