PRIA itu berambut gondrong, mengenakan topi hitam dengan slayer merah putih diikat di kepala. Ada almamater hijau membalut baju kemeja yang dikenakannya. Samar-samar, wajah pria itu bak usia 40-an ke atas. Namun, rupa pria yang memegang bendera itu tertutup masker medis.

Di sisi kanan pria itu terlihat seorang wanita, bertubuh tambun yang memegang spanduk bertuliskan “Tolak Provokator Yang Mempolitisasi Agama”. Dalam spanduk itu juga dibubuhkan kata “Stop Provokasi” dan “Tolak Front Pemecah Islam” dengan gambar Habib Rizieq Shihab yang ditempel huruf X di wajah.

Wanita berjilbab hitam dengan masker coklat itu menyandang almamater biru di tubuhnya.

Tak jauh dari wanita beralmamater biru itu juga terlihat beberapa wanita yang mengenakan almamater kuning, dan beberapa pria yang mengenakan almamater merah. Kendati tidak ada simbol di almamater itu, tetapi massa memberanikan diri menyebut perwakilan mahasiswa di Aceh. Aksi itu dihelat di Simpang Lima Banda Aceh, lokasi yang seringkali dipergunakan mahasiswa untuk melakukan unjuk rasa, pada Rabu, 16 Desember 2020 kemarin.

Kehadiran puluhan orang dengan almamater tanpa simbol itu menarik perhatian masyarakat. Terlebih isu yang diusung adalah menolak kedatangan Habib Rizieq Shihab–yang sedang menjalani proses hukum di Mapolda Metro Jaya–dan Front Pembela Islam (FPI) di Aceh.

Massa aksi itu kepada pihak kepolisian menamakan dirinya Komunitas Muslim Pancasila tersebut juga turut mengusung spanduk lain, yang menyebut “Ulama Aceh Lebih Hebat”. Dalam orasinya, Ramli, turut mendukung langkah kepolisian dalam penegakan hukum terhadap ormas yang memecah belah persatuan di Indonesia dan Aceh. Mereka juga menyuarakan penolakan “kedatangan Habib Rizieq Shihab” ke Aceh. Sebuah pernyataan membingungkan lantaran sosok yang disebut saat ini berada di sel tahanan Polda Metro Jaya.


Peserta aksi menggunakan almamater tanpa simbol saat menggelar aksi demonstrasi di Simpang Lima Banda Aceh, Rabu, 16 Desember 2020 kemarin | Foto: Serambi Indonesia

Tak sampai di situ, massa aksi yang diantaranya masih berusia anak-anak tersebut juga turut membakar foto Habib Rizieq Shihab. Pembakaran itu menuai protes. Sejumlah masyarakat yang gerah dengan aksi itu kemudian membubarkan massa anonim tersebut.

Masyarakat beralasan aksi yang dilakukan itu mencoreng nama kampus dan mahasiswa di Aceh. Apalagi almamater yang dikenakan tak dikenali berasal dari kampus mana dan terlihat masih sangat baru sekali.

Belakangan aksi ini mendapat sorotan warga Aceh. Ada yang mempertanyakan rentang usia demonstran, yang menyebut diri sebagai mahasiswa itu. Warga Aceh juga mempertanyakan orang-orang yang ikut dalam aksi ini sudah semester berapa, lantaran usia mereka tidak terlihat sebagai mahasiswa.

Banyak yang menduga aksi di Simpang Lima ini merupakan massa bayaran, yang pesertanya tidak tahu apa-apa tentang tujuan demonstrasi. Warga Aceh kemudian meminta agar para pihak mengusut massa anonim yang beraksi di Simpang Lima itu. Publik menilai apa yang dilakukan oleh sekumpulan orang tersebut telah meresahkan karena diduga dapat memprovokasi ummat.

Pertanyaannya adalah apa tujuan utama massa menggelar aksi di Simpang Lima itu? Benarkah mereka tertipu atau dibayar tanpa tahu tujuan dan konteks demonstrasi yang dilakukan? Jika iya, siapa dalang di balik aksi itu? Adakah hubungannya dengan membangun opini publik terkait proses hukum yang sedang dijalani oleh IB FPI Habib Rizieq Shihab di Jakarta?[]