PANG Nanggroe yang mengawini janda Chik Tunong, Cut Meutia, telah menasbihkan dirinya untuk syahid melawan Belanda. Sejak keduanya menikah, Belanda kerap dibikin pusing hingga harus mengejarnya ke hutan belantara.

Sejak menggantikan peranan Chik Tunong sebagai suami Cut Meutia, Pang Nanggroe terus menerus melancarkan serangan kepada Belanda. Ia berhasil menyerang kereta api milik Belanda sebanyak dua kali, menembaki kereta api sebanyak lima kali, menyerang bivak Lhoksukon dua kali, dan penyerangan dengan klewang terhadap perwira Belanda sebanyak lima kali. Semua aksinya tersebut berhasil dilakukan dalam rentang waktu tiga bulan.

Ia juga berhasil merusak rel kereta api sebanyak 22 kali dan menyabotase tiang telepon sebagai jalur komunikasi Belanda sebanyak 54 kali, dalam waktu yang sama.

Pang Nanggroe juga berhasil mendarat dengan perahu lewat laut saat masuk ke institusi sipil Belanda di Idi untuk merampas senjata. Belanda kemudian menjulukinya sebagai Watergeus Aceh. Watergeus adalah julukan untuk perampas Den Briel dalam perang Belanda-Spanyol tahun 1572.

+++

PANG Nanggroe berjuang melawan penjajah Belanda hingga akhir hayatnya. Suami Pahlawan Nasional Cut Meutia itu gugur dalam peristiwa kontak tembak di rawa-rawa kawasan Aceh Utara pada 26 September 1910. Dalam keadaan luka parah sebelum ajalnya tiba, Pang Nanggro membisikkan kepada anak tirinya, Teuku Raja Sabi, “Plung laju jak seutot ma, lon ka mate”.

Pang Nanggroe mulanya pengikut Teuku Chik Di Tunong, suami Cut Meutia. Menjelang dieksekusi hukuman tembak oleh pasukan Belanda di tepi laut Lhokseumawe pada 25 Maret 1905, Teuku Chik Di Tunong menyampaikan dua pesan kepada Cut Meutia. Pertama, mendidik Teuku Raja Sabi yang saat itu berusia lima tahun untuk tetap bermusuhan dengan Belanda. Kedua, menikah dengan Pang Nanggroe untuk melanjutkan perjuangan.

Pesan kedua itu disampaikan Cut Meutia kepada Pang Nanggroe melalui seorang ulama yang selama ini berada dalam kelompok Teuku Chik Di Tunong, yaitu Teungku Di Mata Ie. Mulanya, Pang Nanggro menolak karena ia merasa tidak sepadan dengan Cut Meutia, baik dari segi rupa maupun keturunan. Ia menganggap dirinya tidak layak mempersunting Cut Meutia yang sangat dihormati.

Teungku Di Mata Ie mengatakan masalahnya bukan rupa dan keturunan. Yang penting harus dipertimbangkan amanah almarhum Teuku Chik Di Tunong dan kelanjutan perjuangan untuk mengusir kaphe. Akhirnya, keduanya dinikahkan sebagai suami-istri. Bekas para pengikut Teuku Chik Di Tunong kemudian bergabung bersama pemimpin mereka yang baru, Cut Meutia dan Pang Nanggroe.

Tak lama kemudian Pang Nanggroe dan Cut Meutia bersama pejuang lainnya meninggalkan daerah Keureutoe, satu daerah dalam wilayah Kesultanan Aceh yang mempunyai Uleebalang sendiri, terletak di Kabupaten Aceh Utara sekarang. Daerah Uleebalang Keureuto mencakup kawasan dari Krueng Pase sampai ke Pantonlabu (Krueng Jambo Aye).

Dengan persenjataan kelewang, rencong dan senjata tajam lainnya, mereka menuju suatu tempat yang jauh dari jangkauan kaphe, yaitu di kubu pertahanan Teuku Ben Daud Pirak, ayah Cut Meutia, di hulu Krueng Jambo Aye. Di tempat ini, mereka telah dinanti-nantikan laskar Aceh. Mereka didukung pula ulama-ulama besar. Di antaranya, Teungku Chiek Di Paya Bakoeng (Teungku Seupot Mata) dan saudaranya Teungku Paya Bakoeng (Teungku Di Mata Ie). Ada pula Teuku Mat Saleh (guru mengaji Teuku Raja Sabi), Pang Lateh, Teungku Di Barat, Pang Johan dan lainnya.

