BAGI masyarakat Aceh, banjir seringkali disebut dengan “Ie Raya”. Jika merujuk pada dua kata itu, “Ie” dapat diartikan sebagai air dan “Raya” adalah besar. Jadi Ie Raya bermakna tentang air besar atau air dalam kategori yang banyak.

Sepanjang tahun 2020, merujuk catatan Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Aceh, terjadi 36 kali peristiwa ie raya alias banjir di seluruh Aceh. Bersamaan dengan bencana itu, beberapa titik lokasi banjir juga disertai dengan longsor. Sementara daerah yang rutin banjir adalah Aceh Utara, Aceh Timur, Langsa, dan beberapa daerah lain di Aceh.

Memasuki tahun 2021, kejadian banjir belum berakhir. Aceh Timur, Langsa, Lhokseumawe, Aceh Tamiang, dan Aceh Utara bahkan sudah beberapa kali banjir selama dua pekan terakhir. Teranyar, kawasan Aceh Tengah yang dihumbalang ie raya pada Selasa, 12 Januari 2021 ini.

Pertanyaan paling besar adalah kenapa banjir kian marak terjadi di Bumi Serambi ini?

Tentunya pertanyaan ini harus mendapat jawaban dari sang empunya kebijakan agar daerah kita bebas bencana. Ada yang menyebut, banjir dipicu oleh hujan dengan intensitas tinggi. Namun, curah hujan bukan faktor utama suatu daerah dapat tergenang air.

Ada beberapa faktor lain yang memicu tanah tak mampu menampung lagi curah hujan di suatu daerah. Dari beberapa sumber yang ditelusuri, alihfungsi hutan yang kian marak terjadi di kawasan hulu di Aceh saat ini merupakan salah satu faktor penyebab daerah-daerah tertentu rentan terjadi banjir. Banyak pohon yang dulunya bertugas sebagai benteng alam telah hilang, akarnya mati, sehingga endapan air di dalam tanah tak lagi terserap dengan baik. Air dalam jumlah banyak yang tak lagi mampu diserap oleh tanah akan mengalir mengikuti gravitasi Bumi, yaitu ke kawasan dataran rendah hingga bermuara ke laut.

Selanjutnya faktor lain penyebab banjir adalah kondisi sungai yang tidak baik. Semisal, sungai dangkal akibat endapan lumpur, tumpukan sampah yang menahan arus air di hilir sungai, dan perubahan kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) menjadi areal pemukiman.

Faktor lain yang memicu banjir juga disebabkan kondisi tata ruang wilayah yang tidak baik.

Para pihak harus mulai kritis untuk mengatur strategi agar banjir tidak lagi menjadi momok tiap pekan di daerah-daerah rentan. Para pemangku kebijakan juga tidak serta merta mendukung pembangunan, tetapi malah mengabaikan kondisi alam kita yang rawan bencana. Harus ada perencanaan yang matang serta solusi mumpuni agar banjir tidak datang berulang kali dalam tiap bulan. Jika tidak, maka saban hari kita akan membaca headline media di halaman utama tentang bencana banjir. Alhasil kita jenuh dan abai pada solusi untuk mengatasi ie raya agar tidak melanda sebagian negeri ini.

Pembangunan itu penting untuk menyejahterakan rakyat, tetapi alam juga penting dijaga supaya rakyat tetap aman, nyaman dan leluasa dalam mencari nafkah untuk keluarganya.

Padahal sudah jauh-jauh hari para aktivis lingkungan menyadarkan kita, bahwa “ketika pohon terakhir sudah kita tebang, ketika sungai terakhir sudah tercemar dan ketika ikan yang terakhir sudah ditangkap, pada saat itu kita baru akan sadar bahwa uang tak bisa kita makan.”[]