Ilustrasi

BELASAN ekor burung Pipit terbang dari puncak Bukit Pemancar. Sesekali kawanan pipit itu menukik, tak jarang terlihat rombongan pipit itu meliuk-liuk bak ular dan melandai di area persawahan warga. Para pipit itu menyerbu bulir padi yang kian menguning di areal persawahan warga.

Uuuuurrrraaaahhhhh…!” Pekik seorang petani dari rangkang. Rangkang merupakan balai tempat para petani beristirahat. Dindingnya hanya dipasang menggantung setengah ke bawah. Sementara sisanya dibiarkan terbuka. Rata-rata dinding balai dibuat dari pelepah rumbia yang mudah didapat di kawasan Cot Alue. Ada juga yang dindingnya terbuat dari anyaman daun kelapa tua. Sementara tiang-tiang balai dibuat dari batang kelapa atau batang pinang.

Beberapa ekor pipit terbang ke udara ketika mendengar teriakan sang petani. Sementara belasan lainnya masih bertahan dan meloncat dari satu tangkai padi ke tangkai padi lainnya. Petani itu kesal. Dia meraih ketapel yang sedari tadi bergantung di leher.

Wusss…” Kerikil seukuran biji kelereng nyaris mengenai seekor burung pipit. Burung kecil itu terkejut. Dia terbang ke udara. Melayang-layang di angkasa mencari kawanannya.

Wusssh…” Batu kembali melayang di sisi kanan burung itu. Ternyata, petani tadi benar-benar kesal dengan hewan mungil ini.

Krengteng….krengteng…krengteng…” Bunyi kaleng-kaleng berisi batu terdengar riuh dari pematang sawah lainnya. Si pipit panik. Dia terlihat kelelahan terbang dari satu petak sawah ke petak sawah lainnya. Bukit Pemancar masih jauh. Sejauh mata burung kecil ini memandang.

Ada ratusan hektar sawah yang saban hari menjadi sasaran burung pipit untuk menghidupi anak-anaknya. Dari ratusan hektar sawah tersebut, satu petak kecil diantaranya merupakan milik Abu Keuchik. Petak kecil sawah yang ditanami padi ini merupakan warisan keluarga yang kini menjadi tanggung jawab Abu Keuchik.

Banyak warga Cot Alue yang terlihat sibuk jika musim panen tiba. Ini termasuk Abu Keuchik dan keluarga “kecilnya” yang nyaris mencapai selusin itu. Namun ibarat kata pepatah, “banyak anak banyak rezeki”. Jumlah anggota keluarga Abu Keuchik itu justru memudahkan lelaki ini untuk mengelola lahan pertanian, yang luasnya tak seberapa itu. Abu Keuchik biasanya dibantu Pocut Haja menanam dan merawat padi. Dia juga dibantu lima anak perempuannya membajak sawah, mengusir burung pipit, dan mengairi sawah.

Jika musim panen tiba, Abu Keuchik dan seluruh warga desa libur dari semua aktivitas. Mereka ramai-ramai turun ke sawah untuk memanen padi. Biasanya sebelum padi dipotong, para warga duduk di balai desa. Letak balai ini berada tepat di belakang rumah Zahra. Bangunan berkonstruksi kayu ini menjadi tempat warga sering berembuk untuk menentukan sawah siapa yang terlebih dahulu dipanen. Seperti halnya musim panen tahun ini.

Meskipun anggota keluarga Abu Keuchik cukup mampu memanen hasil pertanian secara mandiri, akan tetapi pria itu tetap ikut serta keumeukoh bersama warga lainnya. Menurut Abu Keuchik bukan cuma hasil yang diperlukan dalam setiap musim panen tiba, tetapi juga rasa kebersamaan dan membangun kekompakan warga merupakan tujuan akhir yang hendak dicapai.

Selain itu, memanen padi bersama seluruh warga juga dapat membantu kaum dhuafa yang ada di desa tersebut. Apalagi bagi mereka yang sama sekali tidak memiliki lahan pertanian. Tak hanya itu, bekerja sama memanen padi juga turut meminimalisir serangan hama tikus yang begitu meresahkan para petani.

Kebiasaan ini pula yang membuat areal persawahan warga Cot Alue serupa pasar rakyat ketika musim panen tiba. Pria dan wanita dari semua usia terlihat di sawah. Begitu juga anak-anak seperti Laily, Zahra dan teman-teman sebaya.

Padi yang telah dipotong ada yang langsung diangkut ke tempat penggilingan. Namun tak sedikit petani yang memanggul gabah ke rumah masing-masing untuk disimpan sebelum digiling menjadi beras. Nantinya padi yang disimpan di dalam krong padè tersebut akan diambil oleh pekerja pabrik. Ada pula yang mengantar sendiri beberapa karung gabah ke pabrik padi untuk digiling menjadi beras.

Pipit kecil yang sedari tadi panic mengurungkan niatnya menuju Bukit Pemancar. Sang burung berkelok di angkasa, menjauh dari areal sawah dan menukik di batang rumbia. Tak jauh dari sana, Abu Keuchik berlalu. Ia tersenyum melihat tingkah si petani dan pipit kecil tadi.

Jai tulo?” Tanya Abu Keuchik. “Jai, lagèe lam khauri neu kira ju,” jawab si petani.

Di belakang Abu Keuchik mengekor Zahra dan Laily. Keduanya sibuk mengapit-apit bilah bambu ke rerumputan hijau di pematang sawah. “Abu, kalau lihat anak pipit jangan lupa ditangkap. Saya dan Laily ingin memeliharanya,” kata Zahra.

Abu diam. Dia terus berjalan menuju rangkang. “Keupeu aneuk tulo?”

“Untuk dipelihara, daripada dia memakan biji padi kita,” lanjut Zahra.

“Nanti kita lihat. Kalau ada Abu ambil untuk Zahra. Laily mau?”

“Tentu lah Abu,” jawab Laily sembari terus mengibas bilah bambu sekuat-kuatnya.[] Bersambung

Baca juga:

Kulat [1]

Kulat [2]

Kulat [3]


Note: Kisah ini merupakan fiktif belaka. Jika terdapat kesamaan pada nama pelaku, kejadian, dan tempat hanya kebetulan semata.


Cerita bersambung ini ditulis oleh Boy Nashruddin Agus dan akan ditayangkan setiap Sabtu, setiap pekannya.