SEEKOR cicak merayap di dinding meunasah. Reptil kecil tersebut sedang berburu sekawanan nyamuk yang terbang bebas di dalam gedung tak berdaun jendela itu. Satu nyamuk berhasil disambar sang cicak yang separuh ekornya sudah buntung. Namun, saat bersiap-siap menangkap seekor nyamuk lainnya, cicak tersebut jatuh tepat di atas kepala Zahra. Sontak gadis kecil Abu Keuchik itu berteriak. Tak karuan saja tingkahnya. Dia histeris, meloncat-loncat ketakutan seraya menepis-nepis kepala.

Apa yang terjadi pada Zahra membuat suasana pengajian di meunasah terhenti sesaat. Teman-teman Zahra, termasuk Laily, terpingkal-pingkal melihat tingkah gadis tersebut. Abu Keuchik kemudian mendehem keras sebagai pertanda agar Zahra diam. Isyarat tersebut juga ditujukan untuk teman-teman Zahra, dan tak terkecuali Laily.

Semuanya hening. Pengajian dilanjutkan.

Sayup-sayup terdengar suara azan Isya. Abu Keuchik mengisyaratkan agar anak-anak menyelesaikan bacaan ayat masing-masing dan menutupnya dengan sama-sama bersalawat. Selanjutnya dia meminta Madi untuk bergegas berwudhu’. Malam itu Madi bertugas menjadi muazin salat Isya. Madi tanpa harus diperintah dua kali langsung menurut. Dia menuju sumur tua di depan meunasah.

Setelah salawat berakhir, satu persatu anak-anak keluar dari meunasah. Abu Keuchik menjadi orang yang pertama kali menuju sumur, kemudian disusul seluruh anak-anak pengajian. Dari lorong suara langkah kaki terdengar mendekat. Beberapa pria paruh baya dan orang tua ikut salat berjamaah di meunasah malam itu.

Madi melaksanakan tugasnya. Suara yang merdu disambut pelantang tua memanggil para muslim di ujung Cot Alue untuk melaksanakan kewajiban mereka. Selepas Madi mengumandangkan azan, beberapa pria paruh baya terlihat sudah memasang gerak untuk melaksanakan salat sunat.

Abu Keuchik melirik ke kanan dan ke kiri. Dia mencari sosok Teungku Don yang malam itu bertugas menjadi imam salat Isya. Namun, sosok yang dicari tak memperlihatkan batang hidungnya. Abu Keuchik lantas melangkah maju ke posisi imam selang tiga menit azan berkumandang. Madi melantunkan iqamah dan salat isya berjamaah dimulai. Malam itu, seperti malam-malam biasanya, jamaah salat fardhu hanya diikuti beberapa pria dewasa. Jumlah shaf salat pun tak lebih dari enam orang.

Anak-anak pengajian yang belum baligh berdiri di shaf paling akhir. Ada Amat, Ismail, Yahya, dan Ramadhan dalam barisan itu. Mereka adalah anak-anak usia yang paling muda. Sementara Laily, Zahra, dan tiga temannya yang lain berada di shaf jamaah wanita. Tak banyak kaum hawa yang ikut serta melaksanakan salat berjamaah di meunasah seperti malam-malam biasanya.

“Allahuakbar.” Abu Keuchik memulai salat. Alfatihah menjadi ayat pembuka salat kemudian Abu Keuchik melantunkan surat An Naba’. Semua hening dan khusyuk hingga memasuki raka’at ketiga.

Tiba-tiba ketika jamaah salat Isya memasuki sujud terdengar suara yang mengganggu dari shaf paling belakang. Bunyinya panjang dan nyaring seperti bunyi udara yang lepas dari kepala balon dengan terpaksa. Tak lama kemudian terdengar suara anak-anak cekikikan disusul celoteh Yahya, “Kapaloe, na yang geuntot. Cukop khing be (Aduh, ada yang kentut. Bau sekali).”

“Jangan bicara lagi salat. Ingat nasehat Abu Keuchik hai,” timpal Ramadhan.

Kah kapeugah haba chit. Ka peuingat gob (Kamu ingatin orang, kamu sendiri bicara),” tambah Amat.

Tak lama, shaf paling belakang menjadi paling riuh saling menyalahkan. Sementara shaf terdepan yang diisi oleh orang-orang tua dan anak-anak remaja sudah duduk tahiyat akhir. Abu Keuchik kemudian mengucapkan dua salam. Serta merta anak-anak yang sedari tadi riuh, bertambah riuh. Para orang tua hanya menggeleng-geleng kepala. Abu Keuchik diam. Satu persatu jamaah dewasa kembali ke rumah masing-masing. Di meunasah hanya tersisa Abu Keuchik dan murid-murid pengajiannya.

Boh ka, peu yang rioh that teungoh sembahyang beuno? (Jadi kenapa gaduh sekali saat salat tadi?)” Tanya Abu Keuchik yang masih duduk di sajadah terdepan.

Ma’e ditoh geuntot Abu (Ismail kentut Abu),” kata Yahya.

“Kemudian siapa yang berbicara pertama kali?” Tanya Abu Keuchik lagi.

“Saya, Abu,” jawab Yahya.

Aleuh nyan? Siapa yang melarang bicara saat salat tadi?”

“Saya Abu. Kan dalam salat kita tak boleh bicara,” kata Ramadhan percaya diri.

“Sok kali ingatin orang. Dia juga bicara, kan batal juga salatnya kan Abu?” sergah Amat.

Nyan man mandum hana sah sembahyang. (Itu semua tidak sah salatnya). Ambil wudhu’ lagi, kemudian ulangi salat. Amat jeut keu imum (Amat jadi imam),” kata Abu Keuchik.

Semuanya saling menyenggol, tetapi tak membantah. Ke empat bocah itu kembali berwudhu’ dan mengerjakan kembali salat berjamaah. Madi tersenyum kemudian meminta izin untuk pulang ke rumah. Namun, Abu Keuchik melarangnya. Dia meminta agar Madi menunggu empat bocah tersebut menyelesaikan salat mereka. “Nanti kalau mereka sudah selesai, tolong ditemani pulang. Jangan lupa kunci meunasah,” kata Abu.

“Oh ya, apakah kamu melihat Teungku Don dan Rahman? Kenapa mereka tidak datang berjamaah malam ini?” Tanya Abu kepada Madi.

“Tidak lihat Abu. Mungkin beliau salat di rumah malam ini,” kata Madi.

“Hmm… Ya sudah, saya izin pulang dulu ya. Assalammualaikum,” Abu Keuchik pamit.

Waalaikumsalam Abu,” jawab Madi.[] Bersambung…

Baca juga:

Kulat [1]

Kulat [2]

Kulat [3]

Kulat [4]

Kulat [5]

Kulat [6]

Kulat [7]


Note: Kisah ini merupakan fiktif belaka. Jika terdapat kesamaan pada nama pelaku, kejadian, dan tempat hanya kebetulan semata.


Cerita bersambung ini ditulis oleh Boy Nashruddin Agus dan akan ditayangkan setiap Sabtu, setiap pekannya.