Setelah tersiar berita tentang menghilangnya Cut Meutia dan Teuku Raja Sabi, timbul kemarahan Belanda. Mereka mengadakan pemeriksaan serta menyiasati terhadap pemimpin masyarakat yang masih tinggal di kampung. Rakyat ditangkap serta dipenjarakan dalam tangsi, dan dibakar rumah-rumah rakyat yang mereka curigai.

Hal ini diketahui Pang Nanggroe-Cut Meutia melalui dua utusan yang sengaja datang membawa laporan ke kubu Krueng Jambo Aye, yaitu Nek Salim dan Lem Dalem. Setelah mendapat laporan itu, Teuku Ben Daud, Teuku Ben Pirak, Pang Nanggro, Pang Lateh, Cut Meutia, Teungku Paya Bakong, Teungku Seupot Mata, dan lainnya bermusyawarah. Diputuskan untuk menyerang tangsi-tangsi Belanda, di tempat orang-orang muslimin ditahan.

Tiga pasukan masing-masing berkekuatan 20 orang dipimpin Teuku Ben Daud, Teuku Ben Pirak dan Pang Nanggroe. Mereka masuk ke Keureutoe melalui tiga jurusan, barat, timur dan utara. Pasukan Teuku Ben Daud dan Teuku Ben Pirak menggempur tempat penahanan muslimin serta membebaskannya, sedangkan Pang Nanggro membuat kerusuhan di bagian utara.

Sekembalinya ketiga pasukan muslimin ini ke markas di hulu Krueng Jambo Aye diadakan sedikit kenduri syukuran kemenangan yang baru dicapai. Ini merupakan awal dari perlawanan Pang Nanggro-Cut Meutia selama lima tahun sampai tahun 1910.

Dengan kemenangan itu semakin bertambah semangat kaum muslimin menghadapi musuh. Namun Belanda tidak tinggal diam untuk menumpas habis gerilyawan muslimin yang kini telah kuat kembali dengan ikutnya ulama-ulama dan para panglima berpengaruh.

Untuk mengimbangi gerilyawan muslimin, Belanda membentuk pasukan khusus yang terdiri atas prajurit-prajurit pilihan, perwira berpengalaman dan selalu bergerak cepat. Pasukan marsose ini disebut “Kolone Macan”. Jumlah pasukan dan pos-pos (bivak) infantri ditambah sehingga meliputi seluruh Aceh Utara. Belanda siap mengerahkan semua kekuatan.

Namun, pejuang muslimin yang sekarang dipimpin Pang Nanggroe bergerak sangat cepat. Gempuran mereka selalu menimbulkan ketakutan serta kecemasan pihak Belanda. Penyerbuan demi penyerbuan membuat kalang-kabut musuh. Pasukannya selalu mengintai dan membuntuti patroli Belanda, kemudian mencegatnya di tempat-tempat yang sangat sukar untuk dilawan musuh.

Dalam suatu penyergapan terhadap sebuah bivak yang mengawal pekerja-pekerja kereta api, dengan kekuatan 20 orang Pang Nanggroe berhasil menewaskan dua orang Belanda dan empat lainnya luka-luka. Pasukan Pang Nanggroe merebut 10 pucuk senapan, 750 butir peluru, dan sepucuk senapan berburu. Peristiwa ini terjadi pada 6 Mei 1909. Kemenangan ini mempunyai arti cukup penting bagi kaum muslimin serta mempunyai akibat yang cukup buruk bagi musuh.

Mengenai hal ini Zenrgraaff menulis, “Betapa berarti kejadian itu bagi pasukan kita. Menyerahkan sepucuk senjata api ke tangan lawan yang esoknya akan digunakan untuk menghantam kita. Banyak komandan beranggapan bahwa lebih baik kehilangan seorang prajurit daripada kehilangan sepucuk senapan. Yang terakhir ini bisa saja menghancurkan selusin prajurit”.

Peristiwa 6 Mei 1909 ini menggemparkan pucuk pimpinan Belanda baik yang berada di Lhok Seumawe, Lhok Sukon sampai ke Kutaraja. Banyak di antara komandan marsose yang telah berpengalaman menganggapnya sebagai kekalahan besar. Ada pula di antara komandan yang memarahi serdadu atau anak buahnya bahwa mereka dengan mudah ditipu oleh muslimin.

Sedang hangat-hangatnya pasukan Belanda membicarakan peristiwa yang baru lalu, Pang Nanggro melakukan serangan selanjutnya dalam batas waktu yang cukup pendek. Ia melakukan penyerbuan demi penyerbuan, penyerangan besar maupun sabotase-sabotase biasa.

