“TUUMMM!!!” Suara itu menggelegar. Bergetar memecah kesunyian di Gampong Cot Alue. Ramai warga yang baru saja pulang memetik jamur di sawah terdiam. Salah satunya Teungku Don.

“Bom?” Tanya Teungku Don.

“Bukan. Suaranya tidak sama,” timpal Madi.

Tak berapa lama dari jalan desa terdengar suara lengkingan reo tentara yang mendekat ke arah suara ledakan tadi. Abu Keuchik mematung, tak lama kemudian mengurut dada. Dia lantas mengajak Teungku Don dan Madi untuk singgah dulu di rumahnya.

Ta piyoh u rumoh dilee,” ajak Abu Keuchik. Undangan itu tak mendapat penolakan. Kedua orang tersebut langsung mengiyakan karena jika memilih pulang, harus melalui jalan desa. Artinya mereka harus berpas-pasan dengan para tentara. Jika ledakan tadi tidak terjadi, langkah mereka tidak mungkin berhenti di rumah Abu Keuchik.

Gura that, ka troh lam gampong dipeuget but,” kata Teungku Don, sembari duduk di dipan, di bawah rumah panggung Abu Keuchik.

“Saya yakin itu bukan suara bom. Mungkin pecah ban mobil atau semacamnya,” kata Abu Keuchik.

“Mudah-mudahan,” harap Madi.

“Oya Abu, saya dengar ada murid di madrasah yang musibah. Apa benar?” Tanya Teungku Don.

“Iya, Redha Munandar. Ayahnya hilang diculik orang. Sudah sepekan lebih tidak tahu dimana rimbanya.”

“Hmmm… Kelihatannya konflik di daerah kita semakin memanas. Perang seakan terus berulang di negeri kita.”

“Maksudnya bagaimana Teungku Don?” Tanya Madi.

“Dulu, perang juga pernah terjadi di tempat kita, di awal-awal kemerdekaan. Perang antarsesama, bahkan melibatkan para tentara di kedua belah pihak baik dari Aceh maupun tentara nasional,” jelas Teungku Don.

“Iya, masa itu perang dideklarasikan oleh Abu Beureueh yang tidak terima Aceh disatukan di bawah pemerintahan Sumatera Utara. Abu Beureueh juga menuntut daerah ini diberlakukan sebagai daerah khusus dengan hukum syariat Islam,” Abu Keuchik melengkapi cerita Teungku Don.

“Kalau sekarang? Apakah orang-orang yang terlibat dalam perlawan sudah berbeda?”

“Ada pemain baru, juga ada veteran perang lama,” timpal Abu Keuchik.

Abu Keuchik dan Teungku Don kemudian larut dalam kisah perlawanan Abu Beureueh di Aceh. Kawasan mereka saat itu juga tidak luput dari perang. Namun, perang saat itu tidak seperti sekarang karena kekuatannya agak seimbang di kedua belah pihak. Lagipula pasukan Abu Beureueh sebagian besar adalah tentara Aceh yang turut dilengkapi dengan senjata bekas peninggalan Belanda dan Jepang.

“Baik dari pejuang maupun tentara nasional saat itu sama-sama memiliki keahlian tempur gerilya dan memiliki semangat juang yang tinggi. Mereka juga berpangalaman dalam perang, tidak seperti perlawanan yang digelorakan sekarang karena banyak anak-anak muda yang baru belajar memegang senjata,” kata Teungku Don.

Di tengah ketiganya sedang asyik bercerita, dari kejauhan terlihat seorang perempuan datang dengan tergesa-gesa ke rumah Abu Keuchik. Perempuan itu adalah Maryana, seorang pemilik kios kecil di jalan desa.

Abu, droneuh diheui le awak nyan u blang rot barat,” kata Maryana.

Abu Keuchik cemas. Teungku Don was-was. Madi hanya diam membisu.

“Mengapa tentara memanggil Abu Keuchik? Ada insiden apa? Apakah terkait suara ledakan tadi?”

“Iya Teungku Don. Na aneuk mit maen beudee trieng, ka keunong teupuk bak si pai,” kata Maryana lagi.

