“Hanya ada satu cara untuk menghindari kritik: tidak melakukan apa-apa, tidak mengatakan apa-apa, dan tidak menjadi apa-apa.”

Kalimat bijak tersebut disampaikan Aristoteles, seorang filsuf Yunani. Dia bukan orang sembarangan. Bukan Apa Bangai yang sok tahu segala hal atau si dungu yang sedang berpura-pura menjadi mahaguru. Aristoteles sudah kesohor. Gurunya adalah Plato, seorang filsuf Yunani Kuno yang juga penulis philosophical dialogues dan pendiri dari Akademi Platonik di Athena, sekolah tingkat tinggi pertama di dunia barat.

Aristoteles juga bukan Apa Lahu yang hanya tahu soal-soal politik kedai kopi di nanggroe kecil serupa Aceh. Dia adalah  guru dari Alexander Agung, pemimpin paling masyur di zamannya yang mampu menaklukkan dunia.

Jadi, tidak salah mengutip kata Aristoteles tentang kritik yang akhir-akhir ini sering “dipadamkan” atau sangat dihindari oleh para pemimpin. Padahal sudah lumrah kritik akan datang kepada penguasa atau pemimpin seperti kata-kata yang pernah disampaikan Aristoteles berabad-abad silam. Jika memang tidak ingin dikritik, ya jangan melakukan apa-apa alias diam. Pun begitu, diam pun akan menuai kritik lantaran pemimpin berada di posisi pejabat publik yang mengurusi orang banyak.

Hal tersebut mengingatkan kita pada kisah 1001 malam, perkara orangtua, anak laki-laki dan seekor keledai. Tentu semua sudah mendengar kisah tersebut. Apa yang dilakukan oleh ketiganya tetap salah di mata orang-orang yang kadung suka menyalahkan tanpa melihat alasan-alasan mengapa harus dilakukan. Namun, kisah tersebut bukan pula mengajarkan kita untuk mengadopsi istilah anjing menggonggong kafilah tetap berlalu.

Jika setiap kritik diabaikan, maka kita bakal tersandera oleh fatamorgana. Semua yang kita lihat bagus. Semua yang kita bikin seakan sempurna. Padahal, di luar tempurung, dunia masih luas. Ada yang salah, tetapi kita tidak tahu. Alhasil kita hanya melangkah di tempat. Jika berbuat, maka hanya sekadar seremonial belaka kalau tidak ingin disebut hanya pencitraan. Kemajuan yang dicita-citakan mentok di tengah jalan. Kadung buntu dan akhirnya baru kita sadari ketika kekuasaan tak lagi di tangan.

Prinsip asal bos senang sudah tak lazim lagi dipakai. Butuh analis dan juga pengamat independen yang perlu jadi rujukan agar program-program penguasa populis bagi masyarakat banyak. Tak hanya itu, selaku pemimpin kita pun membutuhkan empati dan simpati dalam berbuat. Itupun jika ingin nama kita dikenang dan masuk dalam catatan sejarah bangsa, bukan sekadar prestasi yang tercatat lantaran dibayar.

Orang bijak pernah berkata, “jangan pernah berasumsi bahwa setiap kritikus adalah pembenci. Tidak semua orang membenci Anda. Beberapa orang mengatakan yang sebenarnya.” Bersandar pada kata-kata tersebut, kita perlu menyadari bahwa kebenaran itu tak jarang datang dari seorang anak kecil yang tidak memiliki kepentingan apa-apa. Sementara pujian-pujian dari orang-orang dewasa cenderung terselubung kepentingan di baliknya.

Nah, ketika kritikan kian deras datang kepada kita, artinya kita sedang melakukan kesalahan yang sayangnya sedang ditutupi oleh orang-orang di sekeliling kita. Jika ini terjadi, kita harus membuka mata, hati, dan telinga. Kita perlu terjun ke lapangan seperti ketika Umar bin Khattab menjadi pemimpin, dan tak boleh berpangku tangan dengan duduk manis di belakang meja.

Seperti halnya kata Abu Hamid Al-Ghazali, sebagai manusia, “kita adalah makhluk yang suka menyalahkan dari luar, tetapi tidak menyadari bahwa masalah biasanya dari dalam.”[]