BULIR padi yang menguning hanya tinggal sedikit lagi di petak sawah milik Teungku Don ketika azan dhuhur berkumandang. Dari kejauhan terlihat Kak Jah, Po Ru, Ma Halimah dan Wa Hajar mendekat. “Peu blah no ka jeut ta bismillah? (Sebelah sini apakah sudah bisa dipotong?)” Tanya Kak Jah.

Neu preh siat leuh kamo sembahyang (tunggu dulu selesai kami salat),” jawab Nek Haja.

Get, kamoe ka leuh beuno di rumoh (baik, kami sudah salat di rumah),” kata Ma Halimah yang kemudian ikut duduk di rangkang.

Suara derit kencang terdengar dari kejauhan. Dari badan jalan desa yang letaknya tak jauh dari petak sawah milik Teungku Don. Suara itu berasal dari truk reo milik tentara. Moncong truk hijau itu mengarah ke Bukit Pemancar. Abu Keuchik dan pria lainnya saling berpandangan. Menebak-nebak ada apa gerangan. Truk yang di kanan dan kirinya dipasangi batang kelapa itu berhenti beriringan dengan bunyi angina yang keluar dari knalpotnya. Kencang.

Dari belakang truk, beberapa pria berseragam loreng turun. Dua diantara mereka langsung mengarahkan hidung senjatanya ke areal persawahan. Abu Keuchik terkejut. Teungku Don jadi kecut. Madi dan Seuman malah gemetar. Begitu pula yang lain.

Dari depan turun seorang pemuda. Badannya kekar. Ada baret menyelip di pundak. Rambutnya cepak. Kacamata hitam menghias di atas kepalanya. Pemuda itu berhidung mancung. Postur badannya sedikit lebih tinggi dari rekan di sebelahnya yang dari tadi terlihat siap siaga. Pria itu kemudian mendekat ke arah Abu Keuchik dan yang lain. “Assalammualaikum,” kata pria tersebut.

“Waalaikumsalam,” jawab Abu Keuchik dan lainnya serentak.

Pria itu kemudian memerhatikan sekeliling. Memandang areal persawahan yang luas dengan padi menguning. “Panen pak?”

“Iya Pak,” jawab Abu Keuchik, yang mencoba bangkit dari tempatnya.

Pria berseragam loreng itu diam. Tak banyak bicara. Dia hanya memandang satu persatu warga yang ada di petak sawah Teungku Don. Abu Keuchik mendekat. Menyalami pria tersebut. Pria yang lain ikut serta. Pemuda berseragam militer itu lantas tersenyum ketika menjabat tangan Seuman.

“Hmm… kepalan tanganmu besar juga. Pernah ikut latihan militer?” Tanya pria tersebut tiba-tiba.

“Bu..buukan pak. Saya Seuman, ketua pemuda di gampong ini,” jawab Seuman terbata-bata.

“Baru hari ini saya melihat pria seumuran kamu di kampung. Pengangguran?”

Nggak pak, saya buruh bangunan. Hari ini ikut serta bersama warga untuk panen padi,” kata Seuman lagi.

“Jangan ngibul,” kata pemuda berbaju loreng itu lagi.

Seuman hanya bengong. Dia tidak mengerti dengan kata-kata yang baru saja diucapkan pemuda tersebut. Arbaini cepat tanggap. Lalu menjelaskan maksud “ngibul” itu.

“Oh, tidak pak. Saya tidak bohong,” kata Seuman.

Tentara itu kemudian memandangi Arbaini. “Kamu mampu menerjemahkan bahasa saya dengan baik. Siapa kamu?”

“Saya Arbaini, putri Abu Keuchik sang kepala desa di sini. Iya saya sedikit paham dengan logat bapak,” kata Arbaini.

“Hmm… menarik. Pernah sekolah di Jawa atau bagaimana?”

“Tidak, saya sarjana di Banda Aceh. Kebetulan banyak mahasiswa di sana juga berasal dari pulau Jawa,” ujar Arbaini.

