Aksi mahasiswa-pelajar Aceh untuk menyelamatkan asrama-asrama mahasiswa Aceh di Yogyakarta beberapa waktu lalu | Foto: Istimewa

DEWASA ini sulit sekali menemukan orang Aceh yang menjadi tokoh kaliber nasional! Padahal, dulu reputasi orang-orang Aceh di tingkat nasional sangat banyak ditemukan.

Pertanyaan ini muncul dari batin saya dan hingga kini belum mendapat jawaban yang memuaskan.

Dari rasa penasaran itu, saya kembali menoleh ke masa lalu. Bagaimana orang Aceh tempo dulu menerobos berbagai rintangan, hingga namanya terpampang di tingkat nasional.

Memang, tidak semua berhasil dalam menghadapi tantangan itu. Namun mereka telah berjuang dan berkorban.

Ternyata merantaulah modal utamanya!

Sabagai salah seorang “manusia Aceh” yang pernah merantau ke Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), maka kabar dari Yogyakartalah yang saya tulis ulang kali ini.

Yogyakarta terkenal sebagai kota pendidikan, maka tidak heran bila kota ini ramai oleh pelajar dan mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Hampir setiap provinsi, paling kurang mempunyai satu asrama pelajar dan mahasiswa di Yogyakarta.

Suatu keistimewaan bagi provinsi Aceh, yang memiliki lima asrama di kota ini. Dulu, malah lebih banyak lagi.

Keunggulan Aceh ini terkait erat dengan sejarah Perang Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945-1949.

Setelah terdesak karena hampir semua wilayah Indonesia sudah kembali dikuasai oleh Belanda, Presiden Soekarno memindahkan ibu kota negara dari Jakarta ke Yogyakarta. Gedung Agung yang masih lestari hingga sekarang dijadikan sebagai Istana Presiden RI masa itu.

Aceh sebagai wilayah satu-satunya yang tak dapat diduduki kembali oleh Belanda, dengan setia terus mendampingi Negara Republik Indonesia dalam perang kemerdekaan itu. Akibatnya, sejumlah pemimpin dan tokoh Aceh sering berkunjung dan berada di ibukota negara Yogyakarta.

Karena itu di Yogyakarta banyak rumah kediaman yang dimiliki para pemimpin dan tokoh Aceh. Setelah Perang Kemerdekaan RI berakhir tahun 1949, sebagian rumah milik tokoh-tokoh Aceh itu dijadikan sebagai asrama pelajar dan mahasiswa asal Aceh.

Rumah yang ditempati Teungku Muhammad Daud Beureueh sebagai Anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA), misalnya. Rumah itu kelak menjadi Asrama Aceh Meurapi Dua. Di asrama tersebut menetap mahasiswa Aceh, yang diantaranya adalah Hasan Muhammad. Belakangan mahasiswa itu lebih dikenal dengan sebutan Dr. Tgk Hasan Di Tiro.

Ketika itu, Hasan Muhammad kuliah di Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta.

Kondisi seperti inilah yang membuat asrama Aceh di Yogyakarta dapat dijumpai lebih dari satu.

Adapun ke lima asrama Aceh yang ada di Yogyakarta itu adalah Asrama Meurapi Duwa. Asrama ini berada di Jalan Sunaryo Nomor 2 Yogyakarta.

Selanjutnya Asrama Putri Cuk Nyak Dhien, yang berada di bilangan Jalan Kartini Nomor 1a Sagan, Yogyakarta.

Ada juga Asrama Meuligoe Iskandar Muda- dulu bernama Asrama Taman Sultan Iskandar Muda. Asrama ini beralamat di Jalan Poncowinatan Nomor 6, Yogyakarta.

Kemudian Asrama Sabena di Jalan Taman Siswa Nomor 11a Yogyakarta, dan Asrama Kebon Dalem yang terletak di Jalan Mangkubumi, Yogyakarta.

Kelima asrama Aceh itu berada di bawah koordinasi organisasi Taman Pelajar Aceh(TPA) Yogyakarta.

Hingga saat ini Asrama Meurapi Dua Yogyakarta berdampingan letaknya dengan asrama mahasiswa Sulawesi Selatan. Semula bangunan itu adalah rumah Andi Mattalata, seorang petinggi militer RI asal Sulawesi Selatan.

Menyaksikan Teungku Daud Beureueh menyerahkan rumahnya untuk asrama mahasiswa Aceh, maka kemudian Andi Mattalata pun berbuat demikian.