Pada 15 Juni, Pang Nanggroe membuat debut baru yang lebih menggemparkan Belanda. Dengan 25 pasukannya ia menggempur sebuah bivak marsose di Keude Idi. Pasukan marsose ini baru saja tiba dari Kutaraja untuk memperkuat pasukan di daerah tersebut. Dalam penyerbuan ini pasukan muslimin menewaskan satu musuh, delapan lainnya luka-luka serta merampas satu pucuk senjata.

Pang Nanggroe bergerak sangat mobil, dari satu penyerangan ke penyerangan, memberikan kesan betapa cepat ia dapat melakukan gerakannya. Dua kemenangan besar yang telah diperoleh menyebabkan namanya tersiar dengan cepat. Namanya mendapat tempat dalam deretan penentang-penentang besar, setaraf dengan ulama-ulama besar lainnya seperti keluarga ulama-ulama Tiro yang telah berjuang dengan gagah perkasa mempertahankan tanah airnya.

Hampir seluruh daerah Keureutoe, Pirak, Pase, Lhok Sukon dan daerah sekitarnya berada dalam kekuasaan Pang Nanggroe. Kampung-kampung menjadi kosong karena kaum prianya ke gunung-gunung membantu Pang Nanggroe-Cut Meutia.

Komandan-komandan brigade infantri biasa maupun brigade marsose yang pernah melakukan pertempuran dan pengejaran terhadap pasukan Pang Nanggroe, bercerita tentang pengalaman-pengalaman pahit yang mereka hadapi. Di antara mereka terdapat nama-nama terkenal seperti Moselman, Christoffel, Van der Vlerk, Van Slooten dan lainnya.

Kisah tentang siasat Pang Nanggro diceritakan Mosselman. Antara lain ketika pasukan Mosselman mencoba menebang pohon guna mengetahui siasat Pang Nanggro. Yang terjadi kemudian para personil marsose terhimpit pohon-pohon. Siasat unik lainnya dari Pang Nanggroe menjebak pasukan musuh, ia memerintahkan beberapa pengikut menyebarkan isu bahwa kaum muslimin akan mengadakan kenduri besar di sebuah rumah dalam kampung yang telah ditinggal penduduk di sebelah selatan Matang Raya.

Isu ini semakin luas di tengah masyarakat dan akhirnya tercium Belanda. Belanda percaya desas-desus ini, lantas mempersiapkan pasukannya untuk menghalau kaum muslimin yang akan mengadakan kenduri. Saat pasukan patroli Belanda sampai ke tempat tersebut mereka mendapati sebuah rumah besar yang lampu-lampunya telah dihidupkan, tikar-tikar digelar rapi, dan terseadia kue-kue enak.

Beberapa senjata tajam diletakkan dan baju-baju tua bergantungan di sekitar dinding rumah itu. Keadaan ini diatur sangat rapi, seolah-lolah rumah yang sedang ada kenduri besar itu ditinggalkan tergesa-gesa akibat datangnya patroli Belanda.

Ilustrasi orang-orang Aceh tempo dulu

Untuk lebih meyakinkan pihak patroli Belanda, pasukan Pang Nanggroe menempatkan seorang pengintai beberapa ratus meter dari rumah itu. Ketika patroli Belanda hampir mencapai rumah itu, pengintai harus berteriak kuat-kuat, “kaphe-kaphe” sehingga terdengar pasukan musuh sambil ia sendiri lari meninggalkan tempat itu. Patroli Belanda merasa yakin bahwa seiring teriakan itulah muslimin meninggalkan jamuan kenduri tersebut.

Apa yang terjadi? Pang Nanggroe telah memerintahkan agar tiang-tiang yang kokoh dari rumah tersebut digergaji dengan mata gergaji yang cukup tipis, sehingga tidak membekas. Selanjutnya untuk menjaga agar rumah itu tidak roboh beberapa tiang utama direntangkan dengan rotan ke pohon-pohon kayu terdekat. Jika rotan itu diputuskan, rumah akan tumbang dan orang yang berada di sana terhimpit tiang-tiang. Demikianlah rencana sangat teliti dari Pang Nanggroe.

Dua sersan Belanda yang berpengalaman tiba-tiba mengetahui bahwa ini tipu muslihat Pang Nanggroe. Namun sang komandan kurang cepat bergerak, tiba-tiba pasukan muslimin memotong tali yang direntang di tiang rumah itu dan sekejap saja roboh. Serentak dengan itu pasukan muslimin menyerbu. Nasib sial bagi marsose, mereka kebanyakan mati terhimpit. Sebagian lagi mati kena kelewang dan rencong pejuang-pejuang Aceh.

