KEPEMIMPINAN Henry Demmeni di Aceh dianggap gagal. Citra Belanda tak mampu diperbaiki oleh pria tersebut dalam melawan pasukan Aceh. Posisinya kemudian diganti oleh Henri Karel Frederik van Teijn pada Desember 1886.

Pengganti Demmeni merupakan seorang pria kelahiran Dussen, Werkendam pada 28 Februari 1839. Dia seorang ksatria Belanda yang juga perwira Militaire Willems-Orde serta Orde Singa Belanda.

Karir militer van Teijn dimulai dari Akademi Militer Kerajaan Belanda. Dia kemudian diangkat sebagai letnan dua di Resimen Infanteri VIII pada tahun 1857. Kelak, bvan Teijn turut serta dalam pertempuran sepekan di Aceh bersama Batalyon Infanteri VIII pada tahun 1876.

Keikutsertaan dalam ekspedisi penyerangan Aceh membuat nama van Teijn terkenal. Apalagi dia berhasil menaklukkan Lambaro seperti tertulis dalam Konklijk Besluit nomor 5 tanggal 24 Maret 1877.

Selain sebagai prajurit perang, van Teijn juga berhasil dalam menghadapi wabah pes di Jawa Barat. Dia pernah menjadi komandan di Palembang hingga kemudian ditarik ke Aceh untuk mengganti posisi Demmeni yang mati mendadak. Belanda menilai karir militer van Teijn akan mampu menghadapi Aceh.

Tugas pertama van Teijn di Aceh adalah merebut Idi yang sudah dikuasai kembali oleh pasukan Aceh. Proposal van Teijn untuk keluar dari lini konsentrasi melalui jalur laut dikabulkan pemerintah Hindia Belanda. Dia akhirnya memboyong pasukan dalam jumlah banyak pada 4 Mei 1889.

Beberapa kapal seperti Condor, Albartos, Makassar, dan GG van Landsberghe diberangkatkan dari Ulee Lheue dengan tergesa-gesa menuju Idi. Kapal-kapal tersebut mengangkut Batalyon III Belanda yang dipimpin oleh Letkol De Bank Langenhorst. Selain para perwira, kapten, letnan dan para perwira, kapal-kapal tersebut juga membonceng pasukan Zeni, petugas palang merah, dan 133 tahanan wajib militer yang akan disiapkan untuk berada di garis depan.

Selain kapal-kapal tersebut, van Teijn juga mengirim dua kapal sewaan untuk membantu pasukan Belanda merebut kembali Idi. Kedua kapal tersebut adalah Hok Canton dan Zeemeeuw yang mengangkut satu kompi di bawah perintah Kapten van Bijlevert.

Serangan dalam jumlah besar tersebut akhirnya mampu mengimbangi kekuatan seribu pasukan Aceh yang mengepung Idi. Persenjataan Belanda pun jauh lebih kuat dibandingkan prajurit Aceh yang mayoritas menggunakan pedang atau klewang.

Meskipun demikian, pasukan Belanda baru berhasil menembus benteng di Idi setelah dua hari bertempur. Serangan kemudian dilanjutkan ke sungai Peudada Pontang.

Belanda akhirnya berhasil menguasai Idi. Bersamaan dengan itu, beberapa ulee balang di Aceh mencoba mendekati Belanda. Namun semua pendekatan yang dilakukan oleh tuan tanah tersebut ditolak van Teijn lantaran terlalu banyak tuntutan.

Pada masa kepemimpinan van Teijn pula korps marsose Belanda dibentuk di Aceh Besar, tepatnya di awal tahun 1890. Korps ini mayoritas diisi oleh pasukan “Belanda Hitam” alias prajurit bumiputra. Meskipun demikian, Belanda masih menerapkan lini konsentrasi di kawasan Aceh Besar karena kondisi wilayah yang belum sepenuhnya aman.

Selain Idi, kepemimpinan van Teijn juga dihadapkan pada pertarungan dengan Teuku Umar di Rigas. Sengketa ini dilatarbelakangi oleh keinginan kapten kapal “Hok Canton” Hansen bersama kapten kapal The Eagle, Roura, untuk menangkap Umar dan dibawa ke Banda Aceh.

Siasat tersebut dijalankan Hansen dan Roura saat melakukan transaksi jual beli lada seharga $5.000. Hansen yang turut membawa istrinya, seorang warga Amerika.

Teuku Umar pada awalnya tidak mencurigai niat Hansen dan Kapten Roura. Meskipun demikian, Umar telah lebih dulu mengenal tipikal kedua sosok Belanda itu yang dikenal licik. Hal inilah yang membuat Umar enggan menemui Hansen di atas kapal untuk meminta bayaran muatan lada.

Sementara Hansen terus mendesak agar Umar datang sendiri ke kapal untuk menerima bayaran. Umar yang mulai curiga mengutus seorang panglima bersama 40 prajurit setianya untuk menguasai kapal Hook Canton. Misi Umar berhasil. Dia bahkan mampu menyekap Hansen dan istrinya di atas kapal, setelah Hansen menolak membayar lada-lada yang telah dimuat tersebut. Hansen bahkan memerintahkan anak buahnya untuk melawan Umar.

Hansen dan istrinya yang akhirnya tertangkap berhasil melarikan diri dengan terjun ke laut. Pasukan Umar menembaki Hansen setelah berkali-kali diingatkan, tetapi tidak menggubris ancaman. Alhasil Hansen terluka dan kemudian tewas setelah berenang ke tepian.

Sementara Roura berhasil kabur dan membawa lari kapal Hook Canton serta kapal The Eagle. Dia melaporkan insiden tersebut kepada van Teijn setiba di Ulee Lheue.

Gubernur Jenderal van Teijn lantas berangkat ke Rigas dengan membawa kapal perang. Bersamanya ikut serta asisten residen van Langen untuk menemui Umar.

van Teijn meminta Umar untuk membebaskan istri Hansen yang ditawan. Namun, Umar meyakinkan Belanda bahwa Nyonya Hansen dalam keadaan baik dan mendapat perawatan penuh dari pasukannya. Sikap Umar melawan Belanda ini mendapat dukungan penuh dari rakyat Rigas.

Insiden Rigas ini kembali membuat wajah Belanda malu di hadapan Internasional. Akhirnya van Teijn berlayar ke Rigas Aceh Barat dengan kapal perang Palembang bersama kapal Westboot, Devonhurs, Merapi, Sambas dan Zeemeeuw. Bersamanya ikut serta 500 tentara.

Kedatangan armada Belanda itu langsung disambut dengan bedil dari daratan Rigas. Banyak perwira Belanda yang tewas dan luka-luka dalam insiden tersebut.

Di sisi lain, kondisi pusat pemerintahan Belanda di Banda Aceh terus menerus mendapat serangan dari pasukan Aceh. “…. De vijand had om onze postenlinie eene reeks van min of meer vluchtige versterkingen opgericht, van waaruit bijna dagelijks, onze nederzettingen met geweer- en geschutvuur bestookt werden,” tulis Herfkens, J.WF dalam laporannya di The Expeditions to Aceh, 1873-1874 yang diterbitkan oleh Royal Military Academy tahun 1900.

Jenderal van Teijn mengakhiri karirnya sebagai petinggi Belanda di Aceh pada Mei 1891. Dalam buku The Expeditions to Aceh, 1873-1874 tersebut, van Teijn disebut sakit dan perannya kemudian diganti oleh Kolonel F Pompe van Meerdevort yang hanya memerintah hingga Januari 1892.[] Bersambung…