Ilustrasi

ABU Keuchik langsung meletakkan bekal setiba di rangkang sawah miliknya. Sementara Laily dan Zahra berlarian di pematang sawah seraya mengejar belasan pipit yang hinggap di padi. Pria berambut ikal itu kemudian duduk bersila di atas rangkang. Meraih tali rafia yang menjulur di salah satu tiang rangkang. “Krengteng…krengteng….” Bunyi kaleng-kaleng yang digantung di atas sawah milik Abu Keuchik begitu tali rafia itu ditarik.

Bunyi kaleng itu menakuti burung pipit yang sedari tadi sibuk memakan bulir padi. Pipit-pipit itu terbang menjauh dari areal sawah dan kemudian menghilang nun jauh ke timur.

Abu Keuchik kemudian memanggil Zahra dan Laily. Mereka diminta duduk di rangkang bersama-sama Abu Keuchik.

“Sebentar lagi panen,” kata Abu Keuchik. Laily hanya menyimak. Zahra masih sibuk dengan bilah bambu yang dipegangnya. “Sebelum teknologi masuk ke kampung kita, banyak petani yang merontokkan padi menggunakan alat seadanya,” lanjut Abu Keuchik kepada Laily. Zahra kemudian ikut menyimak setelah bilah bambu yang dipegangnya patah.

Abu Keuchik kemudian bercerita bagaimana masa-masa sulit menjadi petani kala dia masih remaja. Semua dikerjakan secara manual. “Tidak ada mesin. Semua pakai tangan. Kami saling bahu membahu memanen padi. Makanya panen kita lama, belum ada irigasi juga seperti sekarang sehingga masih mengandalkan musim penghujan untuk bercocok tanam,” kisah Abu Keuchik.

Dulu, menurut Abu Keuchik, pabrik padi juga tak banyak seperti sekarang. Mereka harus memanggul hasil panen hingga ke ibukota kabupaten. Terkadang mereka terpaksa menjual gabah ke para penampung karena tak kuasa membawanya ke gudang padi di kota.

“Beberapa tahun lalu, ada pengusaha yang mendirikan pabrik penggilingan padi di Meurande. Tak lama kemudian, gubernur meresmikan pabrik padi di dekat gampong kita, dekat sekolah kalian,” lanjut Abu Keuchik.

Zahra hanya mengangguk. Begitu pula Laily.

Dua anak perempuan ini sebenarnya tak begitu mengerti dengan perjuangan kedua orangtuanya menjadi petani. Mereka hanya tahu, setiap panen tiba artinya banyak hiburan yang bakal terjadi. Salah satunya adalah trend membuat suling dari batang padi. Selain itu, musim panen juga menjadi waktu berburu burung bagi sebagian bocah di Cot Alue.

Tak hanya itu, anak-anak juga bakal terhibur dengan aktivitas para pemuda desa yang menguras kolam-kolam di tengah sawah setelah panen tiba. Kolam itu dihuni oleh beragam ikan air tawar, seperti mujahir, ikan seupat, ikan batok hingga ikan gabus. Ikan-ikan ini merupakan sumber protein tambahan bagi sebagian penduduk desa.

Namun, hiburan itu baru datang beberapa hari ke depan. Saat ini, Zahra dan Laily harus rela menunggu para orang tua gampong Cot Alue memanen padi di sawah.

Dari kejauhan terlihat Nek Haja mendekat. Dia menjinjing kresek merah di tangan kanannya. Nek Haja juga membawa rantang aluminium bersusun empat tingkat di tangan kirinya. “Assalammu’alaikum.” Sapa Nek Haja begitu tiba di rangkang.

“Waalaikum salam.” Sahut Abu Keuchik dan dua anaknya.

Kiban Abu? Pajan ta keumeukoh geutanyoe? (Bagaimana pak? Kapan kita panen padi?).” Tanya Nek Haja.

Singoh ta mulai laju. Enteuk ta duk dilee ta meupakat ngon ureung gampong, kiban yang jroh (besok langsung kita mulai. Nanti kita bahas dulu dengan warga, bagaimana yang terbaik),” ujar Abu Keuchik lagi.

Kiban yang jroh,” Nek Haja menjawab.

Dia kemudian membuka bekal rantang yang dibawa lalu mempersilakan Abu Keuchik makan. Di dalam rantang itu menyembul sepotong ikan mujahir goreng berukuran besar. Ikan ini merupakan makanan kesukaan Abu Keuchik. Di rantang lain terlihat menu kuah pliek u yang juga sayur kesukaan Abu.

“Kali ini kita ajak Kak Jah untuk memanen padi di sawah kita. Kasihan dia, inong balee yang harus membiayai dua anaknya sekolah,” kata Abu Keuchik lagi kepada Nek Haja sembari melahap nasi.

“Iya, saya juga sudah mengajak Po Ru, Ma Halimah dan Wa Hajar. Mereka katanya mau membantu memanen sawah kita, nanti gantian kita membantu mereka,” sahut Nek Haja. Nek dalam bahasa Aceh berarti nenek. Namun penyebutan Nek Haja terhadap istri Abu Keuchik bukan semata-mata karena usianya sudah lanjut. Penyebutan Nek kepada Haja lebih dilatarbelakangi karena faktor keturunan. Banyak kerabat Haja di Cot Alue yang memanggilnya “Nek” karena tuha bijeh alias dituakan dalam keluarga karena silsilah.

Tak memerlukan waktu lama untuk Abu Keuchik menyelesaikan makan siangnya hari itu. Sementara Laily dan Zahra masih melahap nasi.

“Baiklah, saya akan ke balai untuk berembuk sawah siapa-siapa saja yang akan dipanen terlebih dahulu. Asssalammu’alaikum.” Abu Keuchik pamit kepada Nek Haja yang sedang sibuk membersihkan piring kotor milik Abu Keuchik.

Wa’alaikumsalam, beuleuheun Abu (hati-hati di jalan pak).”[] Bersambung

Baca juga:

Kulat [1]

Kulat [2]

Kulat [3]

Kulat [4]


Note: Kisah ini merupakan fiktif belaka. Jika terdapat kesamaan pada nama pelaku, kejadian, dan tempat hanya kebetulan semata.


Cerita bersambung ini ditulis oleh Boy Nashruddin Agus dan akan ditayangkan setiap Sabtu, setiap pekannya.