Memang, di sekitar dan sepanjang Jalan Sunaryo, Yogyakarta pada masa Revolusi Kemerdekaan RI banyak ditempati para petinggi negara RI. Di seberang jalan dari asrama Meurapi Dua adalah rumah kediaman Jenderal Sudirman.

Sampai tahun 1988, pada setiap Lebaran Idul Fitri, beberapa mahasiswa Aceh selalu berkunjung ke rumah Jenderal Sudirman itu. Hingga kemudian beliau pindah ke Timoho di selatan kota.

Masih di Jalan Sunaryo nomor 8, dulu di situ juga terdapat satu asrama mahasiswa Aceh, tapi kemudian dibeli oleh lembaga pemerintah.

Orang misterius gugat Asrama Mahasiswa Aceh

Harian Serambi Indonesia pernah memuat berita konflik perebutan Asrama Aceh Meuligoe Iskandar Muda selama dua hari berturut-turut, Rabu-Kamis tanggal 1-2 Juli 2015 lalu. Asrama ini terletak di Jalan Poncowinatan Nomor 6 Yogyakarta. Gugatan paling akhir atas pemilikan terhadap asrama mahasiswa Aceh itu sudah berlangsung sekitar lima tahun lalu.

Kami yang pernah tinggal di salah satu asrama Aceh di Yogyakarta, merasa amat prihatin membaca kedua berita itu. Kasus seperti ini sudah pernah terjadi medio tahun 1989 lalu. Saat itu, berdasarkan keterangan M Nur Hasballah alias Tgk Sabi, salah satu asrama mahasiswa Aceh, yaitu asrama Aceh Kebon Dalem yang terletak di Jalan Mangkubumi, telah dirampas orang setelah kalah di Pengadilan Negeri Yogyakarta.

Ketika itu T. Dasrul Dewa Saputra yang menjabat sebagai Ketua TPA, begitu gigih berjuang mempertahankan Asrama Kebun Dalem. Namun dia kalah walaupun dibela oleh pengacara senior T. Marhaban Zainun, SH, yang merupakan tokoh Aceh di Yogyakarta.

Pada saat dilaksanakan eksekusi keputusan pengadilan, penghuni asrama Aceh Meurapi Dua di Jalan Sunaryo Nomor 2 Yogyakarta, ikut membantu mengeluarkan semua barang milik warga asrama Kebon Dalem. Barang-barang itu kemudian diangkut ke aula asrama Putri Tjut Nyak Dhien, yang ada di Jalan Kartini No. 1 A Sagan Yogyakarta.

Pengalaman pahit yang terjadi pada Asrama Kebon Dalem diharapkan tidak kembali menimpa asrama Meuligoe Iskandar Muda Poncowinatan Yogyakarta. Tragedi asrama Aceh Kebon Dalem amat memalukan para mahasiswa Aceh di Yogyakarta, sekaligus menciutkan martabat rakyat dan Pemda Aceh.

Alhamdulillah, akhirnya Asrama Aceh Meuligoe Iskandar Muda atau dikenal juga dengan Asrama Ponco, telah dimenangkan oleh mahasiswa Aceh. Pengacara yang membela Asrama Meuligoe Iskandar Muda bernama Zulfitri Azli, SH.

Sertifikat menjadi salah satu kelemahan pihak asrama-asrama Aceh di Yogyakarta sehingga tidak mampu mempertahankan status kepemilikan. Baik itu sertifikat tanah maupun bangunan. Tentu saja, Pemerintah Aceh harus mencari solusi terkait hal ini.

Tokoh-tokoh Aceh di Yogyakarta

Dalam tulisan ini, saya juga turut memaparkan beberapa tokoh asal Aceh yang pernah berperan di masanya, di Yogyakarta. Mereka adalah Prof. Dr. T. Yakob MD yang pernah menjabat sebagai Rektor Universitas Gadjah Mada atau UGM).

Kemudian Prof. Dr. T. Ibrahim Alfian, MA, yang pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM selama dua periode.

Ada juga Prof. Dr. Dahlan Thaib, SH, M.Hum yang pernah dipercaya menjadi Purek III Universitas Islam Indonesia (UII). Selanjutnya pernah menjadi Staf Penasehat Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono ke X dan Staf Ahli Menteri Pertahanan dan Keamanan di era Mahfud MD.

Tokoh Aceh lainnya yang pernah berpengaruh di Yogyakarta adalah Drs H. Bustanim. Dia pernah bertugas di Dinas Perindustrian DIY, dan menjadi tokoh senior masyarakat Aceh di Yogya.

