Abu Keuchik baru saja pulang dari meunasah. Dia menanggalkan sarung dan membuka kemeja batik yang kemudian digantungnya di hanger kayu. Pria berambut ikal itu lantas menuju lemari pakaian tiga pintu yang ada di sudut kamar dan meraih satu lembar kaos oblong putih yang ada di sana. Abu Keuchik membelakangi lemari, tetapi tiba-tiba terdengar suara benda jatuh ke lantai papan rumah panggung itu. Abu Keuchik menoleh. Dilihatnya ke arah suara benda jatuh tadi. Sebuah album foto keluarga.

Abu Keuchik mengambil album foto bersampul seorang artis ibukota itu sembari duduk di atas kasur. Satu per satu halaman album foto tersebut dilihatnya. Sesekali Abu Keuchik tersenyum mengingat kenangan yang terekam di foto-foto lama milik keluarganya. Namun raut wajah Abu Keuchik berubah ketika melihat satu lembar foto di halaman paling akhir. Ada seorang laki-laki di foto itu. Wajahnya mirip Abu Keuchik. Pria itu lantas menghela nafas panjang dan mendekap foto laki-laki itu di dada. Tanpa disadari, air bening mengalir di kedua kelopak matanya.

Pakon droneuh?” Tanya Nek Haja yang sedari tadi berdiri di pintu kamar.

Abu Keuchik yang mendapat pertanyaan tersebut tersentak. Dia tidak menyadari kehadiran istrinya di tengah kondisi demikian. Abu Keuchik berpaling. Menutup album kenangan itu dan meletakkannya kembali ke dalam lemari. Pria pendiam itu berpura-pura menyapu bubuk kayu yang ada di lemari, dan dengan cepat menyeka air mata yang ada di wajahnya.
Hana sakon. Peu Arbaini ka meurumpok but? (Apa Arbaini sudah mendapat kerja?)”

Abu Keuchik mencoba mengalihkan pembicaraan. Dia tidak ingin sang istri melihat kondisinya seperti tadi.

Gohlom. Neupakat bak madrasah drôn keudeh (belum. Bapak ajak saja bekerja di madarasah),” kata Nek Haja.

Abu Keuchik terdiam. Tak berapa lama dia keluar dari kamar menuju beranda depan. Suasana di sekitar rumah terlihat gelap. Abu Keuchik duduk dengan khidmat di kursi rotan beranda rumah, menghirup nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya dengan seksama. Perasaan sesak di dada seketika hilang.

Cahaya petromaks dari dalam rumah menyorot bungkusan tembakau yang terletak di meja. Abu Keuchik meraih bungkusan itu, mengeluarkan beberapa daun nipah dan mencubit-cubit tembakau nan harum itu. Dia lantas menyulut tembakau tersebut. Gumpalan asap seketika keluar terlihat begitu putih ketika terkena pendaran cahaya petromaks.

“Tum…tum..tum…” Bunyi yang datang tiba-tiba itu mengejutkan Abu Keuchik. Dia membuang lentingan tembakau tadi dan masuk ke dalam rumah. Petromaks yang sedari tadi menerangi sekitar ruangan, langsung dipadamkan. Semua senyap. Hening kembali. “Pat gata? (Kamu dimana?)” ucap Abu Keuchik dalam kegelapan malam.

Nyo pat lôntuan (saya di sini),” terdengar suara Nek Haja.

“Anak-anak dimana? Sudah tidur semua?”

“Sudah Abu.”

Suara salak senjata masih terdengar dari bilik kamar Abu Keuchik. Sahut menyahut. Terkadang disusul ledakan demi ledakan. Kemudian kembali hening. Suara itu terdengar jauh. Mungkin beberapa kilometer dari Desa Cot Alue. “Sang bak jalan raya (mungkin di jalan protokol),” kata Abu Keuchik, ketika mendapati Nek Haja sudah meringkuk di atas tempat tidur.

Istri Abu Keuchik hanya diam. Sekian lama dia tak menjawab. Tak juga berkomentar. Hingga akhirnya suara protes Nek Haja terdengar di pekatnya malam itu, “pakôn prang lagèe han reda-reda dilèe? Ka padum thôn meuno (Kenapa perang tidak berhenti? Sudah bertahun seperti ini).”

Pat ujeun nyang han pirang, pat prang nyang hana reda?” Celetuk Abu Keuchik. “Ta eh laju keudeh (Tidur saja terus),” lanjutnya lagi.[] Bersambung…

Baca juga:

Kulat [1]Kulat [2]Kulat [3]Kulat [4]Kulat [5]Kulat [6]Kulat [7]Kulat [8]Kulat [9]Kulat [10]Kulat [11], Kulat [12]


Note: Kisah ini merupakan fiktif belaka. Jika terdapat kesamaan pada nama pelaku, kejadian, dan tempat hanya kebetulan semata.


Cerita bersambung ini ditulis oleh Boy Nashruddin Agus dan akan ditayangkan setiap Sabtu, setiap pekannya.