“SUDAH sepekan Redha tidak masuk kelas. Apakah dia baik-baik saja? Ada yang tahu?” Tanya Abu Keuchik kepada para murid sesaat setelah membuka jam belajar mengajar hari itu.

Tidak ada jawaban. Semua diam. Abu Keuchik pun tidak melanjutkan pertanyaannya. Di dalam benak pria tersebut, muncul kekhawatiran akan nasib ayah Redha yang menyebabkan muridnya tersebut tidak sekolah.

Jam belajar hari itu selesai begitu cepat lantaran Abu Keuchik berniat mengunjungi rumah Redha. Namun sebelum ke rumah Redha, Abu Keuchik terlebih dulu menemui Yah Ma’e sang penjaga sekolah.

“Jadi meunan Abu,” kata Yah Ma’e.

Get, akan lon peusampo haba nyoe bak porumoh beliau. Lon pih neuk saweu si Redha, ka siminggu hana ditamong sikula,” kata Abu Keuchik.

Abu Keuchik sebelumnya memang meminta bantuan Yah Ma’e untuk mencari informasi tentang keberadaan ayah Redha Munandar. Kebetulan Yah Ma’e memiliki jaringan luas di kalangan kombatan di wilayah itu. Meskipun demikian Yah Ma’e enggan untuk menyampaikan informasi yang didapatnya itu langsung ke keluarga Redha Munandar. Dia tidak mau terlibat dalam kasak-kusuk politik daerah yang sedang dirudung konflik itu.

Abu Keuchik meninggalkan madrasah dan melaju ke arah jalan protokol. Selanjutnya dia menuju Gampong Lhok Alue Drien, tempat Redha Munandar menetap. Sepeda ontel Abu Keuchik melaju cepat di jurong-jurong desa itu dan akhirnya tiba di rumah yang dituju. Di pintu gerbang rumah berkelir hijau muda itu terlihat ada bendera merah, tanda duka, yang dipasang di kiri dan kanannya. Orang ramai juga terlihat di depan rumah beratap genteng warna coklat itu.

Assalammualaikum,” Abu Keuchik memberikan salam yang dijawab hampir serentak oleh manusia-manusia yang ada di halaman rumah tersebut.

Oh, dronneuh Abu. Piyoh,” sambut Razali, adik kandung ayah Redha.

Get. Lon jak saweu Redha ka siminggu hana dijak sikula. Peu sihat aneuk metuah nyan?

“Alhamdulillah, sehat Abu. Cuma kami memang belum memperkenankan Redha ke sekolah karena ibunya sedang berduka. Kami meminta Redha untuk menemani ibunya agar tidak terlalu sedih,” cerita Razali.

“Jadi apakah sudah ada kabar tentang ayah Redha?”

“Belum Abu, pihak keluarga mulai mengikhlaskannya. Kami bahkan sudah menggelar tahlilan tujuh hari,” jawab Razali.

Abu Keuchik lantas menceritakan informasi yang disampaikan Yah Ma’e soal ayah Redha.

“Jadi mereka juga tidak tahu tentang kasus ini?”

“Iya, begitulah. Cuma ada yang pernah mendengar beliau pernah dituding dekat dengan gerilyawan,” kata Abu Keuchik lagi.

“Abang saya itu dekat dengan semua orang. Kepribadiannya juga dikenal sebagai sosok dermawan, jadi tidak pernah berat tangan untuk membantu orang lain. Sayang sekali nasib dia. Padahal baru saja mendapat promosi jabatan baru di kantornya,” kata Razali.

“Bagaimana dengan informasi dari polisi?”

“Belum ada Abu. Ada dugaan penculikan abang saya ini terkait dengan pekerjaannya di kantor, tapi polisi belum dapat memastikan karena masih mengedepankan asas praduga tak bersalah. Kita berharap ada petunjuk. Kami dari pihak keluarga sangat berharap, jikapun beliau tidak selamat, setidaknya para penculik memberitahukan dimana pusaranya,” kata Razali.

Abu Keuchik menarik nafas panjang. Menurutnya sangat kecil kemungkinan seseorang yang diculik atau dihilangkan secara paksa dapat ditemukan jasadnya. Dari beberapa kasus penculikan yang terjadi di Aceh selama konflik berlangsung, banyak orang-orang yang hilang tidak pernah ditemukan dimana jasadnya. Pihak keluarga hanya dapat menduga-duga saja apakah korban masih hidup atau sudah meninggal dunia. Bagi mereka yang ikhlas, maka semuanya menyerahkan kepada kehendak Sang Maha Kuasa.

