Ilustrasi

ABU KEUCHIK sudah lama ingin pensiun dari jabatan kepala desa. Namun banyak warga yang menolak untuk menggantikan posisinya karena rentan risiko. Menjadi keuchik di kawasan konflik harus siap menghadapi segala kemungkinan. Tak jarang ada keuchik yang harus kehilangan nyawa jika terjadi kontak senjata di desa tersebut. Apalagi jika kontak senjata itu menelan korban dari dua pihak yang bertikai. Posisi keuchik juga berisiko ketika tentara berhasil melacak alamat orang yang diburu. Sebagai kepala desa, keuchik merupakan pemegang informasi detil tentang siapa dan apa pekerjaan warganya. Hal inilah yang membuat mereka langsung jadi terduga utama jika alamat seorang pejuang bocor ke tangan serdadu.

Di sisi lain, menjadi keuchik juga sering diminta untuk membantu perjuangan kombatan. Jika menolak, maka akan dicap sebagai pengkhianat atau sering mendapat gangguan. Sementara bagi keuchik yang simpatik dengan perjuangan kombatan kerap bertugas mengatur logistik, membantu menghimpun pajak dan keperluan perjuangan lain. Ada juga keuchik yang menyiapkan identitas palsu kepada para pejuang ketika mereka hendak berbaur dengan masyarakat. Orang-orang seperti ini belakangan disebut sipil atau simpatisan kombatan.

Berada di posisi netral juga kerap berisiko, ibarat tamsilan memakan buah simalakama.

Namun peran seperti inilah yang harus dijalankan oleh Abu Keuchik selama ini. Dia benar-benar harus berada di tengah-tengah kubu yang bertikai, jika tak ingin dilakap sebagai kaki tangan kelompok yang berseberangan.

Abu Keuchik tidak pernah mengeluh dengan perannya seperti itu. Padahal pemerintah ataupun kombatan sama sekali tak memberikan upah atas jabatan yang diembannya itu.

Pernah suatu ketika Nek Haja memprotes peran Abu Keuchik sebagai kepala desa. Sang istri tak rela melihat Abu Keuchik yang kerap disalahkan oleh kedua belah pihak. Dia menuntut Abu Keuchik melepaskan jabatannya sebagai kepala desa. Namun lagi-lagi Abu Keuchik tak kuasa karena tidak ada satupun warga yang mau menggantikan posisinya tersebut. Ujung-ujungnya, Abu Keuchik kembali berperan sebagai keuchik dengan sendirinya.

Selain menjadi kepala desa, sebenarnya Abu Keuchik adalah seorang pengajar di madrasah ibtidaiyah satu-satunya di desa setempat. Sekolah ini berada di bawah Departemen Agama yang setingkat dengan sekolah dasar. Di sekolah tersebut, Abu Keuchik mengajar rupa-rupa mata pelajaran, dari ilmu fiqih, hadist, baca Alquran hingga ilmu sejarah Islam. Setidaknya ada lima mata pelajaran yang ditangani Abu Keuchik di madrasah tersebut.

Abu Keuchik tidak sendirian mengajar di madrasah itu. Guru lain yang ikut membantu adalah Teungku Nyak Sarong. Kemudian ada juga Pocut Fatimah. Namun dua sosok tersebut sudah uzur. Mereka hanya mampu menangani satu atau dua mata pelajaran per satu semester. Abu Keuchik yang berusia lebih muda kerap mencari guru pengganti untuk Teungku Nyak Sarong dan Pocut Fatimah. Upaya ini gagal. Tidak ada guru muda yang mau bertugas di madrasah ibtidaiyah tersebut. Alasannya sederhana. Selain status sekolah yang masih swasta, lokasi madrasah ini juga berada di zona merah.

Cot Alue sebenarnya memiliki banyak kader guru lulusan dayah atau sarjana Fakultas Tarbiyah. Namun kebanyakan dari mereka enggan kembali ke kampung halaman setelah menyelesaikan pendidikan. Konflik menjadi alasan kuat dan tepat bagi para pemuda untuk bertahan di kota.

Madrasah ibtidaiyah tempat Abu Keuchik mengajar merupakan sekolah favorit warga setempat yang letaknya tak jauh dari jalan raya. Semua anak-anak di Cot Alue sudah pasti pernah mengenyam pendidikan di sana. Terlebih sekolah itu menjadi satu-satunya pilihan terdekat bagi anak-anak di kampong Cot Alue, layaknya Laily dan juga Zahra.

Pekerjaan Abu Keuchik tak berhenti sebagai kepala desa dan pengajar saja. Usai mengajar, dia juga bertani seperti kebanyakan warga di Cot Alue. Abu Keuchik kebetulan memiliki sepetak sawah warisan keluarga. Sawah itu berada di dekat kaki Bukit Pemancar, bersebelahan dengan irigasi yang airnya mengalir dekat rumah Laily dan Zahra. Pria berambut ikal itu kerap menghabiskan siang di pematang sawah. Mengusir burung-burung pemakan padi, mencabuti rumput dan ketika pulang menyempatkan waktu untuk mencari pakan ternak.

Ketika matahari nyaris terbenam ke ufuk barat, Abu Keuchik baru bergegas pulang. Dia mengayuh sepeda ontel dan menyusuri jalan kerikil yang kerap dilalui truk reo milik tentara. Tak jarang dia berpas-pasan dengan para serdadu negara. Sesekali Abu Keuchik diperiksa. Namun lama-lama para tentara yang bertugas di sana sudah terbiasa melihat Abu Keuchik dan mulai bertegur sapa dengan pria tersebut.[] Bersambung…

Baca juga: 

Kulat [1]

Kulat [2]


Note: Kisah ini merupakan fiktif belaka. Jika terdapat kesamaan pada nama pelaku, kejadian, dan tempat hanya kebetulan semata.


Cerita bersambung ini ditulis oleh Boy Nashruddin Agus dan akan ditayangkan setiap Sabtu, setiap pekannya.