Ilustrasi

BANYAK peristiwa penting yang terjadi dalam bulan Ramadan bagi umat Islam, baik di masa Rasulullah hingga zaman modern. Berbagai peristiwa itu kelak menjadi kunci penting bagi perkembangan Islam dari masa ke masa. Berikut beberapa peristiwa penting dalam catatan sejarah Islam yang terjadi di bulan Ramadan edisi kedua, versi sumaterapost.com:

Khadijah RA Wafat

Khadijah RA wafat pada hari ke-11 bulan Ramadan tahun ke-10 kenabian atau tiga tahun sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah. Khadijah wafat dalam usia 65 tahun, saat usia Rasulullah berusia sekitar 50 tahun.

Ketika Khadijah wafat, Rasulullah amat terpukul. Apalagi hari kematian Khadijah tidak berselang lama dari kematian paman kesayangan Nabi, Abu Thalib. Oleh karena itu, masa-masa ini disebut sebagai tahun berkabung bagi Nabi Muhammad SAW. Dalam banyak riwayat disebutkan kalau Rasulullah baru menikah lagi setelah Khadijah wafat.

Bagi Rasulullah sendiri, Khadijah sangat istimewa. Diriwayatkan, ketika Khadijah sakit menjelang ajal, Beliau berkata kepada Rasululllah SAW, “Aku memohon maaf kepadamu, Ya Rasulullah, kalau aku sebagai istrimu belum berbakti kepadamu.”

Rasulullah menjawab, “Jauh dari itu ya Khadijah. Engkau telah mendukung dakwah Islam sepenuhnya,” jawab Rasulullah.

Khadijah memang telah mengorbankan semuanya. Kekayaannya, kebangsawanannya, dan kemuliaannya dalam mendukung dakwah Nabi Muhammad. Khadijah adalah orang yang mula-mula masuk Islam. Dia pula yang pertama kali diajari salat dan wudu oleh Nabi Muhammad SAW.

Wafatnya Ali bin Abi Tholib

Suatu ketika pada 17 Ramadan tahun 661 yang bertepatan dengan peristiwa Nuzulul Quran, terjadi insiden yang akan selalu dikenang pengikut Sayyidina Ali. Pada tanggal mulia tersebut terjadi peristiwa di mana Khalifah Ali ditikam pada subuh menjelang salat. Penikamnya bukanlah orang kafir, melainkan sesama kaum muslim.

Ialah Abdurrahman bin Muljam. Seorang muslim taat yang menghabiskan waktunya untuk berpuasa dan juga menghafal Alquran. Ibnu Muljam ini merupakan salah seorang yang berada di kelompok yang kontra dengan kepemimpinan Sayyidina Ali.

“Tidak ada hukum kecuali milik Allah, bukan milikmu dan bukan teman-temanmu, wahai Ali!” seru Ibnu Muljam sembari menyabet Khalifah Ali di bagian kepala. Ia menyabet dengan pedang yang dilapisi dengan racun.

Akibat luka-luka tersebut, menantu Rasulullah SAW itu meninggal dunia setelah lima tahun memimpin umat Islam. Sayyidina Ali merupakan khalifah ketiga secara berturuut-turut setelah Umar dan Utsman yang juga dibunuh.

Lihat juga: Infografis Peristiwa Penting Umat Islam dalam Ramadan 

Penyerahan Kota Taif

Kota Taif merupakan salah satu kota penting di Hejaz, di bagian barat Jazirah Arab. Kota ini pada masa Nabi Muhammad dihuni oleh bangsa Arab dari Bani Tsaqif. Kota ini terletak di tenggara kota Makah, di pegunungan As Sarawat yang tinggi dan relatif lebih dingin udaranya daripada Mekah.

Kota ini pernah mencatat sejarah ketika penduduknya mengusir Rasulullah saat berdakwah di sana. Bani Tsaqif juga menolak tunduk kepada Nabi Muhammad SAW meskipun umat Islam telah berhasil membebaskan Mekkah.

Rasulullah bersama tentara Islam lalu mengepung kota tersebut dalam waktu lama. Rombongan Bani Tsaqif yang angkuh akhirnya datang ke Mekkah di bulan Ramadhan tahun 9 Hijriah untuk menyerah. Mereka pun bersedia menghancurkan patung Al Laata yang selama ini disembah.

