Repro ilustrasi

ABU Keuchik melangkahkan kaki menyusuri lorong berbatu yang berada di sayap kiri rumahnya. Jalan setapak itu menjadi salah satu akses bagi warga untuk menuju sawah atau meunasah. Beberapa pohon pinang, beringen, batang kakao, serta perdu bambu menjadi kanopi alam bagi pelintas untuk berlindung dari sengatan matahari.

Angin sepoi-sepoi berhembus ketika Abu Keuchik berjalan pelan menuju meunasah. Alunan suara perdu bambu yang tertiup angin terdengar merdu. Abu Keuchik tersenyum simpul. Sesaat dia berhenti sembari memandang ke areal persawahan warga. Selemparan batu dari tempat Abu Keuchik berdiri terlihat seorang pria memegang ketapel.

“Banyak pipit ya Teungku Don?” Tanya Abu Keuchik.

“Iya, dari tadi bolak-balik kemari. Apa mau ke balai ya Abu?” Pria yang bernama Teungku Don itu kembali bertanya kepada Abu Keuchik.

“Iya. Teungku nggak ikut?”

“Ikut, sebentar lagi saya menyusul. Saya menunggu Rahman dulu untuk gantian jaga sawah,” kata Teungku Don.

“Baik, saya duluan ya. Assalamu’alaikum,” kata Abu Keuchik.

Wa’alaikumsalam.”

Abu Keuchik kembali melanjutkan perjalanannya menuju balai meunasah yang ada di belakang rumahnya. Tak butuh waktu lama, pria berambut ikal itu akhirnya tiba di balai yang disangga dengan belasan tiang kayu. Balai itu sudah tak lagi kekar. Bangunan yang seutuhnya berbahan kayu seumantok itu sudah sedikit oleng ke kiri. Selain menjadi tempat bermusyawarah, balai beratap rumbia tersebut juga sering dipergunakan sebagai tempat pengajian anak-anak Gampong Cot Alue.

Pria itu melirik jam tangan merk Seiko miliknya yang menunjukkan pukul 16.00 WIB. Di atas balai sudah terlihat beberapa pria duduk bersantai. Ada yang sedang sibuk menggulung tembakau. Ada juga yang asyik mengoles kapur di daun sirih.

Assalamu’alaikum”

“Wa’alaikumsalam. Piyoh Abu Keuchik. Cok yang na dilee (silakan masuk Abu Keuchik. Silakan menyantap hidangan yang ada),” ujar salah seorang pria berpeci hitam-kemerah-merahan.

Peu yang na teuman? (memang ada makanan apa?)” Tanya Abu Keuchik.

“Ada pisang goreng, ketela rebus dan juga ubi. Ayah Leman juga membawa sebungkus tembakau Luengputu dan saya membawa sirih,” kata pria itu lagi.

Abu Keuchik tersenyum. Dia kemudian memilih tempat duduk di dekat pintu masuk.

Suara riak air terdengar tak jauh dari balai tempat Abu Keuchik dan beberapa pria Gampong Cot Alue lainnya berkumpul. Berselang beberapa menit, sosok Teungku Don mendekat. Dia menyusuri tangga dan duduk di samping Abu Keuchik.

Ka bereh ngon tulo? (sudah selesai masalahnya dengan burung pipit?)”

Ka Abu, kana Rahman bak rangkang blang (sudah Abu, sudah ada Rahman menjaga sawah). Ho ka yang laen? Hana deuh lom inohat rap Asha? (Kemana yang lain? Belum kelihatan lagi padahal waktu jelang salat Ashar?).”

“Kita geser waktunya saja setelah Ashar. Mari sama-sama ke meunasah,” ajak Abu Keuchik yang diamini oleh semua pria di atas balai. Mereka kemudian melangkah ke meunasah yang berada di depan balai. Setelah semuanya selesai berwudhu’, para pria melaksanakan salat Ashar berjamaah. Abu Keuchik diminta menjadi imam. Sementara Teungku Don bertugas mengumandangkan azan.

