Repro

“CINTA adalah suatu kecenderungan terhadap sesuatu yang memberikan manfaat. Apabila kecenderungan itu mendalam dan menguat, maka ia dinamakan rindu. Sedangkan sebaliknya, benci adalah kecenderungan untuk menghindari. Apabila kecenderungan itu mendalam dan menguat, maka itu dinamakan dendam.”

Begitulah sepenggal kalimat yang pernah dikeluarkan Imam Al Ghazali, seorang filsuf dan sofis dari Persia. Kalimat itu dirasa setakat dalam mengawali tulisan pembuka untuk “bayi” kami yang baru lahir ini, yang kami beri nama “Sumatera Post”.

Berpijak dari kata-kata sang filsuf tersebut kami ingin menjadikan Sumatera Post ini sebagai wujud cinta dan penghilang dahaga bagi kita. Ya, kita: orang-orang yang tidak bisa berpaling dari informasi–yang ternyata kian liar di zaman edan ini.

Kami ingin menjadikan Sumatera Post sebagai “kiblat” cinta baru bagi kalangan akar rumput. Cinta yang diharapkan dapat memberikan manfaat kepada semua pihak, termasuk para pendiri yang sempat menepi dan terasing di rumah sendiri.

Kecintaan kami untuk melahirkan karya itulah yang membuat kami merindu, berkumpul seperti dulu dalam satu wadah bernama Sumatera Post.

Pada awal-awal pertemuan, tidak terbersit “bayi” ini dinamakan Sumatera. Sebuah nama besar dari salah satu pulau yang ada di Nusantara. Pulau yang di ujung paling baratnya pernah berdiri sebuah negeri dengan bandar paling tenar itu.

Melakap Sumatera adalah beban besar. Ada puluhan bahkan ratusan juta jiwa kini menumpang hidup di atasnya. Daratan yang terbentang dengan puluhan gunung dan hutan nan luas, yang jika ditarik garis dari Ujong Pancu, Aceh-Bakauheni, Lampung, dapat mencapai 473.481 kilometer bujur sangkar itu.

Mencomot nama Sumatera juga memiliki beban historis. Ada ratusan suku dengan ragam budaya yang harus kami wakili, jikapun memaksa menggunakan nama itu. Namun, Sumatera adalah pulau kelahiran kami. Dan sebagai anak-anaknya–seperti mereka-mereka dan anda–kami juga berhak mengagungkan Sumatera.

Kami telah berusaha mencari nama lain. Seabrek nama telah ditulis di atas kertas. Di layar monitor bahkan sempat dicatat dengan baik dalam memori smartphone. Namun kami tidak menemukan yang lebih baik dibandingkan Sumatera itu.

Ini sama halnya dengan kisah pencarian cinta oleh Aristoteles yang mendapat tugas dari sang Plato. Kala itu, ratusan tahun sebelum Masehi, Aristoteles pernah bertanya kepada Plato tentang apa itu cinta?

Sang guru tidak serta merta menjawab pertanyaan Aristoteles. Dia hanya menugaskan muridnya untuk mencari sekuntum bunga paling indah di sebuah padang nan hijau. Namun, Plato berpesan agar sang murid tidak kembali ke jalan yang sama untuk mendapati bunga nan indah itu. Aristoteles yang mendapat tugas tersebut bergegas menyusuri padang. Mencari-cari bunga yang dianggapnya paling indah.

Untuk menemukan bunga nan cantik dan memukau, Aristoteles tak membutuhkan waktu lama. Dalam beberapa langkah saja dia mendapati sekuntum kelopak yang menyihir mata. Namun, Aristoteles berpikir, jika dalam beberapa langkah saja sudah didapati bunga nan indah, berarti jauh ke depan pasti akan ada lagi yang lebih daripada itu.

Namun, niat Aristoteles untuk mendapat bunga lebih indah tersebut tidak berbuah hasil. Sudah seharian penuh dia berjalan, dan enggan untuk kembali di rute yang sama. Hingga akhirnya Aristoteles menyerah. Menemui Plato dan meriwayatkan kisah pencariannya.

Berpijak dari cerita dua filsuf itulah kami mengabaikan menggunakan nama-nama asing untuk “bayi” ini. Cukuplah Sumatera saja. Pulau yang pernah dikenal dengan sebutan “Percha” atau Andalas itu. Pulau yang dulunya juga pernah dinukilkan dengan sebutan “Daratan di Bawah Angin itu”.

Sumatera sudah banyak dicatat dalam sejarah. Ibnu Battutah adalah salah seorang penjelajah dari Maroko yang diduga pertama kali menyebut nama pulau ini. Pada dasarnya si penjelajah itu salah dalam menyebut nama Sumatera. Karena yang dimaksudnya pada saat itu adalah Samudra, sebuah bandar yang dipenuhi dengan kapal-kapal layar.

Dari Samudra itulah diduga nama Sumatera berawal. Meskipun belakangan, epigraf asal Aceh Taqiyuddin Muhammad dalam bukunya “Daulah Shalihiyah di Sumatera” melempar teori lain asal mula penamaan pulau besar ini. Dia menilai, Sumatera cenderung terpengaruh dengan budaya Kurdi. Yang pada masa itu pernah berdiam di wilayah Persia.

Entah ada hubungan apa antara kaum Kurdi dengan daratan di bawah angin, hingga akhirnya penyebutan Sumatera melekat hingga sekarang ini. Pun demikian, kami tidak ingin mengulas lebih jauh tentang sejarah pulau yang di dalam rahimnya terkubur miliaran barel minyak bumi dan gas alam itu. Yang di atas punggungnya terdapat jutaan hektar kanopi alam itu. Yang di wajahnya berkeliaran satwa-satwa liar semacam harimau, gajah, dan badak serta orangutan, yang disebut berbeda dengan habitat di pulau-pulau lain itu. Cukuplah Sumatera menjadi pemuas dahaga Kami dan Anda kali ini.

Izinkanlah kami kembali mengutip kata-kata bijak si filsuf Yunani, Epicurus. “Orang bodoh tidak merasa cukup puas dengan semua yang telah dicapainya melainkan hanya merasa iri terhadap keberhasilan orang lain.”

Dan berpijak atas kata-kata tersebut, izinkanlah kami melakap Sumatera sebagai buah cinta kami. Terimalah Ia sebagai karya baru dari anak-anak negeri. Salam hangat dari kami.

Tim Pendiri dan Redaksi. (*)