JOE Biden dari partai Demokrat berhasil melenggang ke Gedung Putih dengan raihan 290 suara elektoral di Pemilihan Presiden Amerika Serikat. Jumlah ini lebih banyak dari syarat yang ditentukan yaitu 270 suara elektoral.

Kemenangan Joe Biden ini sekaligus mengakhiri kepemimpinan 4 tahun Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat. Selain itu, keberhasilan Joe Biden juga menjadi sejarah terbaru kekalahan petahana dalam Pilpres AS.

Joe Biden bersama Kamala Harris berhasil memastikan kemenangan dalam Pilpres AS setelah merebut Pennsylvania dan Nevada, sehingga membuat suara elektoralnya melejit ke angka 290. Dia masih bisa menambah 16 suara dari Georgia dan tengah membuntuti Trump di North Carolina yang memiliki 15 suara elektoral.

Joe Biden akan menjadi Presiden AS ke-46 bila nantinya benar-benar dilantik usai Pilpres tersebut. Dia pun tercatat sebagai presiden tertua di Amerika Serikat usai dilantik nanti.

Biden telah mencoba selama tiga dekade untuk menjadi Presiden AS, yaitu pada 1987, 2008, dan terakhir 2020. Mimpi Biden akhirnya terwujud tahun ini dengan kemenangan besar serta mampu mengembalikan semangat demokrasi AS melalui suara mayoritas pemilih dan suara elektoral.

Joe Biden telah mengguncang politik Amerika selama setengah abad. Karir politiknya dimulai ketika Richard Nixon berada di Gedung Putih dan Amerika masih mengirim orang ke bulan.

Nama lengkapnya adalah Joseph Robinette Biden, Jr. Pria yang lahir pada 20 November 1942 itu dibesarkan di Kota Scranton, Pennsylvania, dalam sebuah keluarga Katolik Irlandia. Ayahnya hanya seorang penjual mobil.

Ketika krisis terjadi pada 1950-an, sang ayah yang kehilangan pekerjaan kemudian memboyong keluarganya ke Delaware. Usia Joe Biden saat itu baru 10 tahun.

Semasa muda, Biden pernah tercatat sebagai seorang penjaga pantai di lingkungan mayoritas kulit hitam. Sebuah pengalaman yang menurut Biden mampu mempertajam kesadarannya tentang ketidaksetaraan sistemik dan memperkuat kepentingan politiknya.

Biden sempat belajar di Universitas Delaware dan sekolah hukum Universitas Syracuse, sebelum terjun ke dunia politik dengan menjadi senator termuda AS pada tahun 1972.

Namun beberapa pekan kemudian tragedi menimpa keluarganya. Joe Biden kehilangan istrinya Neilia dan putrinya yang berusia satu tahun, Naomi, dalam kecelakaan mobil. Insiden tersebut juga menyebabkan kedua putranya, Hunter dan Beau terluka parah.

Hal paling menarik dari seorang Biden adalah tekad untuk melihat kedua anak laki-lakinya setiap malam. Padahal saat itu Biden harus melakukan perjalanan 1,5 jam dari Delaware ke Washington DC, pulang pergi setiap hari hanya untuk mengucapkan selamat malam kepada dua putranya itu.

Kisah hidupnya menjadi motivasi terbaik bagi bangsa Amerika Serikat masa itu. Apalagi kesehatan Joe Biden tidak dalam kondisi prima lantaran menderita aneurisma pada 1988.

Hal kontroversi yang sempat menyorot Joe Biden terjadi pada 2012 lalu. Politisi Partai Demokrat ini mengungkap bahwa dirinya “benar-benar nyaman” dengan pernikahan sesama jenis, komentar yang dianggap melemahkan presiden, yang sejatinya belum memberikan dukungan penuh untuk kebijakan tersebut.

Hal menarik lainnya adalah peran wakil Joe Biden dalam Pilpres AS, Kamala Harris. Kamala Harris menjadi wanita kulit hitam pertama yang duduk di kursi nomor 2 Gedung Putih.

Nama lengkap perempuan ini adalah Kamala Devi Harris, seorang perempuan berdarah India-Amerika yang lahir di Oakland, California, AS, pada 20 Oktober 1964. Ayahnya berdarah Jamaika dan kini mengajar di Stanford University. Sementara sang ibu adalah peneliti kanker, sekaligus putri dari seorang diplomat berkebangsaan India.

Senator dan mantan Jaksa Agung California ini telah mematahkan stigma bahwa hanya kaum laki-laki yang sebagian besar didominasi kulit putih, yang bisa bercokol di level tertinggi politik AS selama lebih dari dua abad. Harris akan menjadi orang pertama keturunan Asia Selatan yang menjadi Wakil Presiden AS setelah Pilpres 2020 dimenangkan Joe Biden.

Keberadaan Kamala Harris turut diidentikkan dengan wakil multi kulturalisme yang mendefenisikan AS, yang sebagian besar tidak terwakili dalam pusat-pusat kekuasaan di Washington.

Kamala Harris pun digadang-gadang sebagai pemberi harapan bagi kaum perempuan yang terpukul oleh kekalahan Hillary Clinton pada Pilpres AS empat tahun silam.

Kamala Harris mulai dikenal publik AS saat menyampaikan pidato yang berkesan di Konvensi Nasional Partai Demokrat pada 2012. Dia kemudian direkrut untuk mencalonkan diri di kursi Senat AS yang dipegang oleh Barbara Boxer.

Selama menjadi Senator AS dia bertugas di Komite Seleksi Intelijen dan Komite Kehakiman. Sepak terjangnya sebagai senator tidak pernah diragukan, terlebih ketika gaya penuntutannya dalam menanyai saksi selama persidangan membuat perempuan ini semakin dikenal.

Dia juga menyita perhatian publik saat mempertanyakan kesaksian Jaksa Agung AS Jeff Sessions, tentang dugaan campur tangan Rusia di Pemilihan Presiden 2016. Dalam sidang di depan Komite Intelijen tahun 2017 itu, Kamala Harris bahkan menyebut agar sang jaksa agung untuk mengundurkan diri.

Sejak awal, Kamala Harris dipandang sebagai salah satu kandidat terdepan dalam Pilpres 2020. Namun kampanyenya mengalami masalah serius pada September 2019.[]