Peperangan Zallaqah di Portugal

Perang Zallaqah merupakan salah satu peristiwa besar yang terjadi di bulan Ramadan. Perang ini juga dikenal dengan sebutan pertempuran Sagrajas, yakni pertempuran yang terjadi antara koalisi Dinasti Murabitun (Almoravid) pimpinan Yusuf bin Tasyfin melawan Kerajaan Castilia di bawah komando Alfonso VI.

Perang ini terjadi pada Jumat, 13 Ramadan 480 Hijriah. Pemicu perang karena Alfonso VI merebut Tulaitela atau Toledo pada 478 Hijriah dari tangan Al-Qadir bin Dzi an-Nun, yang membuat kekuasaan Alfonso VI kian kuat.

Gubernur Cordova, Al Muktamin kemudian meminta bantuan Yusuf bin Tasyifin selaku Sultan Dinasti Murabit dari Afrika Utara untuk memerangi Alfonso VI.

Sultan Yusuf bin Tasyifin berhasil merekrut banyak orang selama perjalanannya dari Afrika Utara untuk melawan Alfonso VI. Rombongan sultan juga banyak mendapat bantuan kuda, pasukan, serta senjata dari penguasa-penguasa sekitar hingga tiba di Andalusia (Spanyol). Total pasukan Sultan Yusuf bin Tasifin mencapai 20.000 orang. Ada juga yang meriwayatkan pasukannya mencapai 24.000 orang.

Di sisi lain, Alfonso VI juga merekrut prajurit dari segala macam usia. Semua pria yang mampu mengangkat senjata diperintahkan untuk berangkat ke medan perang. Jumlah pasukan Alfonso VI disebutkan mencapai 80.000 pasukan berkuda yang memakai zirah. Pasukan penguasa Castilla itu juga dibantu oleh 200.000 prajurit infantri dalam perang melawan Murabithun.

Alfonso VI melihat peluang besar atas jumlah pasukan tersebut. Dia bahkan sempat sesumbar dengan berkata, “Dengan pasukan ini, aku akan bertempur melawan jin, manusia dan malaikat langit.”

Kedua pasukan kemudian bertemu pada Kamis, 12 Ramadan. Mereka berada di sebuat tempat yang disebut dengan Zallaqat. Posisi kedua pasukan dalam jumlah besar ini hanya dipisah oleh Sungai Bitalsius.

Jumlah pasukan Alfonso VI yang sangat besar membuat Sultan Yusuf kagum. Dia tidak menyangka kekuatan pasukan Alfonso VI sebanyak itu dan dilengkapi dengan kendaraan serta senjata yang lengkap.

Dalam perang di Zallaqah tersebut, Alfonso VI mencoba memperdaya Sultan Yusuf. Pada awalnya, Alfonso VI menyebutkan bahwa dirinya ingin bertempur pada hari Senin. Alasan itu diperkuat lantaran Jumat adalah hari besar bagi pasukan Muslim Sultan Yusuf, sementara Sabtu adalah hari besar bagi juru tulis mereka yang adalah Yahudi. Minggu menjadi hari besar bagi Alfonso VI dan pasukannya sehingga Senin dinilai tepat untuk berperang.

Namun apa yang dikatakan Alfonso VI tersebut hanya tipu daya belaka. Ketika Sultan Yusuf bin Tasyifin melaksanakan salat Jumat, Alfonso VI malah menyerang dengan pasukan berkudanya. Awalnya Alfonso mengira akan menang dengan mudah, akan tetapi Mu’tamid (para pemimpin Andalus yang dipelopori oleh Muhammad bin Abbad) telah mengetahui trik penguasa Castilla tersebut. Mereka sudah terlebih dahulu mengawal Sultan Yusuf dan pasukannya yang sedang salat Jumat. Mereka bahkan tidak mencopot jirah ketika ikut salat Jumat bersama pasukan Sultan Yusuf.

Ketika Alfonso VI menyerang, Mu’tamid maju bersama kuda-kuda mereka untuk melindungi Sultan Yusuf dan pasukannya. Perang berkecamuk hingga akhirnya Alfonso VI melarikan diri bersama sembilan pasukannya yang tersisa.[] DBS