Repro ilustrasi

RUMAH Teungku Don agak berdekatan dengan Bukit Pemancar yang dikenal sebagai tempat paling angker di Cot Alue. Setiap malam, seringkali terdengar suara jeritan manusia dari arah bukit tersebut. Terkadang suara pria, tak jarang suara wanita. Teungku Don yang tak tahan mendengar jeritan-jeritan itu hanya beristighfar di dalam hati. Tak sekalipun dia berani menyelidiki ada apa gerangan di puncak bukit tersebut saban suara jeritan terdengar di malam hari.

Pernah sekali Teungku Don duduk di balai depan rumah karena tak mampu terlelap. Malam itu, hujan gerimis mengguyur Cot Alue sejak habis maghrib. Teungku Don yang sedang mengulum-ngulum asap tembakau tiba-tiba tersedak. Dia melihat sosok wanita turun dari arah Bukit Pemancar dengan menangis. Teungku Don serta merta meloncat dari balai dan masuk ke dalam rumah.

Dia kemudian mencoba mengintip dari balik jendela kamar siapa gerangan wanita yang nekat berjalan sendirian dari Bukit Pemancar tersebut. Namun, sosok yang diintai itu tak dapat terlihat dari balik jendela kamarnya. Teungku Don saat itu penasaran. Dia lantas keluar melalui pintu belakang dan memutar melalui jalan sempit di antara pagar bambu dan dinding rumahnya. Sosok wanita yang tadi menangis ternyata kembali ke arah Bukit Pemancar. Lagi-lagi, wanita itu menangis tersedu sedan.

Teungku Don mencoba menghampiri sosok wanita itu. Namun, si wanita yang sedang bersedih tak kuasa didekati. Sosok itu terus menjauh ke Bukit Pemancar dan menghilang di puing-puing perumahan bekas karyawan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang ada di sana. Komplek perumahan tersebut sudah lama ditinggal pemiliknya. Sebagian bangunan rumah di komplek tersebut bahkan sudah menjadi arang. Ada juga yang masih tersisa sebagian, dan juga ada yang masih utuh. Namun, daun jendela dan pintu sudah tidak lagi berfungsi. Kaca-kaca jendela dan atap juga banyak yang berlubang.

Ada yang mengatakan komplek perumahan tersebut dibakar komplotan kombatan. Namun, ada juga yang menyebut komplek rumah karyawan itu sengaja dibakar tentara entah untuk apa.

Teungku Don menggigil. Dia kembali beristighfar dan mengucap asma ilahi. Teungku Don baru menyadari dia telah begitu jauh dari rumahnya. Pria yang akrab dengan Abu Keuchik itu mencoba berlari. Hingga beberapa kaki di depan pagar rumah, suara tangisan wanita tadi kembali terngiang di telinga Teungku Don.

Kisah itu belakangan diceritakan Teungku Don kepada Abu Keuchik yang langsung penasaran dengan pengalaman bernuansa astral itu. Namun rasa penasaran dua sahabat tersebut tidak berlangsung lama, karena beberapa hari kemudian tersiar kabar ada anak perawan yang ditemukan meninggal dunia. Perawan itu sebelumnya hilang tak tahu rimba. Sudah sepekan keluarganya mencari. Terakhir sang perawan itu terlihat di Simpang Kecamatan nan ramai. Kemudian raib bak ditelan bumi.

Setelah keluarga pasrah, jasad perawan nahas tersebut muncul tepat dua hari setelah Teungku Don melihat sosok perempuan nan misteri itu. Di kaki Bukit Pemancar, di bawah pohon kelayu, di balik semak-semak nan berduri yang tak jauh dari rumah Teungku Don itu.

Kabar-kabar tentang penyebab kematian sang perawan menjadi perbincangan dari satu warung kopi ke warung kopi lain. Dari satu rumah, ke rumah yang lain. Peristiwa mengerikan itu juga diperbincangkan di meunasah-meunasah, pasar dan bahkan di sekolah-sekolah, termasuk sekolah Abu Keuchik. Ketika perbincangan semakin liar, ketika perbincangan tentang perawan yang mati berdarah itu nyaris mengarah siapa pelakunya, Abu Keuchik berdehem. Dia kemudian dengan suara sedikit dibesar-besarkan berkata, “peugah haba uroe ingat u likot, peugah haba malam ingat keu seupot.”

Kalimat sakti yang dikeluarkan Abu Keuchik itu benar-benar membuat mulut para warga terkunci. Diam. Hening. Sejurus kemudian, mereka kembali beraktivitas seperti biasa. Sepertinya kejadian hilangnya perawan yang ditemukan mati muda itu tidak pernah terjadi di lingkungan mereka.[] Bersambung

Baca juga:

Kulat [1]

Kulat [2]

Kulat [3]

Kulat [4]

Kulat [5]

Kulat [6]


Note: Kisah ini merupakan fiktif belaka. Jika terdapat kesamaan pada nama pelaku, kejadian, dan tempat hanya kebetulan semata.


Cerita bersambung ini ditulis oleh Boy Nashruddin Agus dan akan ditayangkan setiap Sabtu, setiap pekannya.