Kemenangan demi kemenangan diperoleh Pang Nanggroe-Cut Meutia membuat pemerintah baik di Kutaraja sampai ke Batavia semakin gusar. Marsose-marsose biasa tidak seimbang untuk menghadapi pejuang-pejuang Aceh yang gagah berani serta mempunyai semangat tinggi. Marsose ini menjadi bahan tertawaan pejuang Aceh karena selalu dengan mudah dapat dipancing untuk dijebak. Hampir setiap pertempuran Belanda mengalami kekalahan, lebih-lebih dalam menghadapi kekuatan Pang Nanggroe-Cut Muetia.

Van Daalen selaku Gubernur Sipil dan militer Aceh (1905-1908) kemudian menggantikan Van Heutz. Terkenal sebagai gubernur yang kejam dan disiplin dalam menjalankan tugas-tugasnya di Aceh, tidak mampu menghadapi pasukan Pang Nanggroe. Kebengisan dan kekejaman Van Daalen sangat terkenal, pembunuhan dan penembakan terhadap rakyat, baginya hal biasa.

Pemerintah di Kutaraja dan Betawi kemudian membentuk “Kolone Macan” dipimpin Christoffel. Pasukan gerak cepat ini terdiri atas 12 brigade. Pada leher baju mereka terdapat “jari-jari darah” sebagai tanda pangkat untuk semua marsose. “Sapu tangan merah” yang dililit pada leher sebagai pertanda mereka dalam bertindak lebih berani serta keras dari serdadu biasa.

Penambahan kekuatan dengan pembentukan kolone khusus itu kemudian diketahui pejuang-pejuang muslimin Aceh terutama Pang Nanggroe, Cut Meutia, Teuku Ben Daud, Teungku Paya Bokong, dan lainnya. Penambahan kekuatan musuh tidak menyebabkan merosotnya perjuangan Pang Nanggroe-Cut Meutia.

Sebelum melakukan penyerangan terhadap musuh, pasukan Pang Nanggroe terlebih dahulu membongkar rel kereta api. Kemudian menyerbu serdadu Kolone Macan secara tiba-tiba. Pasukan Aceh juga memutuskan hubungan telepon, dan tembakan-tembakan terhadap bivak.

Keberanian Pang Nanggroe membuat Belanda memberi sebutan sebagai watergeus. Hal ini terjadi sewaktu ia mempergunakan perahu-perahu menyerbu dari laut ke Idi untuk merampas senjata api Belanda.

Sementara dalam kemerosotan popularitas Christoffe, terjadi pula perubahan politik di pusat pemerintahan di Kutaraja. Van Daalen pada tahun 1908 diganti oleh Swart. Walaupun Kolone Macan tidak dibubarkan, tetapi lambat-laun kembali seperti marsose biasa yang kepemimpinannya dialihkan kepada Van Der Vlerk.

Swart kemudian membuat kebijakan baru untuk menghadapi pejuang Aceh. Swart mendekatkan diri dengan rakyat, membujuk agar mau memberitahukan tempat-tempat yang dipergunakan sebagai kubu pertahanan para pejuang. Kepada mereka yang menyampaikan informasi tentang kekuatan pejuang muslimin, diberikan imbalan materi cukup menyenangkan.

Tegasnya, Belanda kini ingin memanfaatkan rakyat agar memusuhi pejuang. Kepada mereka diisukan bahwa pasukan pejuang Aceh adalah pemberontak yang tidak ingin melihat daerah aman. Isu-isu ini menyebabkan lemahnya perjuangan pejuang Aceh, karena yang bersifat bantuan dalam bentuk makanan mulai berkurang. Inilah awal dari petaka bagi pasukan Pang Nanggroe.

Pengejaran terhadap Pang Nanggroe semakin ditingkatkan. Namun Pang Nanggroe tetap tidak mau tunduk atau menyerah kalah kepada Belanda. Pang Nanggroe dan Cut Meutia yang kini bersama beberapa puluh orang pengikut yang masih setia bertekad lebih baik syahid daripada menyerah.

