USAHKAN bulan, kalau nak matahari pun sanggup didekati. Usahkan badan sendiri, kalau tak nak dibiarkan berdaki.”

Kutipan kalimat ini merupakan salah satu diantara sekian banyak kata-kata bijak berbahasa Melayu. Syahdan disebutkan suku Melayu gemar berpantun, sehingga banyak sekali kata-kata mutiara atau kata-kata bijak yang ditemukan dalam kehidupan orang-orang Melayu.

Lalu siapa itu orang atau suku Melayu? Dimana orang-orang Melayu dapat dijumpai dan bagaimana sejarahnya? Untuk hal ini sangat sulit mendefinisikan siapa dan bagaimana suku Melayu. Padahal, bahasa Indonesia sendiri mengadopsi sebagian besar bahasa Melayu.

Berdasarkan penelusuran singkat yang dilakukan SumateraPost.com dari situs Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, disebutkan orang-orang Melayu Nusantara yang menghuni sebagian wilayah teritorial di Indonesia berasal dari ras Weddoide dan disebut sebagai orang Austronesia. Suku ini kemudian dapat dipresentasikan melalui suku-suku asli yang ada di Riau, Palembang dan Jambi, seperti suku Sakai, Kubu, dan Orang Hutan.

Masih berdasarkan data Kemdikbud tercatat ras Melayu pertama dari bangsa Proto-Melayu datang ke Sumatra kurun waktu 2.500-1.500 SM. Keturunan bangsa Proto-Melayu ini dapat dijumpai di Riau melalui suku asli Talang Mamak dan Suku Laut.

Bangsa Proto Melayu ini kemudian terdesak ke pedalaman saat gelombang kedua rumpun Melayu, Deutro-Melayu, masuk ke Sumatra. Mereka masuk dari jalur barat, dengan rute dari Yunan (Teluk Tonkin), Vietnam, dan Malaysia. Bangsa inipula yang belakangan disebut sebagai cikal-bakal rumpun Melayu yang ada hingga kini di sebagian wilayah nusantara.

Popularitas Melayu berdasarkan catatan Kemendikbud disebutkan bangkit pada masa kejayaan Sriwijaya yang berpusat di Muaratakus, Kampar-Riau. Kerajaan ini kemudian pindah ke Palembang, Sumatera Selatan, dan selanjutnya menyebar di seluruh Sumatra.

I-tsing, seorang pendeta Budha dari Dinasti Tang, yang datang ke Nusantara antara tahun 688-695 Masehi mencatat sebuah kerajaan bernama Mo-Lo-Yu (Melayu). Lokasi kerajaan itu berjarak 15 hari pelayaran dari Bogha (Palembang) yang menjadi ibu kota Sribogha (Sriwijaya). Jika berlayar dari Ka-Cha (Kedah) jarak tempuh menuju ke kerajaan itu pun memakan waktu yang sama.

I-tsing mencatat Mo-Lo-Yeu merupakan sebuah negara yang merdeka. Namun pada akhirnya kerajaan itu takluk di bawah pemerintahan Sriwijaya.

Tentang Melayu juga pernah dicatat oleh Marco Polo dalam bukunya Travels of Marco Polo. Petualang asal Venesia itu menuliskan Melayu dengan Malauir. Lokasinya berada di selatan Semenanjung Melayu.

Sementara Ptolemy pada kisaran tahun 90-168 Masehi dalam karyanya “Geographia” mencatat sebuah tanjung di Aurea Chersonesus (Semenanjung Melayu) dengan nama Maleu-kolon. Penyebutan ini diduga berasal dari bahasa Sanskerta, malayakolam atau malaikurram, yang merujuk pada Tanjung Kuantan atau Tanjung Penyabung di Semenanjung Malaysia.

Lebih lanjut, catatan tertua tentang Melayu juga dapat dilihat pada Bab 48 teks agama Hindu Vuya Purana yang berbahasa Sanskerta. Pada teks tersebut ada satu kata Malayadvipa. Kata ini merujuk pada sebuah daerah di pulau yang kaya akan emas dan perak. Daerah itu juga berdiri satu bukit yang disebut dengan Malaya, yang artinya sebuah gunung besar atau Mahamalaya.

Hal berbeda justru dipaparkan oleh banyak sarjana Barat, antara lain Sir Roland Braddel. Dia menyamakan penyebutan Malayadvipa dengan Sumatra.

Sarjana Prancis, Georges Coedes dalam tulisan berjudul Royaume de Crivijaya tahun 1918 berpendapat Kerajaan Melayu berlokasi di Jambi yang kemudian dijajah oleh Sriwijaya.

Di era modern, suku Melayu dapat ditemui di Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, dan juga di Aceh. Sementara berdasarkan sensus tahun 2000, suku Melayu di Indonesia terdiri atas Melayu Tamiang, Melayu Palembang, Melayu Bangka Belitung, Melayu Deli, Melayu Riau, Melayu Jambi, Melayu Bengkulu, dan Melayu Pontianak.

Suku Melayu di Indonesia memiliki suku bangsa serumpun yang kini hidup di Sumatra, seperti Suku Minangkabau, Suku Kerinci, Suku Talang Mamak, Suku Sakai, Orang Laut, Suku Rejang, Suku Serawai, dan Suku Pasemah.

Banyak para ahli secara umum menyimpulkan suku Melayu modern saat ini dapat digambarkan sebagai orang Austronesia yang beragama Islam, serta berbahasa dan berbudaya Melayu dalam kehidupan sehari-harinya.

Bahasa menjadi unsur kebudayaan paling mudah dikenali dari Suku Melayu yang masih bertahan hingga sekarang dan menjadi tutur pengantar dalam kegiatan keagamaan serta perdagangan di Nusantara sejak abad ke 7 Masehi. Meskipun demikian, bahasa Melayu tumbuh dan termodifikasi sesuai dengan karakteristik tempat asalnya.

Di beberapa negara, bahasa Melayu bahkan menjadi bahasa resmi seperti Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, dan juga Indonesia. Sementara dari segi linguistik, bahasa Melayu terbagi dalam 45 bahasa dengan ratusan dialek yang berkembang sesuai rumpun Melayu di daerah tertentu.

Sangat sukar menakar bagaimana klasifikasi suku Melayu secara tepat karena lima sub kultur di daerah sebaran yang sangat bervariasi. Dibutuhkan penelitian lanjutan untuk hal ini dari para pakar guna melengkapi catatan tentang Suku Melayu.[]