KABAR gembira datang dari penjara Phang Ngah, Thailand, Jumat, 11 September 2020. Sebanyak 51 nelayan asal Aceh Timur yang sebelumnya ditahan otoritas negara Gajah Putih itu dibebaskan. Mereka mendapat amnesti dari Raja Thailand, YM Rama X.

Kabar tersebut disampaikan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Indonesia, yang menyebut amnesti diberikan bertepatan dengan ulang tahun Raja Thailand pada 28 Juli 2020 lalu. Kini, para nelayan yang sudah ditahan sejak awal tahun 2020 itu dipindahkan ke Pusat Detensi Imigrasi Bangkok. Mereka bakal dipulangkan ke tanah air; Indonesia.

Sebelum kabar itu datang, berita tak kalah mengharukan datang dari para nelayan Aceh di Lhokseumawe. Dengan mengedepankan hukum adat laot, para nelayan di sana berhasil menyelamatkan puluhan imigran Rohingya dari laut lepas. Kondisi mereka mengenaskan, terkatung-katung di laut selama berbulan-bulan dan akhirnya menemukan daratan.

Penyelamatan terhadap imigran Rohingya, yang sebagiannya disebut berasal dari Myanmar itu, bukan kali ini saja dilakukan para nelayan Aceh. Sebelumnya, para pencari nafkah di samudera biru itu juga pernah mengevakuasi para pencari suaka yang terombang-ambing di Selat Malaka.

Sikap heroik yang diperlihatkan nelayan Aceh itu mendapat pujian dari kalangan Internasional. Sisi kemanusiaan dan rasa setia nelayan Aceh sangat tinggi, dan prilaku saling membantu di lautan itu pun diduga sudah lama dipraktekkan para nelayan dari daerah paling barat pulau Sumatra itu.

Apa yang dilakukan oleh para nelayan Aceh itu tidak terlepas dari Hukôm Adat Laôt. Hukum ini telah dikenal sejak masa Kesultanan Aceh di abad 16 dan bertahan hingga sekarang. Hukum tersebut tak hanya mengatur kebiasaan menangkap ikan di laut Aceh, akan tetapi juga mampu menyelesaikan sengketa dan diperbolehkan menolong nelayan yang musibah di laut.[]

Foto dan Teks: Boy Nashruddin Agus