Ilustrasi

SEJAK mengetahui nama asli Abu Keuchik para pemuda tak lagi cemas duduk di kedai kopi. Mereka bahkan bersikeras menunggu serdadu-serdadu “sikrak balok” untuk memberitahukan siapa sebenarnya Abdurahim tersebut. Namun sekelompok orang yang ditunggu tak pernah terlihat lagi. Hingga suatu hari, beberapa tentara dari regu berbeda datang menyambangi kedai kopi tempat para pemuda biasa menghabiskan waktu kala pagi.

“Di mana rumah Abu Keuchik?” Tanya salah seorang tentara kepada para pemuda, yang disambut oleh para bujang itu dengan saling beradu pandang sembari tersenyum. Dengan tangkas salah seorang diantaranya menunjuk rumah orang yang dimaksud. Tentara itu berlalu. Tanpa insiden seperti hari-hari biasanya.

Sepeninggal para tentara, beberapa pemuda ini tertawa. Mereka lega karena kali ini pria berseragam loreng itu sudah mengetahui bahwa sang kepala desa kerap disapa Abu Keuchik oleh warganya.

Para pemuda selamat. Namun tidak bagi Abu Keuchik. Dia justru dicurigai terlibat sebagai anggota Gerakan Pembebasan Nanggroe karena memiliki dua nama. Padahal sudah menjadi trend bagi mayoritas warga setempat memiliki nama alias, pemberian rekan-rekan sejawat. Nama lain itu juga sering didapat karena ketenaran dan ketokohan, layaknya Abdurrahim sang Abu Keuchik.

“Kenapa bapak sering dipanggil Abu Keuchik di kampung ini? Bukankah nama bapak Abdurrahim?” Selidik seorang tentara. Dia terlihat lebih bersih dibandingkan yang lain. Pakaiannya juga lebih rapi dan bersih.

“Itu panggilan akrab warga kepada saya karena sudah lama menjadi kepala desa di sini,” jawab Abu Keuchik.

“Hmm… Selain menjadi kepala desa, bapak bekerja dimana?”

“Saya mengajar di madrasah ibtidaiyah, di jalan masuk kampung itu. Ada yang bisa saya bantu, pak?”

Tentara itu kemudian diam. Dia melihat ke arah teman-temannya yang berdiri di bawah batang coklat, di halaman rumah Abu Keuchik. Sesaat kemudian, tentara itu mengeluarkan selembar foto hitam putih seorang pria dari kantung bajunya. Pria di foto itu berkumis dan berambut ikal. “Abu Keuchik kenal dengan pria ini?”

Orang yang ditanya terdiam. Mencoba menyelidiki foto yang ditunjuk oleh tentara tersebut. Dia kemudian mengatakan bahwa orang tersebut adalah salah satu warga Cot Alue. Namun, pria ini sudah lama tidak terlihat di desa. “Mungkin sudah lima atau enam tahun,” kata Abu Keuchik.

“Bapak yakin?”

“Iya pak.”

“Baiklah, jika nanti Abu Keuchik melihat pria ini, tolong laporkan ke pos kita. Jumpai saya,” kata tentara itu sembari menyebut namanya. “Jangan lupa pak,” kata tentara itu lagi.

“Baik, pak.”

“Oh ya, jangan sampai dia tahu kalau kami mencarinya. Kalau hal ini bocor, berarti bapak kami curigai sebagai kaki tangan kombatan,” tambah prajurit itu lagi.

“Iya pak,” jawab Abu Keuchik sembari menarik nafas panjang.

Tentara itu berlalu. Seorang temannya yang sedari tadi berdiri di pintu rumah terus memandang tajam ke arah Abu Keuchik. Dia akhirnya mengikuti tentara yang lain. Abu Keuchik diam. Ada bulir keringat dingin terasa mengalir di tengkuknya.[] Bersambung

Baca juga: Kulat [1]


Note: Kisah ini merupakan fiktif belaka. Jika terdapat kesamaan pada nama pelaku, kejadian, dan tempat hanya kebetulan semata.


Cerita bersambung ini ditulis oleh Boy Nashruddin Agus dan akan ditayangkan setiap Sabtu, setiap pekannya.