Evakuasi korban gletser
Evakuasi korban gletser gunung Himalaya | Foto: Aljazeera

SEBANYAK 14 orang dipastikan tewas akibat tersapu gelombang gletser Gunung Himalaya di India, Senin, 8 Februari 2021. Sementara 170 orang lainnya masih dinyatakan hilang lantaran terkena semburan air, bebatuan dan debu yang menuruni lembah pegunungan tertinggi di dunia tersebut.

“Sebanyak 15 orang telah diselamatkan dan 14 mayat telah ditemukan dari berbagai tempat sejauh ini,” kata pemerintah negara bagian Uttarakhand, di utara India, melalui akun Twitter seperti dilansir Al Jazeera.

Gelombang dahsyat pada Minggu kemarin telah menyapu proyek pembangkit listrik tenaga air serta banyak merusak fasilitas di bagian hilir. Gletser yang pecah tersebut juga menimbulkan awan debu ketika air mengalir. “Tanah berguncang seperti gempa,” kata warga, Om Agarwal.

Sebagian besar orang yang hilang tersebut merupakan pekerja pada dua proyek, yang salah satunya dibangun oleh pemerintah setempat.

Fokus penyelamatan dilakukan di terowongan sepanjang 2,5 kilometer atau 1,5 mil, yang diduga lokasi paling banyak menjebak para pekerja. Juru Bicara Pasukan Polisi Perbatasan Indo-Tibet, Vivek Pandey, bahkan menduga sebanyak 30 hingga 35 pekerja berada dalam terowongan tersebut. Saat ini, tim penyelamat masih berusaha untuk membuka pintu terowongan agar dapat masuk ke dalam.

Tidak ada peringatan

Seorang saksi mata mengaku sempat melihat dinding berdebu, bebatuan, dan air saat longsoran salju meraung di lembah pegunungan Himalaya. “Itu datang dengan sangat cepat, tidak ada waktu untuk memperingatkan siapa pun,” kata Sanjay Singh Rana yang tinggal di hulu desa Raini.

“Saya bahkan merasa kami akan tersapu,” lanjutnya lagi.

Guna menghindari korban lebih banyak, otoritas terkait turut mengevakuasi desa-desa yang ada di lereng bukit dan berdekatan dengan sungai Gangga. Meskipun demikian, pihak berwenang mengatakan banjir utama telah berlalu sejak Minggu malam.

Otoritas lokal turut melaporkan kondisi siaga tinggi di sejumlah distrik, termasuk Pauri, Tehri, Rudraprayag, Haridwar dan Dehradun.

Sejarah Tsunami Himalaya

Bencana serupa pernah terjadi pada Juni 2013 lalu. Namun, saat itu, banjir dahsyat yang menewaskan hampir 6.000 orang tersebut dipicu oleh curah hujan tinggi. Bencana ini kelak dijuluki sebagai Tsunami Himalaya.

Kawasan Uttarakhand dan Himalaya memang rawan banjir dan longsor. Hal inilah yang membuat mantan Menteri Sumber Daya Air India dan pemimpin senior partai Modi, Uma Bharti, mengkritisi pembangunan proyek pembangkit listrik di daerah tersebut.

“Saya telah mengatakan bahwa Himalaya adalah tempat yang sangat sensitif, jadi proyek pembangkit listrik tidak boleh dibangun di Gangga dan anak-anak sungai utamanya,” kata Uma Bharti.

Hal senada juga disampaikan oleh pakar lingkungan yang menyerukan agar pemerintah menghentikan proyek pembangkit listrik tenaga air di negara bagian itu. “Pemerintah seharusnya tidak lagi mengabaikan peringatan dari para ahli dan berhenti membangun proyek pembangkit listrik tenaga air dan jaringan jalan raya yang luas di ekosistem yang rapuh ini,” kata Ranjan Panda, seorang sukarelawan untuk Advokasi Jaringan Perubahan Iklim yang membidangi masalah air, lingkungan dan perubahan iklim tersebut.[]