Salat jamaah tersebut tanpa makmum dari kaum hawa. Sudah menjadi kebiasaan para kaum hawa di Aceh saat itu melaksanakan salat di rumah masing-masing. Faktor konflik juga meminimalisir masjid dan surau di Aceh untuk melaksanakan ibadah salat berjamaah secara rutin. Namun di waktu-waktu tertentu, seperti ibadah Jumat dan salat Id, rumah ibadah Muslim di seluruh pelosok Aceh mendadak sesak.

Rahman yang sedari tadi diminta menjaga sawah oleh Teungku Don ikut masbuk. Dia bergegas meninggalkan sawah ketika mendengar azan dari corong towa meunasah. Begitu pula beberapa pria lain dari Gampong Cot Alue yang sedari tadi ditunggu kehadirannya ke balai. Alhasil, meunasah menjadi penuh.

Usai melaksanakan ibadah salat ashar berjamaah, kaum pria kembali merapat ke balai. Pertemuan petang itu langsung membahas soal sawah mana yang bakal dipanen hari pertama. Dalam rapat tersebut setidaknya ada 10 petak sawah yang bakal digarap.

Ada 10 kelompok pria yang ditugaskan membantu panen perdana tersebut, yang masing-masing kelompok terdiri dari tiga orang pria. Selebihnya mereka dibantu oleh kaum hawa.

Gampong Cot Alue bukanlah desa yang memiliki jumlah penduduk banyak hingga mencapai ratusan jiwa. Pemukiman penduduk yang dikelilingi areal persawahan tersebut hanya terdiri dari 90 Kepala Keluarga (KK). Dari jumlah itu, hanya 35 KK yang disebut sebagai keluarga normal, yaitu memiliki seorang suami, seorang istri dan beberapa anak. Selebihnya KK yang dimaksud hanya terdiri dari para janda.

Kebanyakan kepala keluarga di gampong ini meninggalkan desa akibat konflik atau bercerai, ada yang ikut mengangkat senjata bersama para pejuang, dan sisanya meninggal dunia karena imbas perang. Ada juga kepala keluarga dari kaum pria yang meninggal karena penyakit dan kecelakaan. Bagi pemuda yang mengenyam pendidikan lebih tinggi cenderung merantau ke kota. Ada pula yang berbakti kepada negara sebagai pegawai negeri atau tentara dan juga polisi.

Meskipun terdiri dari 35 KK, tidak semua pria di Cot Alue dapat ikut serta dalam keumeukoh karena faktor usia atau menderita disabilitas, baik imbas konflik maupun hal lainnya. Hanya mereka yang dianggap prima diperkenankan terjun ke sawah. Meski begitu, Cot Alue memiliki pemuda-pemuda tangguh seperti halnya Seuman, Rahman dan Madi. Mereka adalah pemuda yang berupaya bertahan di desa lantaran tidak ada pilihan lain.

Musyawarah hari itu telah mencapai kata sepakat. Para warga kemudian berbalik badan meninggalkan balai. Ada yang langsung kembali ke rumah, tetapi ada juga yang mencoba mengontrol sawah. Seperti halnya Teungku Don dan Abu Keuchik petang itu.

Matahari belum begitu tersuruk ke barat. Rahman yang sudah terlebih dahulu kembali ke sawah masih gaduh dengan kaleng-kaleng berisi batu kerikil.

“Krenteng…krenteng…krenteng.” Bunyi kaleng riuh disambut kepakan sayap burung pipit. Rahman terus menarik-narik tali di atas rangkang. Kemudian diam sesaat setelah melihat ada sekelompok pipit yang tidak terpengaruh dengan suara gaduh itu. Rahman meraih ketapel yang sedari tadi digantungnya di tiang rangkang. Matanya sejurus membidik kawanan pipit yang masih asyik mencabut bulir-bulir padi di tengah sawah.

“Wusshh….”