Nama lain putra Aceh yang tersohor di Yogyakarta adalah Prof. Drs. H. Mu’in Umar MA. Dia pernah menjadi Rektor IAIN Sunan Kalijaga yang sekarang berubah menjadi UIN Sunan Kalijaga. Selanjutnya ada Prof. Drs. H. M. Husein Yusuf selaku Ketua MUI Daerah Istimewa Yogyakarta atau DIY).

Kemudian Prof. Dr. H. Nuoruzzaman Assidiqie MA yang pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Adab IAIN (UIN ) Sunan Kalijaga. Selanjutnya Drs H Mawardi pernah bertugas menjadi Kepala Dinas P&K Kota Yogya.

Tokoh Aceh di Yogyakarta selanjutnya adalah Marhaban Zainun, SH, seorang pengacara senior dan pernah beberapa periode menjabat sebagai Ketua Himpunan Masyarakat Aceh Yogya. Kemudian Zulfitri Azli, SH yang tercatat sebagai Pejuang dan Pengacara Asrama Meuligoe Iskandar Muda (Asrama Poncowinatan) sampai menang.

Ir. Irwandi Yusuf, M.Sc yang pernah dua kali terpilih sebagai Gubernur Aceh juga tercatat pernah tinggal di Asrama Merapi Dua Yogyakarta selama delapan bulan, pada 1987–1988.

Saat itu, Irwandi bersama Abdullah Hamzah dan Fahrurrazi selaku mahasiswa tingkat akhir Fakultas Kedokteran Hewan Unsyiah, sedang melakukan penelitian terhadap sapi perah di Boyolali, Jawa Tengah.

Kisah miris Asrama Meuligoe Iskandar Muda

Hanakom hana salam, tiba-tiba Asrama Meuligoe Iskandar Muda atau Asrama Taman Sultan Iskandar Muda yang sudah dihuni oleh mahasiswa Aceh selama puluhan tahun, tiba-tiba digugat oleh Sutan Suryajaya. Dia merupakan seorang pengusaha.

Terkait hal ini, penulis pernah berbincang dengan seorang sejarawan Aceh, Drs Rusdi Sufi pada Rabu, 3 Mei 2017 lalu. Saat itu, bandul jam menunjukkan pukul 10.30 WIB.

Perbincangan ini berlangsung di sebuah warung kopi, di kawasan Peunayong Kota Banda Aceh.

Rusdi Sufi merupakan penghuni pertama Asrama Meuligoe Iskandar Muda, asrama yang digugat oleh Sutan Suryajaya itu.

Dalam perbincangan itu, Rusdi Sufi menyebut nama konglomerat asal Aceh, Teuku Markam.

Pada tahun 1963, pemilik PT Markam pernah memberikan uang kepada mahasiswa Aceh untuk membeli sepetak tanah serta bangunan di atasnya. Tanah itu terletak di Jalan Poncocowinatan Nomor 6 Yogyakarta.

Sebelumnya tanah dan bangunan beton berarsitektur era kolonial itu dimiliki oleh seorang pria Jawa. Bangunan ini juga sebelumnya ditempati oleh mahasiswi asal Malaysia.

Abdar BA dan Anwar Umar adalah dua orang yang mengurus pembelian, sehingga besar kemungkinan surat atau kwitansi pembelian berada di tangan mereka terutama pada Anwar Umar.

Setelah proses jual beli selesai, lokasi tersebut kemudian langsung diubah menjadi asrama mahasiswa Taman Iskandar Muda. Berpuluh tahun kemudian Taman Iskandar Muda berubah menjadi wisma. Belakangan berubah lagi menjadi Meuligoe Iskandar Muda.

Saat itu, Abdar BA selaku orang yang terlibat dalam pengurusan pembelian tanah dan bangunan itu menginstruksikan Rusdi Sufi untuk tinggal di Taman Iskandar Muda. Dia kemudian tercatat sebagai orang pertama yang menjadi penghuni gedung itu. Sebelum pindah ke situ, Rusdi pernah tinggal sebentar di asrama Kebon Dalem, yang letaknya di selatan Taman Iskandar Muda. Asrama lain yang juga berdekatan letaknya adalah asrama Petinggen yang lokasinya lebih ke utara.

Penghuni Taman Iskandar Muda turut menjadi saksi saat terjadi konflik internal di tubuh Taman Pelajar Aceh (TPA) Yogyakarta pada tahun 1963. Konflik ini turut membuat dualisme kepemimpinan di TPA Yogyakarta. Satu kubu melakap organisasinya sebagai TPA Abdar BA. Sementara yang lain menamakan TPA Idris Adamy. Penyebutan itu cenderung menjurus kepada masing-masing ketua di organisasi tersebut.

