SEEKOR tikus meloncat-loncat di pematang sawah. Mamalia pengerat ini mencari bulir padi yang tersisa untuk dibawa ke sarangnya. Cahaya bulan terus menemani aktivitas tikus yang berpindah dari satu petak sawah ke petak sawah lainnya. Lelah mencari bulir padi yang tersisa, tikus masuk ke jerami bertumpuk di persawahan itu. Lagi-lagi, binatang berbuntut itu berharap ada sedikit makanan yang dapat diboyong untuk tikus kecil yang menunggu di lubang, tak jauh dari areal persawahan itu. Namun nihil. Petani Cot Alue sudah membawa semua padi di sawah mereka. Di sana hanya ada tumpukan jerami yang jika ditimbang mencapai ribuan ton. Jerami yang ditumpuk sedemikian rupa tersebut ibarat bukit buatan. Setiap mata memandang, maka terlihatlah ratusan bukit jerami di persawahan warga yang tersebar hingga ke kaki Bukit Pemancar.

Sawah-sawah yang membentang hingga sejauh mata memandang itu bukan hanya milik warga Cot Alue. Namun, areal sawah yang luas itu juga milik warga dari desa lain. Saking luasnya, areal sawah itu membujur hingga ke perbatasan kabupaten, baik di timur maupun barat. Inilah yang membuat kabupaten yang menaungi desa Cot Alue tersebut menjadi lumbung padi yang selalu menjadi andalan pemerintah daerah bahkan sejak era kesultanan Aceh Darussalam. Di masa kesultanan, kawasan Cot Alue dan sekitarnya turut menjadi kawasan istimewa karena mampu menjadi daerah penghasil sumber pangan terbesar untuk kerajaan.

Meskipun demikian, kawasan Cot Alue juga pernah mengalami krisis pangan di masa dulu akibat serangan hama dan bencana alam. Namun warga yang bergantung hidup pada hasil pertanian tidak menyerah begitu saja. Alhasil, kawasan Cot Alue dan sekitarnya kembali bangkit dari kondisi panceklik dengan membenahi areal persawahan mereka. Kini kabupaten yang menjadi payung pemerintahan Cot Alue telah memiliki ribuan hektare sawah. Dari ribuan hektare sawah yang menyebar nan luas itulah terdapat sepetak lahan milik Abu Keuchik, yang letaknya tak begitu jauh dari pemukiman penduduk setempat.

Bulan masih bersinar terang ketika tikus mungil yang kelelahan mencari bulir padi menyusuri jalan setapak menuju lorong rumah Abu Keuchik. Namun si tikus terperanjat karena dari ujung lorong rumah Abu Keuchik terlihat dua anak kecil yang sedang berlari-lari mengenakan mukena. Anak-anak itu baru saja pulang dari meunasah. Satu diantara anak itu menuju ke sawah sembari berkacak pinggang. Dia memandangi hamparan sawah yang sekarang berubah menjadi ‘bukit-bukit’ jerami.

“Sebentar lagi pasti ada geudeu-geudeu,” ujar anak perempuan itu.

“Darimana kamu tahu, Laily?” Tanya anak perempuan lainnya.

“Sudah menjadi adat sehabis panen ada geudeu-geudeu di tempat kita. Siti mana tahu, masih kecil. Lihat saja nanti,” kata Laily lagi.

Laily mengatakan bukit-bukit jerami itu sebentar lagi akan diratakan untuk matras pemain geudeu-geudeu oleh para pemuda. Ketika Laily sedang sibuk menjelaskan arena geudeu-geudeu, dari belakang datang Zahra. Gadis kecil itu mengejutkan Laily dan Siti yang berada di tepi sawah. “Baaaa…. Ngapain kalian?” Tanya Zahra.

“Laily bilang nanti ada geudeu-geudeu. Apa benar?” Tanya Siti.

“Ya ampun, Siti enggak tahu ya? Kami setiap habis panen padi menonton geudeu-geudeu,” ujar Zahra membenarkan keterangan Laily.

Laily dan Zahra paling senang menonton permainan geudeu-geudue. Berbeda dengan Siti, bocah pindahan dari pesisir timur Aceh tersebut sama sekali belum pernah melihat geudeu-geudeu. Dia bahkan pada awalnya menduga geudeu-geudeu sejenis makanan yang disajikan di musim panen padi tiba. Hal ini membuat Zahra dan Laily tertawa.

Laily kemudian menerangkan bahwa geudeu-geudeu merupakan olahraga yang dimainkan oleh pria dewasa saban musim panen di daerah mereka. Ada tiga pria yang berperan dalam olahraga sejenis gulat itu. Laily tahu banyak prihal geudeu-geudeu karena sering mendengar cerita Abu Keuchik yang mengatakan bahwa geudeu-geudeu merupakan jenis beladiri asli asal daerah mereka. Bentuk permainan ini sangat kasar dan tergolong olahraga keras. Petarung geudeu-geudeu harus memiliki ketahanan fisik dan mental yang kuat, tahan pukul dan tahan banting. Selain itu petarung geudeu-geude juga dituntut kesabaran dan ketabahan. Di sinilah emosi diolah. Bila emosi petarung tidak stabil, maka bisa berujung pada kematian.

“Geudeu-geudeu sering digelar pasca panen padi. Biasanya juga dipertunjukkan saat bulan purnama tiba. Salah satu lokasi pelaksanaan geudeu-geudeu ini ada di areal persawahan dekat rumah kita,” kata Laily.

