BULAN masih setia tersenyum di langit Desa Cot Alue. Sinar sang ‘Dewi Malam’ menyorot seekor kelelawar yang terbang dari pucuk rumpun bambu dan hinggap di salah satu dahan pohon kakao. Hewan yang berasal dari ordo Chiroptera ini terlihat menggigit satu buah kakao, tetapi gagal. Buah itu jatuh ke tanah tepat di kaki Zahra. Gadis cilik ini terkejut. Dia melongok ke atas dan mengusir kelelawar tadi.

Hushhh… kaget saya. Aku pikir tadi buah kelapa yang jatuh,” kata Zahra.

Kejadian yang menimpa Zahra membuat Laily dan Siti tersenyum. Siti merupakan teman sepermainan Zahra dan Laily yang usianya jauh lebih muda daripada kedua anak Abu Keuchik tersebut. Rumah Siti hanya berselang satu lorong dari rumah Zahra dan Laily.

“Jangan berdiri di bawah pohon kakao. Kalau ada yang jatuh lagi nanti malah menimpa kepala kamu,” ujar Siti mengingatkan Zahra.

Ketiga gadis kecil ini kemudian duduk di bawah rumah panggung Abu Keuchik. Mereka sesekali melirik jam dinding tua milik Abu Keuchik yang digantung di ruang dapur. Tingkah ketiga gadis kecil ini mengundang perhatian Arbaini, kakak perempuan Laily dan Zahra.

“Kalian sedang apa di luar malam-malam seperti ini? Siti kenapa belum pulang ke rumah?” Tanya Arbaini. Abu Keuchik yang duduk di beranda rumah hanya mendengar percakapan putri-putrinya.

Ketiganya mencari-cari alasan berkumpul di rumah Zahra malam itu. Laily yang lugu nyaris mengungkap rahasia mereka berkumpul di bawah rumah Abu Keuchik. Namun, Zahra yang melihat gelagat Laily langsung memotong. “Sedang siap-siap mengerjakan tugas sekolah,” ujar Zahra.

“Oh, kenapa di luar. Masuk ke dalam saja? Di luar kan banyak nyamuk,” kata Arbaini.

“Di dalam panas. Di luar enak ada angin,” ujar Siti.

“Ya sudah, jangan lama-lama di luar. Nanti masuk angin,” kata Arbaini. Ketiga gadis kecil itu kemudian saling pandang. Mereka terkekeh pelan setelah Arbaini masuk ke dalam rumah.

Dari ujung jalan setapak, melintas seorang pemuda tanggung menuju areal persawahan. Namanya Madi. Rambutnya ikal, wajahnya sangar dan berbadan tegap. Madi merupakan pemuda berusia 12 tahun yang putus sekolah. Madi terkenal ulet dalam bekerja sehingga banyak warga yang mengandalkannya untuk membantu aktivitas mereka sehari-hari. Remaja ini berasal dari keluarga kurang mampu yang kehidupan ekonomi mereka hanya bertumpu pada seorang ibu. Ayah Madi telah lama meninggal dunia. Ada yang menyebutkan Ayah Madi diculik orang tak dikenal. Tetapi ada juga yang mengatakan Ayah Madi sosok pejuang yang tewas di medan perang. Setidaknya itu yang diingat oleh Zahra.

“Mau kemana abang Madi?” tanya Zahra.

Sosok yang ditanya menoleh. Dia nyaris terjatuh karena kakinya menginjak batu bulat dekat gerbang rumah Zahra. “Saya pikir siapa tadi, rupanya Zahra. Saya mau ke sawah, abang-abang mau main geudeu-geudeu. Saya dimintai tolong untuk meratakan jerami padi,” kata Madi. Ketiga gadis ini tersenyum. Apa yang mereka tunggu-tunggu akan segera dimulai. “Ya sudah, saya bergegas ke sawah dulu ya. Nanti kelamaan mulai geudeu-geudeu,” kata Madi lagi.

“Baik bang Madi.”

Tak lama setelah Madi berlalu, beberapa pria dewasa terlihat berdatangan dari ujung jalan lorong rumah Zahra. Mereka hendak menuju area persawahan Cot Alue. Diantara pria dewasa tersebut ada 10 orang yang berbadan kekar. Di belakang mereka menyusul beberapa pria paruh baya. “Apa kalian yakin ingin bermain geudeu-geudeu malam ini?” tanya seorang pria dewasa kepada rekannya. Abu Keuchik yang masih duduk dengan syahdu di beranda rumah hanya diam saja mendengar percakapan para pria itu.

“Entahlah, sudah tiga kali musim panen kita tidak menggelar geudeu-geudeu. Sudah gatal rasanya badan ini ingin bermain geudeu-geudeu,” kata pria lainnya.

