AUSTRIA akan memerintahkan penutupan masjid sebagai bentuk ancaman bagi keamanan nasional negara itu pasca penembakan mematikan di ibukota Wina awal pekan ini.

Seorang juru bicara Kementerian Dalam Negeri Austria, Jumat, 6 November 2020 mengatakan, rincian lebih lanjut akan segera diberikan dalam konferensi pers dengan Menteri Dalam Negeri Karl Nehammer dan Menteri Integrasi Susanne Raab.

Dilansir dari Al-Jazeera disebutkan, empat orang tewas dalam penembakan pada hari Senin, 2 November 2020 lalu. Penembakan tersebut menjadi serangan besar pertama Austria dalam beberapa dekade.

Tersangka yang diidentifikasi bernama Kujtim Fejzulai, 20 tahun, merupakan warga Makedonia Austria, berhasil dilumpuhkan oleh polisi pasca serangan mematikan itu.

Fejzulai sebelumnya telah dihukum lantaran mencoba bergabung dengan kelompok ISIL (ISIS) di Suriah, tetapi dibebaskan lebih awal dari penjara pada bulan Desember.

Sementara itu, Komunitas Agama Islam Austria dalam sebuah pernyatan resmi mengatakan serangan itu berimbas pada penutupan satu masjid oleh otoritas terkait.

Masjid tersebut ditutup setelah adanya informasi tentang pelanggaran aturan atas “doktrin agama dan konstitusinya”, serta undang-undang nasional yang mengatur lembaga-lembaga Islam.

Sementara itu, otoritas Jerman turut menangkap beberapa orang yang diduga berkaitan dengan Fejzulai pada Jumat, 6 November 2020.

Serangan di Wina itu menyusul serangan di Nice, Prancis, di mana empat orang dibunuh oleh seorang pria asal Tunisia.

Setelah beberapa serangan, Prancis juga mulai menutup masjid dan menindak organisasi yang diduga menyebarkan kebencian.

Namun, ada kekhawatiran hukuman kolektif dan meningkatnya Islamofobia, terutama karena Barakacity, sebuah lembaga amal terkemuka, dibubarkan pada akhir Oktober.[]