IRAN masih sakit hati atas pembunuhan terhadap Jenderal Qassem Soleimane yang dilakukan oleh Amerika Serikat melalui pesawat tak berawaknya di Irak. Dendam tersebut kemudian kembali diungkapkan seorang komandan senior pengganti Soleimani sebagai Kepala Pasukan Elit Quds, Email Ghaani, ketika memperingati hari jadi Universitas Teheran, Jumat, 1 Januari 2021.

“Dari dalam rumah Anda sendiri, mungkin muncul seseorang yang akan membalas kejahatan Anda,” kata Esmail, seperti dilansir Reuters, 1 Januari 2021.

Ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat kian meningkat setelah pembunuhan Jenderal Qassem Soleimani, yang dituding mendalangi serangan milisik di wilayah tersebut. Iran yang kehilangan besar dalam serangan pesawat tak berawak itu kemudian membalas AS dengan menembakkan roket ke pangkalan udara Irak. Pangkalan ini disebut-sebut telah menjadi markas pasukan AS di negara bekas pimpinan Saddam Husein tersebut.

Selain itu, Iran juga menembak jatuh sebuah pesawat penumpang Ukraina yang lepas landas dari Teheran.

Iran juga turut mengibarkan bendera merah pertanda perang pasca pembunuhan Jenderal Qassem, beberapa waktu lalu.

Esmail lebih lanjut mengatakan, “kejahatan Amerika tidak akan menghalangi pasukan Quds untuk melanjutkan jalur perlawanannya.”

Amerika Serikat sempat menerbangkan dua pesawat B-52 di Timur Tengah sebagai langkah antisipasi pada Rabu lalu. Upaya ini oleh para pejabat AS disebut sebagai langkah pencegahan terhadap Iran, jelang peringatan tahun pertama pembunuhan Jenderal Qassem.

Sementara pada Kamis, 30 Desember 2020, Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif menuding Presiden AS Donald Trump terus berusaha memprovokasi untuk melakukan serangan ke Iran. Tentu saja, menurut Zarif, Iran tidak akan tinggal diam dan akan membela diri.

Hal senada juga disampaikan oleh sayap militer Iran di sejumlah wilayah, di Timur Tengah, seperti dari pasukan regional Iran di Libanon, Irak, Suriah, Yaman dan juga Gaza.

Ancaman perang antara Iran dengan Amerika Serikat pasca pembunuhan Jenderal Qassem Soleimani merupakan salah satu mimpi buruk bagi masyarakat internasional pada tahun 2020. Hal tersebut dipicu lantaran kedua negara yang berada pada benua berbeda itu memiliki teknologi nuklir yang dapat mengancam kehidupan penduduk dunia jika perang meletus.[]