“Kalian lihat tadi ada empat unit mobil reo melintas? Aku menduga mereka menuju ke arah Bukit Pemancar. Untung saja mereka tidak berhenti dan bertanya kepada kita. Nampaknya mereka terburu-buru ke sana,” kata seorang pemuda lainnya.

“Kalian yang tidak ditanyai tentara. Saya tadi diinterogasi mau kemana oleh mereka. Untung saja diantara mereka ada orang Aceh. Aku bilang mau main geudeu-geudeu. Mereka melarang karena tidak boleh ada aktivitas kalau malam,” kata seorang pria lainnya.

Nah, itu sudah ada larangan. Berbahaya kalau kita teruskan main geudeu-geudeu?” Sekarang giliran pria berbadan kekar yang berjalan di depan rombongan yang bertanya. Tidak ada yang menjawab pertanyaan pria tersebut. Semuanya diam.

“Paling kalau ada apa-apa, kalian yang dihajar duluan oleh tentara. Badan kalian kan kekar mirip tentra,” timpal pria paruh baya yang berada di belakang rombongan.

Para pria itu kemudian bungkam. Sesaat suasana hening. Hanya bunyi bebatuan yang tersepak oleh kaki-kaki para pria ini yang terdengar. Hingga akhirnya mereka berhenti di bawah rumpun bambu, di tepi sawah warga Cot Alue. “Bagaimana menurut kamu, Seuman?” tanya pria yang menggunakan peci hitam. Seuman yang bernama asli Usman tidak langsung menjawab. Dia melihat ke kanan dan ke kiri. Lalu melihat ke atas. “Bulan penuh. Pas sekali kalau kita bermain geudeu-geudeu. Tetapi resikonya besar sekali. Nyawa taruhannya. Lebih baik kita musyawarahkan dengan Abu Keuchik dulu,” kata Seuman.

Seuman merupakan Ketua Pemuda di desa Cot Alue. Dia dipercaya menjadi panitia pelaksanaan geudeu-geudeu di desa tersebut. Seuman kembali ke rumah Zahra dan Laily dengan maksud menjumpai Abu Keuchik.

“Assalammualaikum, ada Abu di rumah?” tanya Seuman kepada Zahra.

“Ada bang. Naik saja ke atas (dalam rumah), beliau lagi minum kopi,” kata Zahra.

“Baik. Terima kasih dik,” kata Seuman.

Waalaikumsalam, neu ek aju u ateuh (naik saja ke sini),” suara Abu Keuchik terdengar dari beranda rumah panggung itu.

Lebih 15 menit Seuman berada di rumah Abu Keuchik. Dia kemudian menuruni tangga rumah yang disusul oleh Abu Keuchik. “Lebih baik dibatalkan saja kalau memang tadi ada tentara ke Bukit Pemancar. Biasanya ada insiden,” kata Abu Keuchik lagi.

“Baik Abu.”

Seuman berlari ke arah rombongan dan menceritakan hasil diskusi tadi bersama Abu Keuchik. Wajah para pria ini terlihat kecewa. Madi yang sedari tadi menumpuk jerami pun berhenti. Dia menuju ke arah rombongan pria yang berkumpul di bawah rumpun bambu. “Kalau saja mereka tidak bersenjata, aku berani melawannya. Kita kan cuma main geudeu-geudeu, bukan mau memberontak,” kata seorang pria berbadan kekar.

Perdebatan meneruskan atau membatalkan pertandingan geudeu-geudeu berlangsung alot selama beberapa menit, hingga suara senjata api membungkam diskusi di bawah sinar purnama itu. “Trettt…trett..treettt… Dor..dor!!!”

Semuanya bungkam dan balik kanan. Mereka pulang ke rumah masing-masing tanpa sepatah kata yang keluar.

Zahra dan Laily pun terdiam di bawah rumah panggung mereka. Abu Keuchik yang sedang menaiki tangga beranda rumahnya langsung balik kanan. “Laily, Zahra, masuk ke dalam. Siti pulang ke rumah, cepat!”

That na teuh,” kata Zahra bernada kecewa.[] Bersambung…

Baca juga:

Kulat [1]Kulat [2]Kulat [3]Kulat [4]Kulat [5]Kulat [6]Kulat [7]Kulat [8]Kulat [9]Kulat [10]Kulat [11]Kulat [12]Kulat [13], Kulat [14]


Note: Kisah ini merupakan fiktif belaka. Jika terdapat kesamaan pada nama pelaku, kejadian, dan tempat hanya kebetulan semata.


Cerita bersambung ini ditulis oleh Boy Nashruddin Agus dan akan ditayangkan setiap Sabtu, setiap pekannya.