Saat itu, TPA yang diketuai oleh Abdar BA mendapat dukungan dari warga Asrama Aceh Sabena di Jalan Taman Siswa. Dia juga mendapat dukungan dari warga Asrama Merapi Dua, dan Asrama Putri Cut Nyak Dhien.

Kubu Abdar BA juga turut mendapat dukungan dari Salahudin Nyak Kaoy, mantan Direktur Bank Exim, Jakarta, serta Anwar Umar yang pernah menjadi pejabat di Aceh. Dukungan untuk Abdar BA saat itu juga diberikan oleh Yusuf Gandhi yang kemudian menjadi pengacara di Yogyakarta, Marhaban Zainun asal Aceh Besar, bekerja sebagai pengacara terkenal di Yogyakarta, serta Adnan Raliby, adik dari Oesman Raliby seorang penulis terkenal, yang berasal dari Aceh Selatan.

Sementara kubu Idris Adamy mendapat dukungan dari mahasiswa asrama Kebon Dalem dan warga Asrama Pentinggen di bagian utara asrama Ponco/Taman Iskandar Muda. TPA yang diketuai Idris Adamy turut disokong oleh beberapa tokoh masyarakat yang antara lain adalah Teuku Bachtiar Panglima Polem (pernah menjadi Bupati Aceh Besar dan penggagas Kota Jantho sebagai ibukota Kabupaten Aceh Besar), Jalaluddin, SH., MH, sebagai dosen senior di Fakultas Hukum Unsyiah, Prof Yusni Sabi (Guru Besar UIN Ar-Raniry), dan Bustanil Idrus serta Hasan Usop.

Dukungan untuk Idris Adamy juga datang dari Teuku Untung Djuwana (pernah menjadi Kepala Perwakilan Aceh di Jakarta dan Bupati Aceh Besar).

Saat konflik internal itu terjadi, warga asrama Taman Iskandar Muda (asrama Ponco) sangat beruntung. Mereka bersikap netral. Akibatnya mereka akrab dan bersahabat dengan kedua kumpulan mahasiswa Aceh tersebut.

Pada tahun 1964, Taman Pelajar Aceh bersatu kembali. Hal ini terjadi berkat inisiatif Dain, seorang Kepala Polisi yang bertugas di kota Kebumen, Jawa Tengah. Dain yang juga putra Aceh sengaja datang ke kota Yogyakarta untuk mempersatukan para mahasiswa Aceh yang sedang bertikai. Pertemuan itu menghasilkan perdamaian antara kedua kubu, sehingga sejak itu Taman Pelajar Aceh(TPA) dikenal sangat kompak.

Tahun 1964, wilayah Yogyakarta ditimpa musim panceklik alias kelaparan terutama di daerah Gunung Kidul. Sebagian masyarakat terpaksa makan gaplek ubi sebagai pengganti nasi. Dengan dikoordinir Abdar BA, mahasiswa Aceh asrama Ponco ikut mengumpulkan dana untuk membantu mereka.

Sementara konglomerat asal Aceh Teuku Markam menyumbang beberapa ton gaplek saat itu. Semua bantuan dikumpulkan di Kepatihan Yogyakarta sebelum didistribusikan. Teuku Markam adalah pemilik PT. Karkam (Kulit Aceh Raya Kapten Markam) yang mengelola berbagai jenis perusahaan, yang sedang maju-majunya ketika itu.

Dalam masa penumpasan G 30 S/PKI (Partai Komunis Indonesia) tahun 1965, peran mahasiswa Aceh Taman Iskanda Muda cukup besar. Asrama itu dijadikan Kantor Rukun Tetangga (RT) dengan Ketua RT seorang mahasiswa Aceh yang bernama Ismail.

Setiap warga yang membutuhkan berbagai surat harus berurusan dengan asrama Ponco. Pada era yang penuh kekacauan itu, berbagai surat keterangan identitas amat diperlukan setiap masyarakat. Apalagi mayoritas warga di Jalan Poncowinatan adalah keturunan Tionghoa atau orang Cina.

Selain menjadi Kantor RT, asrama Taman Iskandar Muda itu juga menjadi Kantor Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) untuk Rayon Jetis dan Tegal Harjo (yang disingkat Rajete). Beberapa mahasiswa anggota HMI yang berasal dari beberapa provinsi, turut bertugas di asarama itu siang dan malam.

