TIGA kabar duka untuk Aceh datang pada Selasa, 23 Maret 2021 kemarin. Satu diantara kabar duka tersebut adalah tentang berpulangnya tokoh pers Aceh, Ampuh Devayan. Sementara dua lainnya adalah kabar meninggalnya sosok sekaliber Adnan Ganto yang juga putra Aceh. Sisanya adalah seorang tokoh nasional yang ikut mendamaikan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan Republik Indonesia (RI), Farid Wadjdi Husain.

Ketiga pria itu menutup usia di tempat dan waktu berbeda. Ampuh Devayan, mantan wartawan Serambi Indonesia, misalnya. Sosok yang juga pernah aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Banda Aceh tersebut menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Umum Zainal Abidin (RSUZA) Banda Aceh pada Selasa, sekira pukul 18.00 WIB.

Jurnalis senior yang semasa hidupnya juga pernah aktif di Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Banda Aceh tersebut, bahkan sempat menikahkan anak perempuan beliau satu-satunya di Masjid Keuchik Leumik Lamseupung sebelum kembali dirawat di Ruang Aqsa 1, Kamar 5 RSUZA Banda Aceh. Namun, kondisi kesehatan pria kelahiran Simeulue pada 19 Juni 1961 silam itu terus memburuk.

Ampuh Devayan di kalangan para kolega dikenal sebagai sosok yang lugas, tetapi jenaka. Almarhum berhenti dari tugas-tugas sebagai jurnalis setelah kondisi kesehatannya drop medio 2008 lalu.

Jasad almarhum dikebumikan di Gampong Doy Ulee Kareng, Banda Aceh, pada Rabu pagi tadi. Kepergiannya di usia 60 tahun tersebut meninggalkan seorang istri serta dua anak laki-laki dan satu orang putri.

Pada hari yang sama, bankir dunia asal Aceh, Adnan Ganto, juga meninggal dunia saat menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta. Almarhum menghembuskan nafas terakhir di usia 74 tahun.

Sosok yang selama ini dipercaya sebagai penasehat Menteri Pertahanan, penasehat Menkopolhukam, dan penasehat Badan Intelijen Negara (BIN) merupakan putra kelahiran Desa Pulo Rayeuk, Kecamatan Kuta Makmur, Aceh Utara. Pria yang dikenal dengan sebutan penasehat para jenderal ini, dulunya merupakan seorang anak tukang tambal ban di kampung kelahirannya. Namun, kondisi ekonomi keluarga yang serba kekurangan tersebut tak membuat almarhum patah arang. Di tengah Aceh berkecamuk perang, Adnan Ganto bahkan mampu mengukir prestasi hingga ke luar negeri sebagai seorang bankir terkemuka.

Banyak prakarsa untuk negeri yang lahir dari seorang Adnan Ganto semasa hidupnya. Salah satu yang paling berkesan untuk Aceh adalah konversi Bank Pembangunan Daerah (BPD) Aceh menjadi Bank Aceh Syariah.

Tak hanya itu, pada hari yang sama, kabar duka juga datang dari Farid Wadjdi Husain. Farid meninggal di Rumah Sakit (RS) Wahidin Sudirohusodo, Makassar.

Almarhum diketahui terlibat dalam perundingan konflik Indonesia-GAM yang dimediasi oleh Martti Ahtisaari. Peran utama Farid Husain adalah melaksanakan inisiatif Wakil Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla di belakang layar (second track diplomacy) sebelum dan dalam proses perundingan di Helsinki, pada 15 Agustus 2005 lalu.

Latar belakang ilmunya tak membuat almarhum kesulitan menggali informasi penting tentang GAM. Dia bahkan berhasil menghimpun opini orang-orang Aceh di perantauan tentang daerah kelahiran mereka untuk diteruskan kepada Menko Kesra Jusuf Kalla saat itu. Upayanya menelusuri jalur damai dalam menghadapi perlawanan di Aceh akhirnya terlaksana setelah “bergerilya” selama tiga tahun.

Sosok berdarah Bugis ini meninggal dunia saat masih menjabat sebagai Komisaris Utama di PT Biofarma (Persero). Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla bahkan mengucapkan bela sungkawa atas kepergian Farid melalui akun Instagramnya kemarin.

Kepergian tiga tokoh tersebut seakan melengkapi kisah duka daerah Serambi Mekkah usai kepergian Ketua MPU Aceh, Abu Daud Zamzami beberapa waktu lalu. Menilik tulisan terakhir almarhum Ampuh Devayan tentang “semua akan bergerak menuju taman terindah” seakan menjadi pengingat bagi kita, bahwa hidup ini hanyalah sementara.[]