PEPERANGAN Belanda merebut wilayah-wilayah Kesultanan Aceh tidak berlangsung mudah. Blokade-blokade yang diterapkan pun tak menyurutkan semangat perjuangan para pasukan sultan. Perwira-perwira Belanda pun tak sedikit yang dicopot dari jabatannya, hilang nyawanya, dan juga cidera akibat perang di wilayah paling barat pulau Sumatra itu.

Alotnya pertempuran Belanda di Aceh itu disebabkan oleh banyaknya pemimpin pasukan yang terkenal cerdik dan setia kepada Sultan Aceh. Pun di antara mereka kemudian ada yang menyerah, itu perkara lain.

Dari sekian banyak nama pemimpin-pemimpin perlawanan penjajahan Belanda itu, tersebutlah nama Teuku Ben Peukan dari Meureudu. Sosok ini merupakan satu dari sekian banyak pemimpin pasukan di Aceh yang telah menyatakan ikrar setia kepada sultan. Teuku Ben Peukan pun salah seorang pemimpin di Aceh yang masuk dalam daftar Belanda untuk diasingkan meski sudah menyerah.

Setelah Dalam dan sebagian besar wilayah Aceh Besar terus menerus terjadi perang, Sultan Aceh memindahkan markas besar ke Pidie. Pada bulan Januari 1897, setelah pemimpin pasukan Teuku Umar terdesak, Sultan Muhammad Daud Syah mengadakan musyawarah besar di Garot. Kehadiran Sultan Aceh turut didampingi oleh Panglima Polem.

Sementara pemimpin pasukan yang hadir adalah Teuku Umar, yang mendapat undangan khusus dari Sultan Aceh. Dia diminta untuk ikut ambil bagian sekaligus memberikan laporan hasil peperangan melawan Belanda. Teuku Umar sebagai komandan perang Kesultanan Aceh Darussalam juga diminta untuk mengatur strategi untuk menghalau pasukan Belanda.

Dalam pertemuan itu, Teuku Umar turut dimintai sumpah setia untuk terus melanjutkan perjuangan menegakkan kedaulatan Aceh. Pada saat itu, Teuku Umar turut meminta semua pemimpin yang hadir ikut serta mengikrarkan sumpah setia kepada Kesultanan Aceh.

Dari beberapa pemimpin yang hadir itu, catat H Mohammad Said dalam bukunya Aceh Sepanjang Abad Jilid 2, tersebutlah nama Teuku Ben Peukan. Mereka yang ikut bersumpah pada saat itu adalah Panglima Polem, Teuku Umar, Teuku Ben Peukan, para ulama pengganti Teungku Chik Di Tiro, dan para geuchik serta tokoh-tokoh lainnya.

Pada saat itu, semua pemimpin tersebut kompak menyatakan sumpah mereka.

Musyawarah tersebut juga turut memerintahkan agar Teuku Umar memindahkan sebagian besar kesatuannya yang ada di Daya, ke Mukim VII Pidie. Permintaan tersebut dibarengi dengan adanya informasi rencana serangan besar-besaran Belanda ke wilayah Pidie. Saat itu, kekuatan Pidie masih sangat besar. Meskipun demikian, Sultan Aceh beranggapan, tambahan pasukan dari kesatuan Teuku Umar akan sangat membantu menggagalkan serangan Belanda.

Atas perintah itu, Teuku Umar kemudian memindahkan sebagian besar pasukannya dari Daya ke Pidie. Jalur yang diambil melalui bukit timur dan selatan Seulimum.

Sisa pasukan Teuku Umar masih bertahan di sepanjang pantai Daya, dari Lhong hingga Leupung. Hal inilah yang membuat ekspedisi Belanda untuk menangkap Teuku Umar di wilayahnya gagal. Apalagi saat itu Kejuruan Lhong yang dianggap telah berkomplot dengan Belanda, tidak membantu secara maksimal. Akibatnya Belanda menangkap Kejuruan Lhong dan meminta tebusan 30 ribu dolar kepada pihak keluarga.

Pertempuran antara Belanda dengan sisa pasukan Teuku Umar di Daya masih terus terjadi. Hingga akhirnya Teuku Umar gugur dalam pengepungan Belanda di Meulaboh pada 1899.

Kepergian Umar tidak membuat perlawanan sisa pasukan Sultan Aceh menyerah. Perang masih berkecamuk. Teuku Ben Peukan salah satu di antara pemimpin yang masih berjuang. Informasi yang ditelusuri menyebutkan Teuku Ben Peukan merupakan putra uleebalang Meureudu. Dia memimpin perlawanan di Pidie bersama Nyak Muda.

