“TANGAN saya mencoba membersihkan semak-semak sekitar makam, mematahkan ranting daun petai liar, mencari sambungan inskripsi yang patah di sela reruntuhan. Segera nampak balok batu besar dan sebaran batu bata yang unik yang menandakan ini bukan makam orang biasa, ini kompleks makam orang besar.”

Inilah kalimat panjang yang digoreskan Dr Ichwan Azhari, salah satu akademisi yang bekerja di Universitas Negeri Medan.

Kesaksian Dr Ichwan ini berkaitan erat dengan kunjungannya ke kawasan Klambir Lima, yang lokasinya berjarak enam kilometer di perbatasan barat laut Kota Medan, Sumatera Utara. Ada nisan terbengkalai di daerah yang berada di bibir kebun PTPN 2 itu. Nisan itu diduga berkaitan erat dengan sejarah Pasai atau Aceh Darussalam.

Nisan yang terabaikan itu dulunya berada dalam kawasan Kesultanan Aru.

Dr Ichwan Azhari datang ke lokasi tersebut tidak sendiri. Ada Abu Bakar Bamuzaham dari Solo yang menemaninya.

Jejak pencariannya tentang peradaban Islam masa lalu di sekitar Medan itu telah menyeret langkah Dr Ichwan Azhari hingga ke Klambir Lima. Namun apa yang ditemukan Dr Ichwan jauh dari harapan. Nisan yang diduga milik orang besar pada masanya itu terabaikan, bahkan hancur berkeping yang membuat Dr Ichwan kian gelisah.

“Kenapa tidak dipugar, tidak direstorasi, tidak dirawat oleh pemerintah, jejak sejarah peradaban penting ini? Kemana BPCB, Direktur Perlindungan Cagar Budaya? Ah sudahlah, tak usah bertanya. Lakukan apa yang bisa dilakukan kampus ataupun komunitas pecinta heritage,” lanjut Dr Ichwan menuliskan kesaksiannya usai mengunjungi lokasi temuan nisan di Klambir Lima itu.

Dia menyebutkan, komplek makam “orang penting” itu tak jauh dari ladang bunga Melati. Ada dua kompleks makam dengan nisan tipe Pasai yang ditemukan dalam perjalanan Dr Ichwan Azhari hari itu. Sementara dua kompleks makam lain yang “terkubur” di semak-semak belum berhasil di dokumentasikannya berhubung matahari terlalu cepat rebah ke barat.

“Sambil melangkah, pikiran saya berkecamuk. Ini bukan sekadar makam. Ini teks peradaban besar di dalam Indonesia yang terus menerus mengalami kemunduran adab, tapi ah entah lah. Makin sesak saja dada ini,” lanjut Dr Ichwan Azhari yang sebelumnya sempat berkomunikasi via video call dengan Ketua Mapesa, Mizuar Mahdi, yang ada di Banda Aceh.

Dalam komunikasi itu, Dr Ichwan memperlihatkan temuannya di Klambir Lima kepada Mizuar. Dari hasil pengamatan sementara, Mizuar menduga nisan itu merupakan makam Sultan Pasai yang sudah lama dicari keberadaannya oleh Tim Mapesa dan CISAH dari Aceh. Makam Sultan Pasai itu memang berada di kerajaan Aru. “Ini Sultan Pasai yang makamnya belum ditemukan sampai saat ini di Aceh,” kata Mizuar setelah mengamati video puing nisan yang dikirim Dr Ichwan Azhari.

Mizuar dalam catatan Dr Ichwan Azhari juga menyampaikan bahwa pola struktur bangunannya sama dengan kompleks makam Sultan Pasai di Aceh. Balok-balok tembok batu dan pola sebarannya batu bata juga identik dengan kompleks makam yang dimaksud.

Ketua Mapesa itu kemudian menjelaskan bahwa keberadaan kompleks makam ini pernah dilaporkan kepada Tim Mapesa. Namun pihaknya belum dapat bergerak ke lokasi karena beberapa faktor.

“Setelah temuan epitaf pada pecahan nisan type Pasai tersebut yang dimuat gelar tertinggi dalam sistem pemerintahan kesultanan Islam tersebut, Insya Allah dalam waktu beberapa pekan ke depan saya akan mengkhususkan meninjau dan berziarah ke kompleks Klambir Lima ini,” tegas Mizuar.

Dia juga menyebutkan niat CISAH untuk melakukan penyelidikan ke area kompleks makam yang dimaksud.

Mizuar juga menyebutkan ada kemiripan baik model maupu karakter kaligrafi pada nisan Klambir Lima dengan nisan-nisan Sultan Aceh yang ada di Kompleks Makam Baiturrijal. Selain itu, berdasarkan foto yang dikirim Dr Ichwan Azhari juga terlihat inskripsi nisan yang bertuliskan kata “as-Sulthanah”.

Sementara Arya Purbaya, salah seorang arkeolog yang sudah lama fokus pada jejak-jejak Islam di Asia Tenggara menduga puing-puing itu tidak berasal dari satu nisan saja. Hal ini ditandai dengan adanya tumpukan fragmen di lokasi tersebut.

“(Ada) beberapa fragmen, kami sangat mengenali dengan jelas tipe dan seni dekorasinya, dengan begitu setidaknya kita tahu ke kompleks mana-mana saja nisan-nisan ini harus dibandingkan untuk mendapatkan penanggalan relatifnya,” kata Arya.

Dia menyebutkan kompleks nisan itu tak hanya berkaitan dengan sejarah Bandar Sumatra (Pasai). Namun berdasarkan pengamatan singkat Arya Purbaya, “kompleks makam seperti ini juga memiliki hubungan ke Bandar Aceh.”[]