Adzan dhuhur terdengar lantang dari corong masjid dekat rumah Redha. Abu Keuchik melirik jam tangan dan kemudian izin pamit. Razali tidak menahan keinginan Abu Keuchik karena pada saat yang sama sudah memasuki waktu salat dhuhur.

Beuteugoh bak jalan, Abu,” kata Razali.

“Insya Allah,” jawab Abu Keuchik sembari menyeret sepeda ontelnya keluar dari halaman rumah Redha.

Abu Keuchik langsung pulang selesai menunaikan salat fardhu di masjid Gampong Cot Alue Drien. Dia melewati jalan protokol penghubung kabupaten yang sering dilewati bus-bus besar antar provinsi. Sesekali sepeda ontel yang dikayuh Abu Keuchik disalip oleh kendaraan dari arah Banda Aceh. Perjalanan siang itu tidak begitu terasa melelahkan lantaran mendung menggantung di langit. Abu Keuchik menikmati perjalanan pulangnya. Sesekali membayangkan nasib ayah Redha yang tidak tahu dimana rimbanya.

Dari kejauhan terdengar suara mesin meraung keras disertai pekikan knalpot yang mengeluarkan angin. Deru mesin seperti itu mulai akrab di telinga warga. Abu Keuchik memalingkan muka ke arah suara. Terlihat beberapa mobil reo melaju dengan kecepatan tinggi disusul beberapa panser di belakangnya. Abu menepi.

Reo pabrikan Mercedes Benz itu terlihat kotor. Ada lumpur yang menempel di sisi badan truk yang dipasang batang kelapa itu. Pintu belakang truk juga terlihat terbuka ketika konvoi melewati Abu Keuchik. Ada beberapa orang yang terbaring di atasnya. Abu Keuchik langsung menunduk. Tak ingin lama-lama memerhatikan parade tentara yang baru saja lewat itu. Begitu jalanan sepi, Abu Keuchik menyeberang ke arah jalan masuk Gampong Cot Alue dengan menggiring sepedanya. Dia secara tak sengaja memerhatikan ada bercak merah sepanjang jalan protokol yang baru saja dilewati konvoi tentara tersebut. “Darah!”

Abu Keuchik mempercepat langkahnya ke warung Yah Uma. Di sana terlihat Harlan dan Madi sedang menenggak secangkir kopi.

“Assalammualaikum,” sapa Abu Keuchik.

“Waalaikumsalam,” jawab Madi.

Ka jeut gisa, bek trep-trep bak keudee. Sang banleuh prang lom uroe nyoe,” sergah Abu Keuchik kepada Harlan dan Madi. Yah Uma yang mendengar kata-kata Abu Keuchik langsung mematikan tungku perapian dan merapikan gelas-gelas sisa minum pelanggan. Begitu pula Harlan dan Madi tak tunggu lama untuk mengetahui lebih lanjut saran Abu Keuchik itu. Semua hening. Hanya suara sepeda motor CB milik Harlan yang memecah kesunyian siang itu. Abu Keuchik pun pergi tanpa membuang waktu lama dari kedai kopi Yah Uma. Di belakang Abu Keuchik menyusul Madi yang juga mengayuh sepeda Phoenix bercat hijau miliknya.

Jalan menuju rumah Abu Keuchik seakan terlihat mulus hari itu sehingga tak butuh waktu lama untuk Abu Keuchik sampai di rumahnya. Begitu hendak memarkir sepeda ontel di salah satu tiang rumah, terdengar suara yang juga kian akrab bagi warga. “Tret..tret..tret..tar…tar…tam…tum…”[] bersambung…

Baca juga:

Kulat [1]Kulat [2]Kulat [3]Kulat [4]Kulat [5]Kulat [6]Kulat [7]Kulat [8]Kulat [9]Kulat [10]Kulat [11]Kulat [12]Kulat [13]Kulat [14]Kulat [15]Kulat [16]Kulat [17], Kulat [18]


Note: Kisah ini merupakan fiktif belaka. Jika terdapat kesamaan pada nama pelaku, kejadian, dan tempat hanya kebetulan semata.