Pada malam hari, beberapa mahasiswa asrama Ponco datang membantu penjagaan asrama Aceh Petinggen agar tidak diserang PKI. Pihak penjaga keamanan di asrama Ponco pernah menangkap seorang perusuh yang melempari asrama dengan batu. Belasan tahun kemudian, Ismail yang pernah menjabat Ketua RT di asrama Taman Iskandar Muda, menjadi pengusaha sukses dan meninggal di Hongkong.

Lingkungan di sekitar asrama Taman Iskandar Muda hampir semuanya dihuni orang Tionghoa alias warga Cina. Keadaan ini tidak menjadi problem apapun bagi para mahasiswa Aceh. Mereka dapat bergaul akrab.
Masyarakat Yogyakarta juga simpati terhadap pelajar-mahasiswa Aceh. Mereka mengenal para mahasiswa asal Aceh sebagai sosok yang sopan dan tertib.

Interaksi baik antara mahasiswa Aceh dengan warga sekitar asrama turut memberikan banyak manfaat. Salah satunya adalah pengangkatan Ismail sebagai Ketua RT setempat. Alhasil Asrama Ponco pun disulap menjadi Kantor Ketua RT di kawasan itu.

Saat kisruh PKI tahun 1965 tersebut, setiap hari berduyun-duyun orang Cina datang ke asrama Ponco untuk mengurus berbagai dokumen identitas, seperti KTP, surat izin perjalanan dan sebagainya.

Sosialisasi mahasiswa dengan warga sekitar juga terlihat dari bantuan toke Cina, pemilik usaha Anggur Cap 5000 di Yogyakarta. Toke itu akrab disapa Pak Lim. Dia pernah membantu Taman Iskandar Muda seperti membelu perlengkapan meja kerja Kantor RT dan juga bantuan kue Lebaran.

Mahasiswa Aceh di Taman Iskandar Muda juga pernah mendapat bantuan dari bangsa Eropa. Seorang Belanda bernama Croosh Weeg sangat berjasa bagi para pelajar dan mahasiswa asal Aceh.

Croosh Weeg adalah konsultan Presiden Soekarno. Ia ahli pertanian pada Kebun Raya Bogor. Dia bebas keluar masuk Istana Presiden. Rumahnya berada di Jalan Merdeka Timur No. 14 Jakarta, dan sering dijadikan sebagai tempat penampungan warga muda Aceh yang datang ke Jawa untuk berbagai tujuan.

Beberapa putra Aceh tamatan SMA dimasukkan ke pendidikan AKABRI, sekolah penerbang dan lain-lain. Diantara yang turut dibantunya adalah Adnan Ganto, sekarang menjadi tokoh Aceh yang sangat terkenal.

Bila Croosh Weeg ke Yogyakarta, dia selalu singgah ke asrama-asrama mahasiswa Aceh. Jika diketahui ada bagian-bagian asrama yang rusak, seperti genteng yang bocor dan sebagainya akan diberikan dana untuk merehabnya.

Mahasiswa Aceh yang pulang-pergi Yogya-Jakarta dengan kereta api selalu singgah di rumahnya untuk beristirahat dan memenuhi kebutuhan lainnya.

Dalam percakapan di Peunayong itu, Rusdi juga meriwayatkan tradisi penggantian nama di asrama-asrama mahasiswa Aceh Yogyakarta. Di asrama Merapi Dua, nama-nama asli penghuni diganti dengan nama-nama tradisional orang Aceh tempo dulu, seperti Teungku Kaoy, Syahkubat, Teungku Harun, Teungku Musa. Di asrama ini pula Muhammad Nur sering dilakap sebagai Teungku Sabi. Sementara Rusdi Sufi diberi gelar Raja.

Sementara hal berbeda terjadi di Asrama Kebon Dalem yang berada di Jalan Mangkubumi, Yogyakarta. Di asrama ini banyak penghuni digelar dengan nama aneh dan tidak manusiawi, seperti leumo (lembu), kubiri (biri-biri), kameng (kambing), bui seugot (babi bersisir) dan sejenisnya. Sayang sekali, Asrama Kebon Dalem sudah lebih seperempat abad lalu menjadi milik orang lain setelah dimenangkan hakim di pengadilan pada tahun 1989.

Perbincangan kami tentang nasib Asrama Ponco yang nyaris malang itu berakhir pada pukul 11.30. Ini merupakan cerita terakhir dari Rusdi Sufi tentang Asrama Aceh di Yogyakarta, sebelum akhirnya beliau meninggal dunia.[]

Penulis adalah Teuku Abdullah lebih dikenal dengan sebutan TA Sakti, seorang dosen di Jurusan Pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unsyiah, yang pernah merantau ke Yogyakarta.