Tahun-tahun terakhir Pang Nanggroe masih terus melaksanakan penyerbuan-penyerbuan terhadap patroli-patroli Belanda. Bulan Maret 1910 terjadi pertempuran di daerah rawa-rawa Krueng Jambo Aye yang menyebabkan mereka harus menuju ke daerah Peuto. Kemudian disusul bentrokan pada 30 Juli 1910 di daerah Buket Hagu dan Paya Surian.

Pada suatu hari bulan Agustus 1910 pasukan Pang Nanggroe berada di daerah Matang Raya. Di sini terjadi lagi perlawanan dengan Belanda. Seorang ulama gugur, akan tetapi yang dicari-cari pihak Belanda tidak pernah ditemukan. Pang Nanggroe, Cut Nyak Meutia, dan Teuku Raja Sabi selalu dapat meloloskan diri.

GERAK cepat Pang Nanggroe bersama pasukannya membuat pasukan Belanda terus kehilangan jejak. Ekspedisi kali ini dipimpin oleh Sersan van Sloeten yang mendapat perintah mencari pasukan Pang Nanggroe ke Paya Cicem. Di sana, Belanda tidak menemukan apa yang dicari hingga melanjutkan ekspedisi ke Peutoe.

Seorang wanita kemudian memberitahukan adanya tiga pria bersama dua wanita dari kesatuan Pang Nanggroe sedang berada di meunasah kampung itu. Belanda yang mendapat informasi tersebut langsung bergegas. Orang yang dicari raib, karena mereka sudah bergerak ke Bukit Hagu.

Van Sloeten bersama pasukannya tidak menyerah begitu saja. Padahal hari itu hujan deras mengguyur kawasan. Kegigihan pasukan Belanda mencari Pang Nanggroe mengantarkan mereka ke Gampong Alue Awe. Namun, lagi-lagi upaya pencarian itu tidak membuahkan hasil.

Pelacakan terhadap gerak pasukan Pang Nanggroe baru membuahkan hasil pada 25 September 1910. Hari itu, Belanda mendapat informasi bahwa buruan mereka baru satu jam meninggalkan tempat tersebut dan beranjak ke Kampung Putih.

Dari sanalah Belanda berhasil menemukan jejak baru orang-orang yang diburu hingga mengantarkan mereka ke kawasan rawa-rawa berlumpur. Di kawasan paya itu terdapat satu gubuk yang di dalamnya terdengar suara-suara manusia. Jarak antara gubuk dengan lokasi pasukan van Sloeten tertaut 50 meter. Pemimpin pasukan Belanda ini kemudian memerintahkan pasukannya berjalan tanpa menimbulkan suara. Mereka juga diperintahkan untuk mengapit gubuk itu dari sayap kiri dan kanan.

Namun di tengah-tengah kewaspadaan yang tinggi itu, tiba-tiba seorang marsose dari pasukan Van Slooten jatuh ke dalam lumpur. Pasukan Pang Nanggroe segera menembak serdadu-serdadu Belanda yang masih berada dalam rawa-rawa itu, tetapi Van Slooten tidak menyerbu dari satu jurusan. Setelah mengetahui dengan pasti kedudukan pasukan Pang Nanggroe, ia mulai melancarkan serangannya.

Ketika terjadi tembak-menembak antara kedua pasukan, tiba-tiba Pang Nanggroe terkena peluru musuh. Saat Pang Nanggroe jatuh, di sampingnya ada Teuku Raja Sabi yang berusaha menolong dan merawat ayah tirinya itu. Mengetahui bahaya sedang mengancam Teuku Raja Sabi, dalam keadaan luka parah sebelum ajalnya tiba, Pang Nanggroe membisikkan kepada anak tirinya yang sedang membungkukkan kepala, “Plung laju jak seutot ma, ilon ka mate (lari cepat meninggalkan tempat ini untuk ikut bersama ibumu, saya sebentar lagi akan meninggal dunia)”.

Inilah kata-kata terakhir yang sempat dibisikkan Pang Nanggroe kepada Teuku Raja Sabi pada 26 September 1910 tersebut.

Saat pasukan Van Slooten mendekat ke tempat itu, ditemukan Pang Nanggroe dalam keadaan sudah syahid. Kematian Pang Nanggroe yang dianggap sebagai watergues mempunyai arti cukup penting bagi mereka. Dengan susah payah jenazah Pang Nanggroe dibawa ke Lhok Sukon untuk dipersaksikan kepada rakyat yang mengenalnya.

Jenazah Pang Nanggroe dimakamkan dalam sebuah kandang (makam) di kota Lhok Sukon, di samping kawannya yang setia yaitu Pang Lateh, yang syahid setelah Pang Nanggroe.[]