Teuku Ben Peukan bersama-sama dengan Nyak Muda, Teuku Ma’ Udin Meureudu, Teuku Ubit Samalanga dan Pang Seneh pernah menyerang pasukan Belanda di hulu Meureudu. Dalam serangan tersebut, empat prajurit Belanda tewas.

Berdasarkan catatan H Mohammad Said, Belanda menempatkan nama Teuku Ben Peukan dalam daftar pencarian orang. Dia bahkan menjadi target operasi Belanda hingga ke pedalaman Gayo. Sekitar tahun 1904, Belanda hendak membuka jalan tembus ke Gayo untuk mempersempit perlawanan Aceh. Sebelum rencana itu dijalankan, Belanda terlebih dahulu menargetkan penangkapan terhadap Teuku Ben Peukan.

Rencana penangkapan itu gagal. Teuku Ben Peukan yang telah terlebih dahulu mendapat informasi tersebut berhasil menyelamatkan diri dari pengepungan. Namun, sayangnya, saudara tiri Teuku Ben Peukan yang tercatat sebagai uleebalang Meulaboh Teuku Lotan kemudian membujuknya untuk menyerah.

Teuku Lotan sendiri sudah menyerah kepada Belanda bersama-sama dengan Panglima Polem.

Dalam perjanjiannya, Belanda tidak menuntut apapun kepada Teuku Ben Peukan asal bersedia menyerah. Namun, lama kelamaan, setelah Belanda melihat perjuangan pasukan Aceh mulai mengendur, Teuku Ben Peukan diperintahkan untuk melucuti senjata dari semua rakyatnya.

Keinginan Belanda ini tidak terpenuhi. Teuku Ben Peukan mengabaikan perintah tersebut hingga akhirnya Belanda memasukkannya dalam daftar tokoh Aceh yang harus diasingkan ke Bandung.

Jauh sebelum ikrar setia kepada Kesultanan Aceh, Teuku Ben Peukan sendiri pernah menemani Bentara Keumangan untuk menemui pimpinan Belanda Letnan Kolonel Veltman di Kutaraja (sebutan ibukota Aceh pasca direbut Belanda) pada 18 Agustus 1888. Bentara Keumangan adalah pemimpin wilayah Gigieng yang berseteru dengan Pidie. Saat itu, Bentara Keumangan hendak meminta bantuan dari Belanda untuk menyerang rivalnya, Bentara Cumbok.

Teuku Ben Peukan turut menjadi saksi ketika Bentara Keumangan mengajukan sejumlah permintaan kepada Belanda. Diantara permintaan itu adalah memperkuat pertahanan Keumangan dengan memasok senjata api. Selain itu, Belanda diminta untuk mengingatkan Raja Pedir dan Ie Leubeue untuk tidak ikut campur urusan Gigieng. Selanjutnya, Bentara Keumangan juga meminta Belanda untuk membantu mempertahankan Gigieng dari serangan laut.

Permintaan itu kemudian dimanfaatkan oleh Belanda untuk merusak pemerintahan Aceh dari dalam. Belanda mengusulkan agar Bentara Keumangan ikut andil menjadi penasehat Sultan Aceh yang masih belia. Dengan demikian, Bentara Keumangan akan memperoleh posisi yang strategis di pemerintahan Aceh sehingga lawan politiknya tidak akan berani menyerang Gigieng. Pun demikian, Belanda tidak menghalangi Bentara Keumangan untuk menyerang Pidie.

Siasat yang dijalankan Belanda itu berhasil diterapkan di sejumlah wilayah, sepanjang semenanjung Melayu dan terutama di Pulau Jawa. Belakangan siasat itu dikenal dengan sebutan “devide et empera.”

Teuku Ben Peukan mengetahui gelagat tidak baik dari Belanda itu. Alhasil dia kemudian ikut berjuang bersama Sultan Aceh di bawah komando Panglima Polem dan Teuku Umar. Pun demikian, Teuku Ben Peukan mengangkat bendera putih tanda menyerah.

Setelah menyerah, Teuku Ben Peukan bersama-sama Tuanku Muhammad Dawot (Sultan Aceh Alaidin Muhammad Daudsyah), Panglima Polem, Tuanku Raja Keumala, Tuanku Haji Brahim selaku wakil kepala VI Mukim Ndjog, Teuku Lotan Meureudu, Habib Sia, Raja Kuala, dan Teuku Ali Baet kemudian diasingkan dari tanah kelahirannya ke Pulau Jawa. Belanda pada saat itu juga mengasingkan Cut Nyak Dhien, istri Teuku Umar, yang dianggap sebagai duri dalam daging jika terus berada di Aceh.

Tindakan ini dilakukan Belanda untuk memperkecil pengaruh para tokoh-tokoh Aceh tersebut. Pengasingan ini juga diambil guna mengurangi perlawanan rakyat Aceh yang masih menggelora di bawah pimpinan para ulama.[]