Batu sebesar ujung jempol pria dewasa melayang dari ketapel. Sekonyong-konyong satu ekor pipit terkena tembakan. Burung kecil itu menemui takdir, mati di ujung jari Rahman jelang matahari tenggelam di ufuk barat. Teman-teman pipit yang malang itu terbang tak karuan. Di antaranya berdecit sesaat memanggil karib yang tak kunjung terbang. Rahman memerhatikan burung bernasib sial itu. Dia duduk bersimpuh seraya menarik ujung tali rafia untuk membunyikan kaleng. “Krenteng…krenteng…krenteng…”

Abu Keuchik dan Teungku Don mendekati Rahman.

Kiban, peu lo tulo lam blang? (Bagaimana, apakah banyak pipit di sawah?)” Tanya Abu Keuchik.

“Banyak Abu. Dari tadi kawanan pipit tidak mau pergi dari areal persawahan. Saya usir di sebelah sini, mereka hinggap di ujung sana. Untung Madi ikut menjaga sawah di seberang, kalau tidak, padi-padi miliknya bakal banyak yang hilang karena dimakan,” kata Rahman.

“Jangan terlalu keras. Pipit juga makhluk Allah. Mereka juga perlu makan. Biarkan saja setangkai atau dua tangkai diambil burung kecil itu. Ikhlaskan saja,” kata Teungku Don yang diaminkan Abu Keuchik.

Get Abu. Enteuk malam kiban? (Baik pak. Nanti malam bagaimana?) Apakah kita harus menginap di sawah. Banyak babi juga berkeliaran, tikus juga,” kata Rahman.

“Saya tidak terlalu khawatir dengan babi. Di tepi persawahan kaki Bukit Pemancar sudah kita pasangi pagar bronjong. Rapat. Saya yakin babi-babi tak bisa lewat. Jika memang terlalu banyak, kan di atas sana ada juga yang jaga-jaga,” kata Teungku Don lagi seraya tersenyum. Teungku Don bermaksud areal Bukit Pemancar sangat aman bagi babi yang kelaparan karena di sana ada pos para serdadu.

Nyan ka beutoi. Enteuk malam ta eh mantong. (Itu benar. Nanti malam istirahat saja). Singoh keumeukoh gata phon keunong (Besok kita panen padi Anda kena giliran pertama),” kata Abu Keuchik ikut tersenyum.

“Baik Abu.”

Abu Keuchik berpamitan pada Teungku Don dan Rahman untuk kembali ke rumahnya. Dia hendak bergegas mandi untuk mengikuti salat berjamaah di Masjid Cot Alue yang jaraknya dua kilometer dari rumah Abu Keuchik. Teungku Don juga berniat meninggalkan sawah meninggalkan Rahman yang sedang berbenah.

Abu melangkah cepat menuju rumahnya. Sementara matahari kian tersuruk ke arah barat dengan memancarkan warna merah keemasan di langit Cot Alue. Teungku Don mencoba menyusul Abu Keuchik. “Mirah that langet seupot nyo. Sang na yang mate meudarah lom (Langit merah sekali sore ini. Nampaknya ada yang meninggal karena terbunuh lagi),” kata Teungku Don.

“Mudah-mudahan tidak terjadi. Sudah cukup banyak darah tumpah di negeri kita,” timpal Abu Keuchik.

Teungku Don hanya mengangguk. Dia kemudian meninggalkan Abu Keuchik yang sudah sampai di depan gerbang rumah. “Boh ka, awai lon Teungku Don (Ya sudah, duluan saya Teungku Don). Assalammualaikum,” ujar Abu Keuchik.

Waalaikumsalam,” jawab Teungku Don yang terus menatap langit sembari mengurut-ngurut dada.[] Bersambung…

Baca juga:

Kulat [1]

Kulat [2]

Kulat [3]

Kulat [4]

Kulat [5]


Note: Kisah ini merupakan fiktif belaka. Jika terdapat kesamaan pada nama pelaku, kejadian, dan tempat hanya kebetulan semata.


Cerita bersambung ini ditulis oleh Boy Nashruddin Agus dan akan ditayangkan setiap Sabtu, setiap pekannya.