“Owh, bagus. Ada orang terpelajar di kampung ini. Sebaiknya kamu ingatkan warga agar tidak berhubungan atau ikut-ikutan bergabung dengan GPK. Tidak bagus. Bakal menderita,” katanya dengan mata sedikit melotot. Kesan wajahnya yang semula ramah mendadak berubah.

“Baik pak,” sahut Arbaini singkat.

Pria tersebut kembali ke truk reo yang ada di badan jalan. Dia kemudian menunjuk ke arah Seuman. Entah apa yang dibicarakannya. Namun, beberapa tentara lain yang menunggu di sisi truk terlihat mengangguk. Seuman jadi kikuk. Cemas. Keringat terlihat mengucur deras di bajunya yang lusuh. Abu Keuchik mengerutkan dahi. Kemudian menghampiri Seuman yang terlihat gelisah.

“Sabar dan tetap tenang. Mungkin mereka mencari seseorang yang mirip dengan kamu,” kata Abu Keuchik kepada Seuman. Dalam hatinya, Abu Keuchik terus beristighfar. Pertanda tidak baik.

Tak lama, para tentara itu berlalu. Meninggalkan debu di belakang truk reo yang melaju ke Bukit Pemancar. Seuman menghela nafas panjang. “Rap meuramah lon (nyaris nahas saya),” lirih Seuman.

Abu Keuchik tersenyum kecut. Teungku Don masih mematung. Madi langsung bergegas menuju sumur yang ada di bukit kecil itu. Dia mencuci kaki dan kemudian mengambil wudhu’.

Arbaini merapikan rangkang. Menggelar tikar dan membuka bekal berupa nasi dengan lauk ikan asin. Ada kuah pliek u juga. Gulai yang bahan pokoknya dibuat dari berbagai sayur dengan dicampur patarana. Gulai ini paling digemari Abu Keuchik.

Abu Keuchik menyusul Madi. Mengambil wudhu’ dan bersiap untuk salat dhuhur. Teungku Don masih berdiri di pematang sawah. Rahman kemudian menepuk pundak pria berkepala lima itu. Seketika Teungku Don terhentak. “Astaghfirullah,” kata yang keluar dari mulutnya pertama kali.

Matahari masih berada tepat di atas kepala. Dari kejauhan terlihat beberapa pria menyusul ke sawah. Ada juga wanita dan anak-anak. Kini sawah mulai ramai. Sawah yang semula terlihat kuning kini berubah. Padi yang semula tumbuh subur itu kini menumpuk jamak di pematang. Para warga terus bekerja. Memotong tangkai demi tangkai hingga tak tersisa. Sengatan sang surya tak menghadang mereka untuk terus bekerja. Hingga akhirnya matahari tunggang gunung menghentikan para petani untuk memanen hasil kerja keras mereka.

Di kejauhan, rombongan burung pipit masih saja terbang bergerombol. Menyasar lahan persawahan warga yang belum dipanen. Kawanan burung kecil itu pun mengepak sayap untuk meninggalkan area persawahan Cot Alue. Di antara kawanan pipit mengarah ke perbukitan Telkom dengan paruh dipenuhi tangkai padi. Satu di antara burung itu bernasib nahas. Tangkai padi yang ada di mulutnya terlepas. Jatuh tepat di pucuk pohon keladi. Pipit sial itu kembali. Menukik tajam hendak menerkam tangkai padi yang tersangkut itu. Namun sang pipit membatalkan niatnya. Abu Keuchik memerhatikan tingkah burung pipit itu dari kejauhan di perjalanan pulang. Pria berkulit gelap itu kemudian mendehem keras. “Bagah tawo ka senja (ayo bergegas sudah petang),” kata Abu Keuchik kepada Teungku Don.[] Bersambung…

Baca juga:

Kulat [1]Kulat [2]Kulat [3]Kulat [4]Kulat [5]Kulat [6]Kulat [7]Kulat [8]Kulat [9]Kulat [10], Kulat [11]


Note: Kisah ini merupakan fiktif belaka. Jika terdapat kesamaan pada nama pelaku, kejadian, dan tempat hanya kebetulan semata.


Cerita bersambung ini ditulis oleh Boy Nashruddin Agus dan akan ditayangkan setiap Sabtu, setiap pekannya.