Abu Keuchik menarik nafas panjang. Menurut Abu Keuchik, insiden seperti ini tidak terlalu mencemaskan atau membahayakan nyawa. Meskipun demikian, menurut Abu, apa yang dilakukan oleh anak-anak tersebut sangat merugikan bagi mereka sendiri.

Abu Keuchik kemudian mengikuti Maryana ke tempat para tentara mengumpulkan anak-anak desa. Butuh waktu hingga 15 menit bagi Abu Keuchik mendatangi lokasi yang dimaksud. Itupun dengan langkah sedikit berlari karena mengikuti Maryana yang tergopoh-gopoh ke lokasi.

Jeh pat Abu,” tunjuk Maryana ke arah salah satu rangkang di tengah sawah. Di sana terlihat beberapa anak kecil yang berbaris rapi di hadapan sekumpulan tentara. Dari jauh terlihat beberapa anak kecil itu adalah Ramadhan, Amat dan Ma’e.

“Jawab!” teriak salah seorang prajurit kepada anak-anak tersebut, yang salah satunya sudah menangis tersedu sedan. “Tidak kubilang pak,” jawab Ma’e.

“Kurang ajar. Kecil-kecil sudah jadi pemberontak kamu.”

Abu Keuchik menangkap pembicaraan mereka dari kejauhan. Kemudian mempercepat langkah menuju kerumunan dan langsung menyapa, “assalammu’alaikum.”

“Ya, waalaikumsalam,” jawab seorang prajurit berhelm baja. Pria yang mengenakan kacamata hitam dan juga menyandang senapan serbu yang baru saja melepaskan “cap lima” ke wajah anak-anak tersebut melihat Abu Keuchik. Wajahnya memerah.

“Maaf pak, ada apa ini?” Abu Keuchik memberanikan diri bertanya.

“Bapak ini lurah di sini?”

“Iya pak.”

“Bapak kenal dengan anak-anak ini. Apa benar mereka warga bapak?”

“Iya pak. Benar, mereka juga anak-anak di pengajian saya,” jelas Abu Keuchik.

“Bapak tahu kan daerah kita sedang bergejolak. Banyak pemberontak yang menyabotase pembangunan dan meledakkan konvoi di jalanan? Coba bapak liat wajah anak-anak nakal ini. Mereka dengan berani-beraninya membakar meriam bambu di tengah kondisi seperti ini. Apa mereka cari mati?”

Abu Keuchik hanya menahan nafas. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Semua tertahan di tenggorokan.

“Bocah yang satu ini sudah mengakui perbuatannya, tapi dia malah merahasiakan berapa orang yang terlibat,” kata prajurit itu lagi seraya mengokang senjata.

Ramadhan dan Amat terkejut. Ma’e histeris. “Betul pak, tidak kubilang pak,” kata Ma’e sembari menangis sejadi-jadinya.

“Berani-beraninya kamu ya, anak siapa kamu? Diajarin sama bapakmu ya melawan tentara?”

Hana pak, bapak saya sudah lama meuninggai,” kata Ma’e dengan bahasa Aceh bercampur Indonesia.

“Maaf pak, boleh saya yang bertanya pada anak ini?”

“Ya, coba bujuk dia. Saya sebenarnya tidak suka juga mengasari anak-anak,” kata prajurit tadi.

Peu yang ditanyong le awak nyo (apa yang ditanya oleh para tentara?)” Tanya Abu Keuchik kepada Ma’e.

Padum droe yang tot beudee trieng, Abu (Berapa orang yang membakar meriam bambu).

Pakon han peugah laju padum droe? Kon hana meupeu nyoe ka meuno. (Mengapa tidak jujur saja. Kan kalau seperti ini mengundang malapetaka bagi kalian).

Hana lon tudum droe, Abu. Jai beuno di sinoe, man awaknyoe abeh diplueng. Hana lon bileung. Ka lon peugah bak bapak nyan, hana lon bileung. Han dipateh chit (Saya tidak tahu Abu. Ramai tadi di sini, cuma mereka sudah kabur semua tinggal kami bertiga. Saya tidak menghitung berapa orang. Sudah saya sampaikan ke bapak itu, tidak saya hitung. Tidak percaya juga).