Kendati Laily dan Zahra senang dengan atraksi geudeu-geudeu, tetapi Abu Keuchik melarang anak perempuannya ikut menonton olahraga tersebut. Larangan ini jamak diberlakukan oleh warga Cot Alue terhadap anak-anak perempuan mereka. Selain karena permainan geudeu-geudeu yang terkenal ekstrim, olahraga ini juga sering dilaksanakan pada waktu malam. Ini pula yang membuat kaum hawa tidak diperbolehkan ikut menyaksikan olahraga khas daerah itu.

Namun seiring perkembangan zaman, larangan itu sudah tidak seketat dulu lagi. Sekarang geudeu-geudeu boleh disaksikan oleh siapa saja. Meskipun begitu banyak kaum ibu yang kurang suka menyaksikan olahraga tersebut. Hanya para anak gadis yang rela datang berduyun-duyun ke pertunjukan geudeu-geudeu untuk menyemangati para bujang yang bertarung.

Bagi Abu Keuchik tak demikian. Dia tetap khawatir jika anak perempuannya ikut-ikutan ke sawah untuk menyaksikan geudeu-geudeu. Kekhawatiran Abu Keuchik ini sangat beralasan. Kondisi daerah yang tidak stabil pasca penerapan darurat militer menjadi pertimbangan besar bagi Abu Keuchik untuk tidak membolehkan anak-anak perempuannya menyaksikan pertunjukan itu. Sebagai kepala desa, dia juga acap kali keberatan ketika para pemuda mendesak untuk menyelenggarakan geudeu-geudeu. Menurut Abu Keuchik, perang bisa terjadi kapan saja dan dimana saja.

Larangan Abu Keuchik agar anak perempuannya tidak menonton geudeu-geudeu seakan tidak berlaku bagi Zahra dan Laily. Abu Keuchik sering mengunci kedua anak perempuannya yang masih kecil itu di dalam rumah saat pelaksanaan geudeu-geudeu di desanya. Namun bukan Zahra namanya jika dipaksa menerima aturan itu.

Bocah perempuan ini punya seribu satu cara untuk dapat menikmati pertunjukkan geudeu-geudeu. Salah satunya dengan diam-diam keluar dari lubang lantai rumah panggung mereka. Zahra yang terkenal cerdas sering mencopot teralis kayu yang dipasang di lubang lantai rumah itu. Laily yang melihat tingkah Zahra pun ikut keluar melalui lubang kecil, yang biasa dipergunakan untuk penghuni rumah buang hajat saat malam tersebut.

Aksi kedua bocah perempuan ini sering disergap oleh kakak-kakak mereka saat turun dari lubang tersebut. Biasanya anak-anak perempuan tertua Abu Keuchik cuma melarang. Namun tidak jarang mereka ikut-ikutan ke areal persawahan untuk melihat aksi geudeu-geudeu. Jika ketahuan Abu Keuchik, kakak-kakak perempuan Zahra sering beralasan sedang mencari kedua bocah ini.

Pernah suatu malam Laily dan Zahra ketahuan sedang meniru geudeu-geudeu di areal sawah. Hal tersebut dilakukan kedua bocah itu tepat saat kaum pria sedang larut bersorak sorai menonton atraksi geudeu-geudeu. Saat salah satu jagoan mereka nyaris memenangkan pertandingan, tiba-tiba ada suara anak kecil menangis. Teriakannya begitu kuat sehingga menyedot perhatian penonton geudeu-geudeu. “Itu kan Laily dan Zahra,” ujar Wan Chek kepada Abu Keuchik yang sedang melinting rokok tembakau.

Ternyata, Laily menangis histeris karena ketakutan dengan aksi Zahra bersama teman-teman sepermainan mereka yang mengejar dengan aksi geudeu-geudeu. Karena ketakutan Laily berlari hingga terjatuh ke saluran irigasi. Seluruh pakaiannya basah. Hingga esoknya dia masuk angin dan demam.

Abu Keuchik yang biasanya bijak berwibawa terpaksa berlari pontang-panting menyelamatkan Laily, yang sempat tenggelam di irigasi. Padahal malam itu air di irigasi hanya sepinggang manusia dewasa. “Dasar Laily,” kata Zahra kesal, setelah telinganya dijewer Abu Keuchik.

+++

Laily masih berkacak pinggang ketika bulan yang nyaris bulat penuh itu mulai tertutup awan. Sementara Zahra terus bercerita tentang geudeu-geudeu kepada Siti. Ketiga bocah perempuan itu tidak sadar ada Abu Keuchik yang juga baru pulang dari meunasah, tergesa-gesa menghampiri mereka. “Peubut meugadoh bak bineh blang ka malam? Jak wo laju (sedang apa di pinggir sawah sudah malam? Lekaslah pulang),” kata Abu Keuchik bernada perintah.

Get Abu (baik ayah),” kata Laily dan Zahra. Siti ikut mengangguk.[] Bersambung…

Baca juga:

Kulat [1]Kulat [2]Kulat [3]Kulat [4]Kulat [5]Kulat [6]Kulat [7]Kulat [8]Kulat [9]Kulat [10]Kulat [11]Kulat [12], Kulat [13]


Note: Kisah ini merupakan fiktif belaka. Jika terdapat kesamaan pada nama pelaku, kejadian, dan tempat hanya kebetulan semata.


Cerita bersambung ini ditulis oleh Boy Nashruddin Agus dan akan ditayangkan setiap Sabtu, setiap pekannya.