POPULASI penduduk Aceh diperkirakan bakal mencapai lebih dari enam juta jiwa pada tahun 2030 mendatang. Sementara saat ini, medio Juni 2020, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) diketahui jumlah penduduk Aceh mencapai 5.459.000 lebih.

Dari jutaan penduduk ini terdapat beragam suku yang hidup di provinsi paling ujung barat Pulau Sumatera tersebut. Suku-suku itu adalah Aceh, Gayo, Alas, Aneuk Jamee, Melayu Teming, Kluet, Devayan, Sigulai, Haloban dan Suku Julu.

Suku yang mendominasi wilayah Aceh saat ini kerap menyebut diri mereka sebagai Ureung Aceh. Artinya adalah ‘Orang Aceh.’

Berdasarkan riset sederhana yang dilakukan Sumatera Post diketahui, suku Aceh tersebar di wilayah pesisir timur. Mereka mendiami kota dan kabupaten yang ada di Aceh, seperti di Sabang, Banda Aceh, Aceh Besar, Pidie, Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Utara, Lhokseumawe, Aceh Timur, Langsa, dan sebagian di Aceh Tamiang.

Selain itu, suku Aceh juga diketahui mendiami beberapa wilayah pesisir barat seperti di Kabupaten Aceh Jaya, Nagan Raya, Aceh Barat, dan juga Aceh Barat Daya. Suku Aceh juga sebagian kecil hidup dan menetap di Aceh Selatan, Singkil, Subulussalam, Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues.

Suku Aceh dalam kehidupan sehari-harinya menggunakan Bahasa Aceh secara umum. Namun, terdapat beberapa kata dan dialek berbeda dalam bahasa Aceh antara orang-orang Aceh yang mendiami kawasan Aceh Besar, Banda Aceh, Aceh Jaya, dan Sabang dengan Ureung Aceh yang berada di pesisir timur lainnya.

Diduga kuat dialek dan kata berbeda ini berkembang seiring heterogen-nya warga Aceh di masa lalu. Meskipun demikian, orang-orang yang menggunakan bahasa Aceh ini dapat saling memahami tutur kata antara satu sama lain. Diduga hal ini dipicu landasan historis antara suku Aceh di kawasan itu.

Seperti diketahui, daratan Aceh masa lalu pernah berkembang beberapa kerajaan yang dibangun oleh suku Aceh. Sebut saja di antaranya Kerajaan Perlak, Samudera Pasai, Pedir, Lamuri, Linge, dan beberapa kerajaan kecil lainnya. Belakangan, kerajaan-kerajaan ini menyatu dalam satu bendera Kesultanan Aceh Darussalam sejak abad 15 Masehi.

Penyatuan inilah yang diduga membuat interaksi penutur bahasa Aceh antara satu kawasan dengan kawasan lain dapat saling memahami. Lagipula, dalam literatur menyebutkan sebelumnya suku Aceh di daerah ini juga turut menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan mereka.

Mayoritas suku Aceh, yang beberapa sumber mengatakan berasal dari rumpun Melayu tersebut, merupakan pemeluk agama Islam dan saat ini hidup dan berkembang di Provinsi Aceh. Sementara mata pencaharian hidup orang-orang Aceh ini beragam, dengan sektor utama berada di pertanian, kelautan, perikanan, perkebunan, dan juga pedagang.

Suku Aceh diduga telah hidup di Sumatera sejak masa pasca Pleistosen. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya jejak arkeologis dari masa tersebut di pantai timur Aceh, seperti di Langsa dan Aceh Tamiang.

Belum diketahui secara pasti asal mula suku bangsa Aceh ini. Dari berbagai penelitian yang dilakukan selama satu abad terakhir, suku Aceh dapat dikaitkan dengan Proto dan Deutro Melayu, yang memiliki garis keturunan (nasab) yang sama dengan masyarakat Melayu lain di Asia Tenggara.

Suku Aceh juga disebut berkerabat dekat dengan suku Batak, suku Gayo dan Alas. Berdasarkan manuskrip kuno bahkan disebutkan suku asli yang mendiami Aceh adalah Mantir (Mante) dan Lhan (Lanun). Jika suku Mantir erat kaitannya dengan Batak, Gayo, dan Alas, maka Lanun disebut berkerabat dengan suku Semang yang bermigrasi dari Semenanjung Malaya atau Hindia Belakang seperti Champa atau Burma. [Baca: Orang-orang Sumatera]

Di sisi lain ada yang mengaitkan bahwa suku Mante, salah satu suku asli Aceh, dengan bangsa Funisia di Babilonia atau bangsa Dravida dari lembah Sungai Indus dan Gangga. Pun demikian, keterkaitan ini belum dapat menjadi pegangan secara ilmiah.

Dalam perkembangannya, suku Aceh asli yang semula hidup di kawasan Aceh Besar kemudian menyebar ke daerah lain. Suku asli itu juga belakangan berasimilasi dengan pendatang dari mancanegara, seperti dari India, Tamil, Gujarat, Arab, Eropa, Persia, Turki, dan bahkan Portugis.

Percampuran budaya yang kemudian melahirkan generasi baru itu telah membuat peneliti masa kini sulit menelusuri suku asli Aceh. Hal itu pernah disampaikan oleh Snouck Hougronje, salah seorang peneliti asal Belanda dalam bukunya De Atjeher.

Snouck yang kemudian dikenal juga dengan sebutan Teungku Puteh itu sempat menyimpulkan bahwa suku Aceh asli berasal dari empat bangsa. Dia merujuk kepada hadih maja Aceh yang menyebutkan, “Sukee Lhee Reutoh ban aneuk drang, Sukee Ja Sandang jra haleuba. Sukee ja Batee na bachut-bachut, Suke Imuem Peuet nyang gok-gok donya.”

Suke Lhee Reutoh dalam hadih maja itu diduga kuat merujuk pada suku Mante, yang terlebih dahulu mendiami tanah di ujung paling barat Pulau Sumtera tersebut.

Hal ini dibenarkan oleh Tuanku Warul Walidin bin Tuanku Raja Yusuf bin Tuanku Raja Ibrahim bin Sultan Alaidin Muhammad Daudsyah, salah seorang keturunan raja terakhir Aceh. Kepada salah satu media online di Aceh, Tuanku Warul Walidin mengatakan Suku Lhee Reutoh yang dimaksud adalah orang-orang Mante Batak asli.

Sementara kaum Ja Sandang merupakan para migran dari Hindia Belakang.

Tuanku Warul Walidin juga mengatakan Suke Ja Batee merupakan penyebutan terhadap para migran dari berbagai tempat, dalam jumlah sedikit. Mereka tersebar di berbagai daerah di Aceh.

Lebih lanjut, Tuanku Warul mengatakan, khusus untuk Suke Imuem Peut merupakan penabalan terhadap orang-orang yang datang dari Hindia Belakang sama seperti Ja Sandang. Akan tetapi, Sukee Imuem Peut ini cenderung dilakap kepada pendatang yang beragama Islam. Mereka kemudian menetap di kawasan Tanoh Abee, Lam Leuot, Montasik serta Lamnga. Daerah-daerah itu berada dalam kawasan administratif Kabupaten Aceh Besar saat ini.(*)