PERANG telah menciptakan banyak pertumpahan darah. Perang juga turut melahirkan yatim dan para janda korban konflik di antara kubu yang bertikai. Tidak ada yang menyenangkan dari sebuah perperangan, meskipun terkadang jalan itu harus ditempuh untuk menegakkan kedaulatan di tanah sendiri. Langkah itu pula yang pernah ditempuh Sultan Aceh untuk mengantisipasi gangguan-gangguan Belanda di wilayah kedaulatannya.

Damai adalah jalan lain bagi kedua belah pihak yang bertikai untuk saling merangkul. Terkadang damai merupakan jalan terbaik bagi sebagian pihak untuk kembali saling menghormati dan bersatu membangun negeri.

Akan tetapi, pengertian damai tidak sama dengan menyerah kalah. Pihak yang berdamai akan saling menghargai antara satu sama lain. Pihak yang berdamai juga akan mengeksekusi setiap janji yang telah dideklarasikan.

Damai juga tidak dapat diartikan dengan membuat salah satu kubu yang pernah bertikai, bak anak kecil linglung karena kehilangan ibunya di keramaian. Jika pun itu terjadi, artinya salah satu kubu telah mengacuhkan makna damai sebenarnya.

Damai berbeda dengan takluk. Menyerah adalah satu kata lain yang diterjemahkan dalam konteks berbeda. Dan Aceh, meskipun banyak yang menyebutkan tidak pernah kalah, juga pernah “damai dalam takluk” kepada Hindia Belanda.

Tentang damai dalam bingkai takluk itu pernah tercatat dalam sejarah Aceh, kala pemimpin-pemimpinnya “bertekuk lutut” di bawah kaki Belanda. Ketika sang ksatria yang pernah mendaklarasikan perlawanan dan berhasil merenggut nyawa musuh dalam jumlah masif, terpaksa hadir dalam parade militer lawan yang kelak menjadi kawan.

Tidak ada yang paling menyakitkan ketika melihat panglima perang diabaikan dalam momen itu. Dan hal tersebut terjadi pada Panglima Polem, salah satu tokoh Aceh yang disebut oleh Belanda sebagai lawan paling berat dalam peperangan masa lalu.

Belanda mendokumentasikan dengan baik bagaimana mereka memperlakukan Panglima Polem dan beberapa tokoh Aceh lainnya di Hari Jadi ke 40 Korps Marsose dan Kepolisian Hindia Belanda di Aceh pada tahun 1930. Dokumenter itu dibungkus dalam film sunyi dengan durasi sepanjang 18 menit 24 detik.

Video ini sengaja dikutip dari arsip militer Kerajaan Belanda untuk kepentingan pendidikan sejarah bagi anak negeri.[]