Teuman kiban ka peugah? Tidak kubilang beuno nyan? (jadi seperti apa kamu sampaikan? Tidak kubilang yang tadi itu?)

Nyoe, Abu. Kon ka beutoi hana kubileung. Tidak kubilang lam bahasa Indonesia (iya, Abu. Kan sudah benar tidak saya hitung dalam bahasa Indonesia itu tidak kubilang),” jawab Ma’e tanpa rasa bersalah sembari memegang pipi kirinya yang memerah.

Abu Keuchik kembali menarik nafas panjang lalu menghadap prajurit yang marah-marah tadi. Dia menjelaskan bahwa terjadi kesalahpahaman dalam berkomunikasi antara anak-anak dengan para tentara. “Mereka tidak begitu menguasai bahasa Indonesia, pak. Jadi ada yang salah dalam penyampaiannya. Bukan mereka tidak mau memberitahukan berapa orang yang ikut membakar meriam bambu tadi, tetapi mereka tidak menghitungnya karena terlalu ramai. Tidak kubilang yang dimaksud, tidak saya hitung, pak. Jadi begitu pengakuan anak-anak ini,” jelas Abu Keuchik panjang lebar.

Tentara tadi melihat wajah Ma’e. Dia juga memandang Ramadhan dan Amat. Lalu tentara itu mendekati Ma’e dan berbisik kepada bocah tersebut. Abu Keuchik hanya melihat keduanya. Sementara sang surya terus merayap ke atas kepala. Panas sulurnya semakin terasa di kulit Abu Keuchik.

“Ya sudah, bapak tolong nasehati mereka agar tidak berulah seperti tadi lagi. Kami harus kembali ke pos,” kata prajurit tersebut.

“Baik pak,” jawab Abu Keuchik.

Tentara itu lantas memberikan aba-aba kepada pasukannya untuk kembali ke mobil reo. Semuanya bergerak meninggalkan Abu Keuchik, Ramadhan, Amat dan tentu saja Ma’e yang masih meringis karena kesakitan.

Abu Keuchik melihat wajah anak-anak didiknya. Dia menggeleng-geleng kepala dan langsung mengajak mereka pulang. “Jangan diulangi lagi. Dengar kalian?”

“Iya Abu.”

Kah na ka deungo, Ma’e?”

Na, Abu.”

“Nyan ukeu, nyoe na sigoe teuk lage beuno, hana lon jak peuglah lee awak gata. Bek brat that batat-batat teungoh lagee nyoe nanggroe, alahai Ma’e tidak kubilang (Ke depan, kalau kejadian seperti itu lagi terulang, saya tidak mau lagi melepaskan kalian. Jangan nakal-nakal karena kondisi negeri sedang konflik seperti ini, dasar Ma’e tidak kubilang).”

Abu Keuchik terus menasehati ketiga anak-anak tersebut di perjalanan pulang, terutama Ma’e yang bernama lengkap Ismail itu. Dia meminta Ma’e untuk giat belajar dan memperbaiki bahasa Indonesianya.

Dan begitulah, sejak itu, Ma’e dikenal dengan sebutan Ma’e Tidak Kubilang lantaran Ramadhan dan Amat yang sebenarnya juga kena hukuman dari para tentara, menjadikan kejadian naas yang menimpa mereka hari itu menjadi objek lelucon ketika berkumpul dengan anak-anak yang lain.[] Bersambung

Baca juga:

Kulat [1]Kulat [2]Kulat [3]Kulat [4]Kulat [5]Kulat [6]Kulat [7]Kulat [8]Kulat [9]Kulat [10]Kulat [11]Kulat [12]Kulat [13]Kulat [14]Kulat [15]Kulat [16]Kulat [17]Kulat [18]


Note: Kisah ini merupakan fiktif belaka. Jika terdapat kesamaan pada nama pelaku, kejadian, dan tempat hanya kebetulan semata.